Menjadi Manusia
Kadang kita lupa rasanya sakit karena
kata-kata,
Kadang kita lupa rasanya sendu karena rindu,
Kadang kita lupa cara menjadi manusia.
Kita sering kali lupa memanusiakan manusia
lainnya.
Mereka sama-sama hidup dengan hati dan logika
Mereka sama-sama berjalan dan menapak di bumi
seperti yang kita injaki
Mereka sama seperti kita.
Sama-sama tidak suka dicemooh,
Sama-sama tidak suka diatur,
Sama-sama tidak suka dikritik,
Sama-sama tidak suka diabaikan.
Namun, sesekali juga kita sama-sama lupa
kalau ada dua kepala dengan frekuensi berbeda ketika tenggelam di tengah
obrolan. Beda selera, sudah biasa. Sudah seharusnya menjadi makanan yang
mengenyangkan. Tapi, apa boleh buat kalau kadang juga kita sama-sama tidak
memahami kalau beberapa hati harus dimengerti.
Sama-sama suka didengar, tapi seringkali kita
bertarung dengan ego sendiri untuk ramai bercerita. Berhenti peduli apa telinga
di sana panas mendengar bait-bait kehidupan yang kita ceritakan.
Sama-sama suka dipuji, tapi seringkali kita
menahan mulut mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan untuk berhenti
membuatnya melambung seperti diterbangkan. Berhenti membahagiakan hati kecil
seseorang, berhenti membuat orang lain bahagia lewat hal-hal sederhana.
Sama-sama suka diperhatikan, tapi seringkali
kita membuang muka seolah tidak mengenal. Berhenti menyapa hanya perkara ragu
apakah akan dibalas juga. Sudah seharusnya belajar memulai, tapi lagi-lagi selalu
menolak dan kalah dengan ego sendiri.
Sama-sama suka dihargai, tapi seringkali kita
melakukan hal-hal yang menyakiti. Berhenti memberi apresiasi, sibuk menjatuhkan
dan mencari kesalahan. Juga sibuk mengabaikan saat mereka ingin didengar.
Terdengar mudah, tapi sulit dilakukan.
Kita memasuki fase dimana realita dua kali
lipat lebih mudah kedengarannya.
Hanya kedengarannya.
Beberapa hati dan isi kepala manusia minta
didengar. Beberapa darinya meronta ingin keluar dari lingkaran pertemanan.
Tapi, umur tahunan jadi pertimbangan untuk bertahan. Meski kenyataannya tidak
semua insan mampu memahami. Seiring berjalannya waktu, mereka tidak juga
kunjung dewasa. Hanya bertambah usia tanpa mengembangkan logika. Bermain
perasaan juga tidak terlalu pandai dibanding anak TK yang pedulinya berkali
lipat lebih besar dari orang dewasa.
Yang katanya dewasa, hanya sebatas katanya.
Satu sama lain kadang sibuk menjatuhkan,
sibuk berargumen dan ingin menang.
Lupa kalau hidup di dunia bukan tentang siapa
yang berhasil duluan.
Tapi, siapa yang terus berjalan beriringan.
Comments
Post a Comment