Senja yang Retak



Sore ini Anyer indah. Setelah perjalanan panjang dari Bandung menuju kemari, akhirnya jemari kakiku bertemu pasir pantai yang lembut. Akhirnya  berada di sore yang tenang, yang tepat untuk menyampaikan perasaan dan merayakan kepergian. Terlalu banyak yang harus aku sampaikan sebelum kepindahanku beberapa pekan lagi. Re harus tahu banyak hal, termasuk perasaanku. Agar nanti, kalau-kalau terjadi sesuatu, aku tidak pernah menyesal karena terlalu sering sibuk diam memendamnya sendirian.

Aku dan Re sudah banyak melewati tahun-tahun bersama. Mulai menginjak remaja hingga beranjak dewasa, kami lewati berdua. Re tidak pernah absen dalam kegiatanku setiap harinya. Rumah kami yang hanya berjarak beberapa blok, membuatku dan Re selalu menghabiskan siang hingga sore dengan penuh canda tawa. Tidak terasa, sudah menyentuh angka belasan tahun sejak pertemuan pertama kami di suatu siang.

Saat aku masih berusia sepuluh tahun, sedang duduk diam di taman komplek sendirian, Re datang seperti pahlawan, memberiku dunia yang baru, menceritakan banyak hal yang belum pernah kudengar sebelumnya. Mulai dari situ, aku dan Re selalu bermain bersama. Berlarian, menaiki sepeda, bermain layang-layang, hujan-hujanan, dan lain sebagainya. Sampai pada akhirnya kami tumbuh remaja, mulai disibukkan dengan soal-soal matematika atau fisika, hafalan sejarah atau ekonomi, memfasihkan Bahasa Inggris maupun bahasa daerah.

Semua kami lewati bersama, sampai pada akhirnya ada Bintang di antara kita.

Ada Bintang di sela-sela malam yang gelap untuk Re. Ada Bintang yang selalu berhasil membuat Re bahagia beberapa tahun terakhir. Di sana, di hati Re, Bintang bersemayam penuh kasih sayang. Rutinitas kami berubah, Re mulai gemar pergi dengan Bintang, bercerita banyak hal dengan Bintang, dan aku hanya mendapatkan sisa-sisa kehidupannya yang tak mungkin didengar oleh Bintang. Aku selalu hadir di sana, di bagian tersendiri di malamnya yang pekat dan sorenya yang gusar.

Waktu itu, pagi dan siang Re adalah milik Bintang. Laki-laki itu akan senantiasa menjemput Bintang hingga mengantarnya pulang. Menemani Bintang menyelesaikan tugas, ke toko pakaian, hingga menyantap makan malam. Pusat semesta Re adalah Bintang kala itu, hingga hari ini. Dan aku, tetap hanya seorang Aster. Bukan siapa-siapa. Tidak lebih dari temannya.



Angin berdesir, membawa rambutmu terbawa, terbang-terbang sebentar lalu diam lagi. Kamu tampan, dua kali bahkan sepuluh kali lipat lebih dari yang biasa dilihat.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang jujur, Aster?”

Kepalaku menggeleng, menatap dalam matamu dan lekas pergi dari palung terdalam di dunia ini. Kalau kamu tahu betapa dalamnya tatap matamu, aku yakin kamu sulit terbangun karena di sana sungguh indah, Re.

“Aku lebih suka lihat kamu bahagia, Re.”

“Tapi, dengan kamu aku juga bahagia. Tidak begini akhirnya, kalau kamu cerita.”

“Re, hidup kadang tidak perlu berjalan sesuai keinginan kita.”

“Tapi, berjalan sesuai keinginan juga tidak ada salahnya, Aster.”

Sekali lagi kepala ini menggeleng. Laut biru membentang di depan, burung belibis beterbangan, kepak sayapnya sesekali terdengar disambut ombak yang menggulung ke daratan. Kaki ini menyaru pasir pantai yang menimbulkan suara gemerisik. Sore ini hampir lengkap karena sebentar lagi senja akan menelan matahari, membuat warna jingga di langit akan berganti merah muda menyala.

“Kalau kamu cerita dari awal, aku akan memilih kamu daripada Bintang.” Ucapmu lirih, aku menatap raut wajah yang merasa bersalah. Dari tempatku berdiri, kamu tampak sangat tampan, Re. Aku suka.

“Kalau kamu akan tetap memilih aku, kamu tidak perlu menungguku jujur tentang perasaan sepuluh tahun ini.”

“Tapi kamu akan tetap ada untuk aku kan, Aster?” Wajah itu menengok, membuat aku kaku untuk menjawab pertanyaanmu. Bagaimana caraku bisa tetap tersenyum bahagia bila melihat orang yang aku cintai selalu memilih orang lain daripada diriku?

Aku menggeleng.

Hangat menyelimuti tangan kecil ini, menggenggam jari-jari yang lebih dulu rapuh sebelum tatap mata sedu milik saya. Aku tahu, tanganmu ada di sana untuk tetap membuat saya tetap berdiri di sini, tidak berlari jauh dan memilih pergi.

“Kalau kamu tidak bisa berjanji untuk terus ada bersamaku, tidak apa-apa. Tapi tolong, jangan benci aku.”

Ombak memecah sunyi. Waktu seperti berhenti. Bahkan dalam keadaan seperti ini, di saat aku punya peluang untuk membencimu, aku tidak pernah berusaha melakukannya.

Kamu terlalu indah untukku, Re.

“Aku tidak pernah benci kamu, Re. Aku hanya benci karena pernah berharap untuk memiliki apa yang akhirnya tidak akan menjadi milikku.”







Comments

Popular Posts