Jadi Orang Dewasa



Hari ini aku bangun sebelum subuh. 

Lekas mengambil air wudhu dan menunaikan dua rakaat setelah adzan berkumandang. 

Kebiasaan yang biasa saja. Tidak ada istimewanya.

Kalau beradu soal siapa yang bangun paling pagi, jelas bukan aku pemenangnya.

Aku memang tidak mengadu tentang kebiasaanku yang paling baik, tapi aku menceritakan kembali tentang kebiasaanku yang paling baru.

 

Dua puluh dua.

Sudah bukan anak remaja.

 

Sudah lebih dari duatahun juga aku hidup jauh dari orangtua. Pergi ke tanah seribu tiga ratus kilometer jaraknya. Jauh dari dekap, meski bukan untuk menetap.

Sudah sering halu biru membayangkan kalau nanti bisa mendekap setiap hari. Membayangkan juga kalau nanti bisa memilih berbagai macam transportasi. Bukan cuma via udara, aku juga rindu perjalanan panjang pakai kereta. Suasana gerbongnya, riuh stasiunnya, aku rindu bisa kembali pulang tanpa menunggu waktu yang tepat. Aku rindu bisa pulang kapan saja.

 

Kurang lebih begini lah.

Aku mengadu soal menjadi orang dewasa.

Soal setelah ibadah pagiku, aku pergi memasak dan menyiapkan hariku.

Soal langkah-langkah kecil yang kumulai lewat hal-hal sederhana yang memang bukan sesuatu yang luar biasa.

 

Kurang lebih begini.

Menanggung isi kepala sendiri. Menyiapkan hari dengan sepi,

 

Cerita ini belum selesai. Pengaduanku soal kebiasaan baru tidak akan bertepi. Karena menjadi dewasa adalah soal waktu. Soal belajar. Soal menerima.

Aku jadi tahu, mengapa banyak orang bilang lebih suka kembali punya umur lima.

Urusan tidur siang adalah masalah paling besar, paling hebat, dan menjadi alasan Ibu marah-marah.


Kurang lebih begini, jadi orang dewasa.

 


Comments

Popular Posts