Perjalanan Memahami
Melanjutkan pagi yang indah di Surya Gemilang.
Waktu itu, waktu aku menangis, sebenarnya aku malu bukan
main. Kita memang tidak pernah terlalu tua untuk menangis, tapi aku tetap
memandang itu memalukan bila dilakukan di depan orang lain. Berulang kali
tangan rapuh kepala sekolah menepuk bahuku, usahanya menguatkan agar aku bisa
ikut bahagia bermain di sana.
Usai apel pagi, aku berbaur dengan ibu di dapur. Pagi ini
kami akan belajar membuat kue lumpur. Nantinya, kue lumpur ini akan dijual kepada
wali murid yang sedang menanti jam pulang. Bagi mereka, anak-anak hebat ini,
pelajaran sesederhana apapun adalah hal yang luar biasa dan berguna. Diharapkan,
suatu saat mereka mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat di masa yang akan
datang.
Kami tidak hanya berdua, salah seorang guru wanita dengan
kacamata tebalnya akan menjadi teman membimbing mereka pagi ini. Setelah segala
bahan dan perlengkapan disiapkan di dapur sekolah, yang letaknya di bilik
belakang ruang guru, mereka masuk satu persatu. Pagi itu, bersama kurang lebih
tujuh siswi kami bersama-sama membuat kue lumpur. Seperti yang kita tahu di
awal tentang sekolah ini, kondisi murid-murid yang mampu belajar memasak ini
jelas tidak sempurna.
Sebagian besar dari mereka berusia dua belas sampai lima
belas. Kali ini, teman di pagi hari adalah mereka yang tunagrahita. Karena pengalaman
pertama, aku jelas tidak mengerti apa beda mereka dibanding kita. Sekilas,
mereka sangat aktif dan baik-baik saja. bila kita mengenal anak berkebutuhan
khusus tunarungu, netra, atau sejenisnya, kali ini mereka punya indera yang
lengkap dan berguna dengan baik. Kondisi mental mereka juga tidak buruk. Kami bahkan
bisa berinteraksi dengan sangat baik satu sama lain.
“Panggil aja, Mbak Dara.” Ujarku memperkenalkan diri. Mereka
mengangguk, berburu jabat tangan dan sibuk memperkenalkan diri.
Dengan seragam sekolah menengah, rok biru tua dan kerudung
yang sedikit berantakan, penampilan mereka tampak biasa saja. Celoteh mereka,
canda dan tawa mereka luar biasa menghibur. Rasanya, aku ingin selalu menjadi
teman mereka setiap hari. Bukan hanya hari ini, aku ingin menjadi teman cerita
untuk esok, dan esoknya lagi. Aku ingin menjadi bagian dari mereka setiap hari.
Oh
Tuhan, bila aku punya kesempatan dan bisa memilih jalan hidupku hari ini, bila
terlahir kembali di dunia, aku sangat ingin menjadi teman cerita yang setia
untuk mereka.
Keceriaan mereka memenuhi
ruangan, proses belajar membuat kue lumpur berjalan dengan baik. Bukan hanya
mereka, seorang murid perempuan ikut masuk ruangan kemudian. Tubuhnya kurus,
rok yang digunakan berwarna abu-abu kebiruan. Jelas, kita bisa menebak bersama
bahwa dia akan jadi yang paling tua di sini. Usianya sekitar lima belas tahun. Dia
datang dengan senyum dan menjabat tangan lembut.
Matanya seolah berbicara, kalau
dia akan jadi bagian dari belajar pagi ini.
“Namanya Ave, dia tunarungu dan
tunawicara.” Aku menjabat tangan kurus itu. Senyum indah tidak memudar di sana.
Di balik mata yang membara karena semangat, ada kalimat yang tertahan yang
tidak mampu ia ucap.
Tuhan,
aku harus kuat setelah ini.
Aku mengangguk kemudian,
menyerahkan beberapa peralatan memasak padanya. Sesekali aku mengamati Bu Farah
berkomunikasi melalu mimik muka dan isyarat yang digerakkan tangannya. Aku
tertegun, Ave pandai sekali. Aku tahu dia lebih muda daripada beberapa anak
sekolah menengah tadi, tapi Ave jelas bisa mengerjakan dengan baik tanpa perlu
dijelaskan banyak hal.
“Ave ini paling pintar. Ibunya
di rumah punya usaha catering. Wajar kalau dia bisa memasak. Lihat, dia
terampil kan?” Ucap Ibu seolah bisa membaca pikiranku. Aku manggut-manggut. Apa
yang kita lihat sebagai keterbatasan jelas bukan halangan untuk mereka. bagi
Ave, tidak mampu mendengar dan berbicara juga bukan halangan untuk mengusahakan
sesuatu.
Kami sibuk membuat kue lumpur,
sibuk bercanda kemudian. Anak-anak tunagrahita masih tetap terlihat biasa saja
untukku. Mereka bercanda selayaknya anak remaja lainnya. Tapi ketika Bu Farah
memberikan perintah tertentu, mereka tidak mampu menangkap perintah itu dengan
baik. Aku terdiam, berusaha memahami mereka lewat mata yang memperhatikan.
Ternyata, ini yang membuat mereka harus menempuh pendidikan di sini. Mereka butuh
perhatian lebih dan khusus dalam hal menangkap informasi.
Kue lumpur hampir siap,
anak-anak berebut mengemasnya di meja. Ave masih terus menunggu kue yang
dipanggang. Aku menghampirinya, berdebar karenaa khawatir apakah kami mampu
menjalin interaksi yang baik.
“Ave,” Aku menepuk bahunya,
seolah menyuarakan namanya. Membuatnya memalingkan wajah dari wajan panggangan.
“Kata Bu Farah, kamu jualan ya?”
Mati-matian aku menggunakan bahasa isyarat dan mimik muka yang mudah ia pahami.
Ave mengangguk cepat. Aku tersenyum lega, kemampuanku tidak buruk untuk itu
rupanya.
“Ave punya online shop mbak lewat WA, jualan botol dan baju. “ Suara Bu Farah
terdengar di balik badanku. Rupanya beliau mengamati interaksi kecil ini. Aku tersenyum
memandangnya.
“Kamu punya online shop?” Tanyaku lagi ingin tahu.
Ave mengangguk malu-malu. Wajahnya tersipu saat aku mengacungkan kedua ibu
jariku, kamu hebat Ave.
Ave hebat, mereka yang sedang
mengemas makanan juga hebat. Apa yang kita pandang sebagai kekurangan,
nampaknya bukan sesuatu yang benar-benar kurang di hidup mereka. Mereka
menikmati, menjalani hidup dengan baik. Kita, yang serba cukup malah lebih
sering merasa kurang. Tidak berhenti mengeluh kurang ini dan itu. Padahal, cukup milik
kita adalah lebih dari cukup sebenarnya.
Perjalanan ini belum selesai,
selanjutnya akan diceritakan lewat “Mengenal Malaikat di Surya Gemilang”.
Comments
Post a Comment