Dari Luka ke Luka : Sebuah Perjalanan

Dua tahun berlalu dari waktu terakhir aku menuliskan cerita dalam diary digital ini. 

Dua tahun yang di dalamnya banyak rupa dan warna. Kadang merah merona, kadang putih melati, kadang gelap kelabu. Dua tahun yang darinya aku belajar bukan hanya soal mencari siapa aku, tapi mencari mau pergi kemana diriku. 

Ada banyak kejadian yang membuat aku bahkan hampir setengah tahun selalu berusaha berdiri sendiri. Ada banyak hal yang membuat raga ini harus bisa tersenyum di tengah berbagai cerita baik pahit manisnya dunia. Kadang ada gejolak bahagia, kadang kesedihan melanda. Ya, tidak mudah. 

Tapi aku bangga, pada diriku yang sekarang sudah bisa mulai berjalan lagi. 

Aku bangga pada kisah sedih nan pilu yang berhasil kutinggal dan berlalu. 

Aku bangga ternyata aku mampu. 


Ternyata benar, dua puluh lima bisa jadi masa transisi terberat seseorang. Melewati kerasnya hidup ini, dua puluh lima bisa jadi angka yang luar biasa traumanya. Ada banyak pilu yang kutahan sendiri, kupendam setiap malam, dan kutelan pahitnya dengan susah payah. 

Duniaku tidak runtuh, dia masih di sana, masih berdiri dengan jemarinya yang membiru akibat terlalu lama tenggelam. Peluhnya berjatuhan karena usahanya keluar dari berbagai kesulitan. Kakinya bergetar hebat, hampir jatuh, luluh lantah, tapi bumi ini baik. Di dalamnya ada manusia-manusia hebat yang sifatnya bak malaikat. Tiap harinya silih berganti, terus bergulir, berbagi, menemani, sehingga duniaku bisa berdiri lagi. 

Duniaku masih di sana, dia sekarang pelan pelan menemukan dirinya. Pun juga aku. Aku juga menemukan diriku. Menemukan kemana angin akan membawaku. Bukan hanya duniaku, bahkan aku juga terseok-seok keluar dari sulitnya berbagai ujian yang dipersembahkan. Tuhan tidak banyak memberi kisi-kisi pada hamba-Nya yang rapuh ini. Tapi juga Tuhan tidak membiarkan dua manusia yang rapuh ini saling pergi. Tuhan menjaganya, menjaga ikatan yang berusaha dirakit perlahan. Tuhan memberikan banyak kekuatan, membangunkan dua manusia yang tertidur di mimpinya. Realita yang menyakitkan, tapi Tuhan selalu ada untuk memeluknya erat. 

Sekarang, kami melewati tahun-tahun yang sulit itu berdua. Melewati cerita - cerita yang entah bagaimana alurnya, entah bagaimana caranya, pokoknya aku keras kepala soal bertarung untuk bahagia. Perlahan tapi pasti, nantinya, akan ada cerita indah yang ukir bersama. Setelah segala pahit dan sakit yang berhasil kami arungi, aku percaya bahwa Tuhan juga simpan manis dan sembuh untuk kami berdua. 

Comments

Popular Posts