Menjadi Kalah
Matahari sudah tenggelam di
kaki langit dua jam yang lalu. Sekarang, senja sudah berganti petang. Langit
sudah berubah gelap. Dan hujan mulai perlahan-lahan jatuh membasahi bumi
beserta seluruh manusia yang sibuk berlalu lalang menyebrang jalanan. Suhu
udara turun beberapa derajat malam ini. Sudah malam, hujan, dingin. Ah
sempurna.
Selamat datang di Bandung.
Kota yang romantisnya tidak pernah
mau kalah dengan Jogja
Kota yang membuat aku jatuh
cinta berulang kali, setiap hari, dengan orang yang sama.
Orang-orang sedang sibuk menepi,
beberapa tangan mengeratkan kain jaket. Beberapa lainnya sibuk dimasukkan di
saku pakaian. Malam ini, suasana Bandung kuberi nilai seratus sepuluh. Sepuluh
nilai tambahan karena aku berhasil menemukan tempat berteduh setelah kehujanan
beberapa saat yang membuat basah separuh pakaianku. Seratus kuberi sesuka hati
karena akhirnya aku punya waktu untuk menikmati hujan bersama kamu.
“Kapan ya redanya?” Aku
mengendikkan bahu, tidak tahu. Kamu
menengadahkan tangan ke tetesan air hujan yang jatuh dari atap pertokoan.
Seperti kebiasaan lamamu, kamu suka sekali menyerangku dengan air yang sudah
terkumpul di tangan. Tapi, itu sudah berlalu. Kamu sudah mulai mengurangi rasa jahilmu
sejak kita mulai sadar, kalau kita bukan lagi anak remaja. Kamu dua puluh tiga,
aku dua puluh dua. Sudah bukan usia belasan untuk mengulang kenakalan.
Dari samping, dari tempatku
berdiri, aku tatap kamu lekat-lekat.
Wajahmu makin sempurna dengan air
hujan yang pelan-pelan jatuh dari rambutmu, sisa beberapa menit lalu.
“Re, ada yang ingin aku
katakan.” Kataku kemudian. Rasanya, seluruh isi bumi sedang memandangku saat
kalimat itu keluar. Dunia ini seperti menelanku bulat-bulat.
“Katakan,” Katamu yang masih
menengadahkan tangan ke langit yang gelap. “Nanti aku juga mau bilang sesuatu.”
Lanjutmu kemudian. Aku menelan ludah. Mukaku kebas, jantungku kencang berdetak.
“Kamu dulu saja,” Aku mengalah.
Kamu tahu, sudah terlalu sering aku mengalah untuk kamu.
Hubungan yang kita bangun bukan
sekadar hubungan dua manusia yang tumbuh bersama. Hubungan kita sejak sepuluh
tahun yang lalu, hingga hari ini, seperti tanaman liar yang dibiarkan tumbuh di
pagar. Sayangnya, pagar yang terbelit tanaman adalah milikku. Tampak indah
memang, tumbuh subur dan rimbun. Tapi, membunuh pelan-pelan. Napasku sering
tercekat saat di dekatmu. Jantungku sudah berulang kali hampir mencelos keluar
karena melihat tatap matamu.
Sepuluh tahun aku hidup dan
tumbuh bersamamu, sepuluh tahun juga aku merawat perasaanku.
Dan dengan bodohnya, aku selalu
takluk dengan kamu, dengan tatap mata itu, dengan senyummu, dengan suara berat
yang menggodaku, dengan aroma tubuh yang sudah menjadi favoritku. Dan dengan
bodohnya, aku selalu siap mengalah untukmu.
“Kamu ingat Bintang? Gadis yang
sudah lama aku kejar-kejar?” Aku mendongak saat mendengar nama perempuan, yang
bukan aku. Aku jelas ingat dia, perempuan yang selalu kamu ceritakan satu tahun
terakhir. Dimanapun. Di perpustakaan kota, di teras rumah, di telepon, di sepanjang
jalan pulang, hingga di sisi pertokoan seperti malam ini.
Tidak sadar, aku menganggukkan
kepala. Mataku menjawab kalau aku sebenarnya tidak suka, Re. Sungguh, kamu
tahu, mendengar namanya saja sudah membuat lututku lemas dan napasku sesak.
“Bintang akhirnya mau menerima
aku menjadi pacarnya, Aster.” Aku tersenyum lemas. malam ini tidak sebaik
seratus sepuluh persen yang kuberikan di awal. Bahkan kalau aku tahu kamu akan
mengatakan hal ini, aku akan memberikan minus seratus sepuluh untuk malam ini.
Sudah malam, hujan, dingin,
gelap, pekat, sesak, sakit, patah. Ah,
jatuh cinta memang bukan sesederhana menjatuhkan perasaan pada seseorang. Tapi,
juga mempersiapkan diri untuk dipatahkan oleh seseorang.
“Selamat,” Aku menepuk bahunya
beberapa kali, menatapnya dengan bahagia dan kecewa di saat yang sama. Dia
memelukku, membuat aku kehilangan napas sebentar. Sebenarnya, bukan sekadar
karena kamu mempersempit ruang napasku. Tapi, karena kamu meghancurkan perasaan
yang kurawat sendirian.
Baru malam ini aku melihat kamu
sebahagia itu. Senyum yang merekah, jarang kulihat sebelumnya. Senyum itu lebih
baik dari senyum bahagia saat menikmati nasi goreng kesukaanmu, saat
menyelesaikan tugas-tugas kuliah denganku, saat mengerjakan skripsi di kedai
favoritmu, saat pergi mendengarkan lagu-lagu di playlist-mu. Senyum itu tidak ada di sana. Tidak ada di saat kamu
bersamaku sebelumnya.
Langit masih tumpah. Hujan
masih belum mau reda.
Mataku memanas setelah
mengingat sepuluh tahun milik kita. Sudah siap tumpah tidak kalah deras dengan
malam ini.
“Oh ya, kamu mau bilang apa?”
Tanyamu. Aku menggeleng. Tatapanku meyakinkan kamu kalau aku turut bahagia,
senang, baik-baik saja.
“Kita terobos hujan saja, Re.” Ucapku seraya menarik-narik kain jaketmu. Pandanganmu mengular pada langit yang masih gelap.
Kamu mengangguk mantap saat melihat mataku yang sibuk merajuk. Sepertinya, tetap pulang dengan suasana
seperti ini lebih baik daripada terus berdiri di sebelahmu dan mengingat
sepuluh tahun milikku. Malam ini, aku mau Bandung tidak menjadi kota yang membuatku
mengingat patah dan sakit bersama-sama.
Aku mengemas rapi perasaan
kecewa, setelah kamu akhirnya sepakat untuk melanjutkan perjalanan. Tidak apa-apa
menembus hujan, melewati derasnya air yang tumpah dari langit pekat. Tidak
apa-apa digigit angin hingga kedinginan. Semua tidak sebanding dengan
dipatahkan harapan setelah sepuluh tahun berandai-andai sebuah akhir cerita
yang bahagia.
“Kamu nggak apa-apa kehujanan?”
Sekali lagi kamu memastikan. Aku mengangguk yakin.
Tidak apa-apa, Re. Selama kamu
masih jadi milikku malam ini, selama hujan bisa membawa airmataku pergi, tidak
apa-apa, sungguh.
Besok, lusa, minggu depan, atau
beberapa tahun lagi, mungkin aku sudah siap, kalau ternyata aku selalu kalah
dengan perasaanku padamu. Atau mungkin itu tidak akan terjadi sama sekali.
Omg, emang kamu tu jago bikin genre Angst, ngena selalu
ReplyDelete