Perkara Berbagi
Akhir-akhir ini aku sudah
kembali dalam kehidupan sosial media seperti yang kujalani sebelumnya. Aku
kembali membangun sosialisasi dalam lingkaran yang kusukai. Seperti yang kita
ketahui, semakin kita bertambah usia, maka lingkaran pertemanan akan semakin menyempit.
Tapi, jangan salah paham dengan arti kata “sempit” sesungguhnya.
Aku masih menjalin koneksi
dengan teman lama, masih saling bertukar kabar atau sekadar mengomentari
kehidupan yang mereka tunjukkan. Aku masih sama. Bedanya, aku tidak selalu pergi
dengan mereka semua secara bersamaan. Tidak pergi hanya untuk membuat dunia
tahu bahwa aku memiliki kehidupan yang menyenangkan. Entah, aku kadang lebih suka menghabiskan
banyak waktu di rumah. Tentunya ini terasa menyenangkan sebelum pekerjaan akan
menjadi hambatan ‘leyeh-leyeh’ beberapa minggu lagi.
Banyak hal yang kulakukan, aku
pergi dengan banyak orang, ke banyak tempat. Lingkaran pertemanan yang semakin
menyempit, membuat aku lebih tertutup dan banyak menjaga privasi pada
orang-orang yang tak begitu kukenal. Aku memiliki banyak teman, dengan
lingkaran yang sempit (jadi aku pergi bersama satu-dua orang saja) meski aku memiliki
puluhan orang dalam lingkaran pertemanan, membuat orang yang tidak mengenal
kehidupanku akan melihat aku sebagai seseorang yang antisosial.
Padahal, jelas tidak.
Jumlah temanku sejauh ini tidak
bisa kuhitung. Meski terlihat jarang berkumpul atau pergi dengan lingkar
pertemanan yang besar (maksudku, nongkrong bareng banyak orang), temanku tetap
tersebar di mana-mana. Dan bagiku, berteman lebih dari sekadar saling mengenal.
Tapi, saling memahami. Jadi, ketika aku pergi dengan seorang teman atau
menjalin pertemanan dengan seseorang, maka kami akan benar-benar saling
mengerti dan belajar memahami.
Pertemanan bukan sekadar pergi
bersama, bercerita tentang cinta, pergi berbelanja, atau sejenisnya. Pertemanan
adalah tentang saling percaya dan mengerti. Kalian tahu, banyak orang yang hari
ini pergi dengan lingkaran yang besar, lalu kemudian pulang dan diantara mereka
tidak terjadi apa-apa selain berbagi foto atau cerita cinta. Untukku sendiri,
berteman adalah tentang bagaimana kita menjadi bagian dari kehidupan orang
lain. Adalah tentang bagaimana kita menjadi separuh mereka.
Hal yang membuat aku terlihat
tidak memiliki kawan bicara adalah hidupku yang tertutup dan tidak tampak dari
sosial media. Aku jarang memposting foto bersama teman, jarang membagikan
cerita harian bersama mereka, jarang menunjukkan dengan siapa aku menikmati
hari. Orang-orang lama pasti cukup mengenalku. Makin hari, aku makin enggan
menunjukkan kehidupan pribadiku. Menurutku itu bukan sebuah tontonan yang harus
dilihat banyak orang.
Ketika aku pergi dengan
orang-orang terdekatku, maka aku akan menikmati itu. Aku akan membiarkan semua
waktu berjalan menyenangkan. Aku akan menikmati tiap detik yang sulit kuulang.
Aku akan membuatnya sebagai rekaman manis di otakku sendiri. Kehidupanku adalah
milikku, bukan milik banyak orang yang mengikuti akun sosial mediaku.
Mungkin kadang kala aku
membagikan sesuatu, menunjukkan kehidupanku dari sisi yang berbeda, yang
menurutku punya banyak manfaat di baliknya. Tapi, itu hanya sekali-dua kali aku
bagikan di akun sosial media. Entahlah, rasanya hidup lebih bahagia bila kita
kembali normal. Kembali menjadi diri sendiri dan seperti pada umumnya.
Sayangnya, kata “pada umumnya” hari ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Hal
yang “umum” hari ini adalah membagikan kehidupan, dan hal yang tidak “umum”
adalah menyembunyikannya.
Akhir-akhir ini, dunia berubah
sebegitu drastisnya.
Dan aku masih ingin menjadi
penghuni bumi yang biasa-biasa saja.
Comments
Post a Comment