Aku Menemukan Diriku



Sudah hampir berakhir, memang. Dua ribu delapan belas sudah hampir selesai. Tapi, sepertinya memunculkan resolusi-resolusi baru juga tidak ada salahnya. Akhir-akhir ini aku menemukan banyak hal baru yang ingin aku wujudkan untuk membuat tahun 2018 berakhir dengan banyak pencapaian sederhana yang berhasil menjadi nyata.

Lagi-lagi, di penghujung tahun ini aku memilih rehat dari sosial media sejenak. Aku mungkin sudah tidak memiliki kesulitan untuk mengontrol diriku memposting sesuatu yang tidak penting. Aku juga tidak punya masalah untuk melupakan sosial mediaku sejenak saat menikmati waktu-waktu yang baik bersama orang-orang terdekat. Sayangnya, aku masih memiliki masalah untuk satu hal.

Membaca.

Terdengar sepele dan ringan. Bukan sebuah masalah yang krusial untuk seseorang yang menginjak usia dua puluh tahunnya sesegera mungkin. Tapi, menjadi sebuah rutinitas yang membuatku lupa tentang aku yang sebenarnya. Aku sendiri seringkali memilih membaca sesuatu via sosial media. Membaca buku lewat pdf, membaca cerita di wattpad, membaca puisi-puisi di steller. Aku lupa apa yang biasa menjadi kesukaanku. Aku lupa bahwa aku punya hobi yang sudah lama tertinggal di belakang bersama masa lalu dan kenangan.

Membaca buku.

Buku bukan lagi menjadi barang yang selalu kubawa kemana untuk sekadar memastikan bahwa aku tidak akan linglung di waktu luang. Buku menjadi barang yang menumpuk dan berulang kali kutunda dalam urusan membacanya. Bahkan ada tujuh novel yyang kubeli sejak tahun lalu dan belum habis kubaca. Jangankan kubaca,  aku bahkan hanya menyentuhnya saat membuka plastik pembungkus pertama kali, juga memberinya tanggal pembelian di halaman depan.

Parah bukan? Sudah dua tahun semua kubiarkan berdebu begitu saja.

Semua berjajar di rak buku tanpa pernah kusentuh sedikitpun. Ya, kecuali novel karya penulis favoritku yang aku bahkan tidak sanggup melahapnya hingga halaman seratus. Padahal saat aku menginjak usia belasan, aku mampu menyelesaikan novel yang hampir seribu halaman dalam waktu kurang dari seminggu di tengah padatanya jadwal kuliah. Sekarang? Hahaha novel dua ratus halaman rasanya susah diselesaikan dalam waktu seminggu.

Beberapa hari lalu aku memilih menghentikan semua aktivitas sosial mediaku. Berusaha meninggalkan sesuatu yang membuatku meninggalkan banyak hal. Aku kembali tenggelam dalam cerita-cerita fiksi yang orang buat, kembali selalu tidak berkutik saat sibuk membaca, kembali menjadii diriku yang sudah lama tidak aku temukan di tempat yang sama. Aku kembali menjadi orang yang selalu berpikir untuk membawa sebuah buku di tasnya, kembali sering sibuk berangan karakter seperti apa yang pantas memerankan tokoh utama di novel yang kubaca.

Aku menemukan semuanya. Semuanya yang pernah hilang. Sifat kutu bukuku, sifat pemimpiku, semuanya. Aku menemukan diriku yang pernah tertinggal di belakang. Di balik semua pandangan orang tentang sifat kutu buku yang tidak asik, aku menikmatinya. Aku tidak peduli dengan banyak pasangan yang asyik berpacaran, tidak peduli dengan kesendirian yang membuat aku terlihat seperti orang yang akan menjomblo selamanya, tidak peduli dengan sederet cerita tentang dunia malam yang teman-temanku habiskan. Sungguh. Aku menikmati setiap kata yang kubaca beruntutan. Aku menikmati waktuku dengan pikiranku. Aku benar-benar menyukainya.

Dan di penghujung tahun ini akhirnya aku bisa mewujudkan salah satu resolusi baruku, menjadi diriku.

Aku suka itu.

Sangat menyukainya.


Comments

Post a Comment

Popular Posts