Melepas Dekat.
Dulu, setahun lalu, kepergian adalah sesuatu yang dirayakan.
Ada rasa bangga di balik tepuk tangan yang menggema. Ada bahagia yang dirayakan
karena berhasil melepas dekat.
Dan sekarang, aku mempertanyakannya pada diriku sendiri—pada
hati yang pernah memohon pergi setengah mati.
“Apa aku benar-benar bahagia meninggalkan rumah dan semua
orang-orangnya?”
Aku akan menggeleng keras. Akan merengek. Akan menggerutu
atas kebodohanku untuk menyambut jarak yang semakin menjauhkanku dengan
raga-raga yang hangat tubuhnya selalu membuatku nyaman.
Pergi itu harus.
Kita harus dewasa dengan belajar untuk berdiri sendiri.
Tapi, pergi rupanya tidak sesederhana itu. Menyambut jarak yang berjauhan sama
saja menyambut kesendirian. Aku tahu aku punya Tuhan, aku tahu aku punya hati
dan doa-doa dari orang kesayangan. Aku tahu aku punya semua perbekalan mental
yang dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, saat merayakan pergi.
Pergi sama dengan menjabat banyak tangan baru, dan hidup
tanpa gema suara-suara lama yang biasa mengendap di dalam kepala.
Berulang kali aku membuat semua tampak mudah, tampak
baik-baik saja. Tapi berulang kali aku berbohong pada diri sendiri. Pergi tidak
pernah semudah itu. Meninggalkan sebagian cinta dan kenangan tidak pernah
sederhana. Tapi pergi akan menjadi bagian dari hidup ini. Melepas dekat akan
jadi makanan sehari-hari. Karena dunia fana, karena kita juga. Karena
orang-orang dalam hidup kita kadang hanya datang untuk pergi kemudian.
Untuk kesekian kalinya, aku mengulang pada diri sendiri.
“Pergi adalah tentang cara kita kembali baik-baik saja di titik yang berbeda.”
Bila datang berakhir dengan pergi, maka pergi juga
sebaliknya. Setelah meninggalkan hiruk pikuk kesayangan, pergi akan
mendatangkan hal-hal yang mengagumkan. Kadang, sebagian dari mereka yang datang
akan terus tinggal. Entah suatu saat, kapan perginya, kadang mereka menetap dan
membuat nyaman. Kadang sebentar, kadang dalam jangka waktu yang lama, yang
hanya dipisahkan saat raga tanpa nyawa.
Pergi memang tidak pernah mudah. Menyambut hari-hari yang
sepi adalah sesuatu yang menyakitkan. Tapi, pergi itu harus.
Karena pergi adalah tentang menemukan diri sendiri.
Comments
Post a Comment