Mengawali Pagi di Surya Gemilang

Sebuah janji yang terpenuhi, sebuah perjalanan yang dimulai.

Beberapa jam yang terasa singkat, terasa melemahkan sesaat.

Menguatkan kemudian.

.

Waktu itu, pagi yang dingin di bulan Oktober, aku menunaikan janjiku. Janji yang sudah kubuat sejak beberapa bulan sebelum resmi dinyatakan lulus oleh pihak kampus.
Aku mau mengabdi.
Bukan menjadi pegawai negeri sebagaimana seharusnya, tapi menjadi teman cerita yang membawa bahagia.
Dan aku sudah menunaikannya, tahun ini.

.

Ibuku adalah seorang guru di sebuah sekolah menengah. Dimana ibu awalnya mendapatkan jadwal mengabdi rutin di sebuah sekolah luar biasa untuk sementara. Tidak lama memang, tapi ibu jatuh cinta berada di sana. Di tengah-tengah murid istimewa, beliau bisa berbagi segalanya. Mulai dari ilmu, cerita, suka, duka, dan lainnya.

Mendengar cerita beliau setiap harinya, membuatku juga merasakan bahagia. Meski aku belum mengenal mereka, belum pernah bertatap muka, tapi aku menyukai setiap detail kegiatan yang ibu ceritakan.

Oh Tuhan, mungkin ini yang disebut jatuh cinta.

Mendengar keseharian ibu yang mengasyikkan, belajar banyak hal bersama mereka yang berkebutuhan khusus, membuatku lebih excited dari yang beliau kira. Aku membuat janji pada semesta, kelak, kalau aku punya waktu libur yang panjang, aku akan ke sana.

Bertemu mereka.
.
Setiap saat  menanti, menghitung hari, menyambut pagi dengan tidak sabar di dada. Hingga waktunya tiba. Pagi itu, aku pergi ke sana, resmi menunaikan janji. Menjadi teman cerita untuk mereka.

Pukul tujuh pagi  aku berangkat pergi. Melewati pagi yang dingin dengan senang hati. Aku tidak sabar bertemu raga yang belum pernah kutemui sebelumnya. Jantung ini berdegub kencang, hampir mencelos tak karuan. Aku gugup, takut,  khawatir.

Oh Tuhan, mungkin ini yang disebut jatuh cinta.

Perjalanan menuju ke sana cukup jauh. Kurang lebih tujuh belas kilometer jauhnya. Di sebuah daerah yang belum pernah kujangkau sebelumnya. Di tengah pemukiman yang tidak padat penduduk, dengan persawahan dan kebun menghiasi kanan kiri jalan. Transportasi umum belum banyak. Atau tepatnya mungkin tidak.

Udara pagi masih dingin, masih menusuk kulit karena berhasil menembus jaket rajut. Suasananya masih damai, tenang, dan membahagiakan. Sepanjang jalan, bibir ini tidak bisa berhenti tersenyum kegirangan. Beberapa menit lagi, aku akan bertemu jiwa-jiwa yang murni, menatap banyak pasang mata yang penuh tanda tanya dalam benaknya. Sebentar lagi aku bukan sekadar gadis tamatan kampus kedinasan. Aku akan menjadi bagian dari mereka, bermain di sana.

Hari itu hari Selasa. Jadwal yang bisa ibu sisihkan untuk berbagi dengan mereka.

Kami sampai di sana setelah beberapa puluh menit perjalanan. Letaknya menyatu dengan sebuah sekolah swasta. Aku melewati jalan berkelok sebelumnya, hingga akhirnya  bisa sampai di sana.

Sekolah Luar Biasa “Surya Gemilang”.

Tidak cukup besar untuk ukuran sekolahan. Ada sebuah lapangan upacara berukuran kecil, beberapa ruang kelas yang berderet, sebuah ruangan yang hingga kini aku belum tahu apa fungsinya, ruang guru yang menyatu dengan ruang kepala sekolah dan ruang konseling, serta beberapa rumah yang kelak akan menjadi asrama.

 Aku menyusul ibu yang sudah lebih dulu tiba. Membuntuti beliau sejak pertama. Aku masih gugup dan penuh takut. Takut, kalau aku tidak begitu baik untuk jadi teman mereka.

