Pesan - Pesan yang ditinggalkan
Sebelum
pergi, tadi malam, delapan belas mampir sebentar. Katanya, ada yang ingin
dikatakan.
Delapan
belas masih duduk dan menatap langit yang pekat. Malam tetap gelap, tapi tidak
hujan, tidak mendung, tidak ada tanda-tanda kalau cuaca akan merusak bahagia.
Ia mengerjap-ngerjap sebentar, memandangku tajam kemudian. Lamat-lamat aku yang
awalnya tidak peduli menjadi memperhatikannya dengan saksama.
“Kamu
mau bilang sesuatu?” Tanyaku pelan, berusaha tidak memecah hening malam.
Dia
mengangguk. Diam sebentar.
“Terimakasih.”
Katanya.
“Untuk?”
“Terimakasih
sudah banyak bertahan saat bersamaku. Terimakasih sudah banyak berusaha dan
bekerja keras. Terimakasih sudah melewati berbagai fase dan selalu menunjukkan
bahwa kamu selalu baik-baik saja. Kelak, besok pagi, kalau aku sudah pergi,
tolong jadi sama baiknya saat kamu tinggal denganku. Atau kalau bisa, jadi
lebih baik dari saat kamu berusaha membuatku terkesan.Kamu bisa?”
Aku
menunduk, menatap bebatuan taman dan menendangnya pelan. Aku bahkan lupa kalau
aku sudah banyak berusaha, aku bahkan lupa kalau aku sudah lebih kuat, aku
bahkan lupa kalau aku sudah sering menghadapi hari-hari yang berat dengan baik.
“Kenapa?”
Angin berhembus, tidak mengigit, tapi tetap saja malam ini menjadi dingin.
“Waktu
bersamamu, aku sudah sering lupa kalau aku ternyata berhasil melampaui batas
yang kukira. Maaf, sudah banyak menekan hingga kamu tidak suka.”
Pukul
23.00 WIB.
“Sebentar
lagi aku harus pergi, kamu tidak boleh hanya diam di sini. Tidurlah.” Aku
menggeleng enggan. Matanya berkaca-kaca, genggamannya mengerat. Aku menghela
napas dalam-dalam. Kantuk mendadak hilang sejak aku berdiam dan memandang
langit. Rasanya, hamparan bintang tahu kalau aku sedang khidmat menikmati malam
terakhir bersama delapan belas.
“Aku
takut,” Ucapku mengalun. Dia mengangkat daguku yang mendekat ke leher.
Tersenyum penuh makna setelahnya.
“Apa
yang kamu takutkan?”
“Takut,
kalau nanti, besok, dia tidak sepandai kamu dalam hal mengajariku. Takut, kalau
nanti, besok, dia sering membuat aku menangis. Takut, kalau nanti, besok, dia
membawa pergi banyak orang-orang kesayangan.”
“Kamu
tahu, dulu, sebelum aku datang, kamu juga berkata hal yang sama. Kamu takut aku
tidak mengajarimu dengan baik, kamu takut aku membuat kamu menangis, kamu takut
aku membawa pergi orang-orang kesayangan. Tapi, kamu lihat dirimu hari ini? “
Aku
mengangguk. Menatapnya dalam-dalam.
Dia
benar. Kemarin, aku juga tumbuh dengan ketakutan. Kemarin, aku juga tumbuh
dengan tangisan. Dan hari ini, hari terakhir aku melihatnya, aku berdiri dengan
kekuatanku sendiri.
“Sayang,
hidup ini tidak akan hebat kalau kamu hanya butuh rasa bahagia. Tuhan tidak
menciptakan kita untuk sekadar tertawa, bukan?”
“Iya,”
“Sayang,
hari ini kamu kuat karena hari ini kamu sudah melewati banyak hal berat. Kamu tahu,
aku tidak pernah menjanjikan bahagia sebelumnya. Pun juga besok pagi, juga
sama. Tidak menjanjikan apa-apa. Ya
karena kami tidak bisa berjanji. Kamu yang bisa mengubah hidupmu sendiri. Bukan
aku, bukan dia, atau mereka. Tapi kamu, dan waktu.”
Pelan,
bulir air mengalir dari sudut mata. Aku mengeratkan genggaman, merangsek ke
pelukannya kemudian. Dibelai lembut olehnya kepalaku, meyakinkan kalau hari ini
dan besok pagi, hidup akan sama indahnya.
“Sudah
hampir, aku mau kamu tidur.”
Aku
mendongak, mengusap airmata dengan punggung tangan yang masih hangat setelah
digenggam.
“Apa
besok pagi kamu akan kembali?”
“Mungkin,
tapi dengan raga yang lain. Kenapa? Masih takut?”
Aku
menggeleng, tidak.
“Terimakasih,”
kataku.
“Jaga
diri, Sayang.”
Aku
mengangguk. Kami berpisah saat aku pergi tidur.
Dan
hari ini, aku sudah bersama raga yang lain. Namanya sembilan belas. Sebenarnya
aku tidak yakin aku akan sekuat kemarin. Tapi, bukankah yang bisa mengubah
hidupku hanyalah aku dan waktu?
Comments
Post a Comment