Suasana lengang saat aku datang. Banyak tatap mata yang bertanya, yang sudah kuduga sejak sebelum menginjakkan kaki di sini. Beberapa mata sayu terlihat menyambut penuh senyum bahagia, sibuk berebut salam saat suasana mulai bersahabat setelahnya. Mereka mengenal ibu dengan baik. Mengingat nama ibu di benak mereka, padahal ini kali pertama ibu berkunjung setelah sekian lama sibuk dengan kegiatannya menjadi guru di sebuah sekolah menengah.

Kamu tahu, apa perasaanku setibanya di sana?

Hancur dan bersyukur di satu waktu yang sama.

Aku hancur, karena entah sebabnya. Air mata ini, seperti tertahan di pelupuk mata. Sudah siap tumpah beberapa saat lagi. Sungguh, menahannya adalah sebuah tantangan yang berat. Bahkan, ketika aku menuliskan cerita ini, aku masih ingin meneteskan airmata. Aku masih merasa berat di dada. Entah, apa sebabnya.

Kami disambut hangat oleh mereka, oleh guru-guru di sana, oleh bapak-bapak berusia setengah abad dengan kulit kecokelatan mulai mengerut dan senyum yang mengembang. Suaranya berat, sedikit serak dengan nada yang menyenangkan. Berulangkali beliau ucapkan terimakasih.

Katanya waktu itu, “Terimakasih sudah bersedia kembali ke tengah-tengah mereka.” Ibu mengangguk, aku mengaduh. Mengaduh karena rasanya airmata ini sudah tidak sanggup ditahan pelupuk mata. Mengaduh karena rasanya sudah siap menangis cukup lama.

Rasanya, sudah cukup berat dadaku merasa sesak sejak pertama kali tiba. Udara-udara terasa sulit masuk memenuhi paru-paru. Rasanya, aku sudah siap menangis. Sudah siap tumpah.

Oh tidak, aku kalah.

Berulang kali aku mati-matian menahan diri. Mengulum senyum seadanya, berusaha sekuat mungkin di depan bapak kepala sekolah. Aku tahu, aku tidak mampu menahan airmata cukup lama. Tapi, aku malu. Aku sudah bukan anak-anak di sini. Sudah hampir menginjak kepala dua setengah tahun lagi. Aku tidak boleh menjadi cengeng hari ini. Tidak.

Kami dituntun keluar ruangan, menyaksikan secara langsung proses apel pagi yang diikuti seluruh siswa-siswi. Aku masih tertegun. Memperhatikan raga-raga yang berdiri dan menjalani apel pagi dengan khidmat. Pertama kalinya sejak pagi tadi, aku melihat seluruh murid secara langsung. Semuanya. Istimewa. 

Berulang kali aku menengadahkan kepala, menahan bulir air bening itu jatuh dari mata. Melihat mereka hari ini, menamparku di saat yang sama. Aku tidak boleh menangis hari ini, apalagi di depan mereka. Mataku mulai berkaca-kaca, pandangan mengabur seketika. Rasanya, hati ini teriris-iris.

“Tuhan, sudahkah aku banyak bersyukur atas semua karunia? Sudahkah aku banyak mengucap terimakasih daripada mengeluh penuh kecewa? Sudahkah aku menjadi manusia yang baik? Lebih baik dari mereka? “

Pertanyaan itu berputar di benakku. Mengelilingi tiap sudut pikiran yang dari tadi tidak beranjak karena pemandangan di depan mata. Dan bersamaan setelahnya, bapak kepala sekolah berhasil membuatku meluapkan segalanya. Aku kalah dari diri sendiri, sungguh.

“Kamu lihat? Mereka ini ladang pahala, tempat malaikat memberi banyak kebaikan. Dari mereka, banyak doa yang terkabul. Mereka, arti sesungguhnya dari malaikat-malaikat yang hidup tanpa sayap.”

Tuhan, aku kalah hari ini.

Sudah sekuat tenaga menahan tangis, membiarkan sesak hinggap di dada. Tapi, rupanya hati memang terlalu lemah tentang perasaannya. Aku tumpah. Aku mengalirkan sungai dari sudut mata.. Aku, benar-benar lemah hari ini.




Cerita belum selesai, selanjutnya akan disambung dalam “Perjalanan Memahami”


Comments

Post a Comment

Popular Posts