Senja dan Kamu

Sore itu panas tidak terik. Tidak pula sendu dan dingin menggigit.  Angin bertiup dengan syahdu, menerbangkan kain kerudungku sesekali, membawa pikiranku ikut mengangkasa, menari bersama burung-burung kecil di birunya langit. Ah, senja sore ini akan sangat cantik, batinku dengan penuh bahagia.

Ya, aku sangat bahagia.

Satu tahun sudah ini terjadi, tapi kenangannya melekat erat di benakku seolah semua tidak akan pernah hilang kapanpun itu. Tidak hari ini, besok, ataupun bertahun-tahun yang akan hadir setelah kemarin.

Dua puluh.

Sore itu, aku sebenarnya tidak yakin bahwa kamu menepati janji karena ingin menghadiahkan perjalanan untuk usia baruku. Setelah kemarin, perayaan kecil dan lilin yang kutiup, sorak sorai tepuk tangan dan senyum merekah itu tersinggung seharian di wajahku,  kemudian kamu menjanjikan kebahagiaan yang dikemas dalam sebuah perjalanan. Tidak panjang, tidak memakan waktu hitungan jam, tapi mengenang tahunan hingga pergantian usiaku yang lain tetap mengingat hari itu.

Setelah melewati obrolan yang panjang di suatu malam, akhirnya kamu menuruti mauku. Berbekal rasa penasaran, ingin tahu, bosan, sekaligus tidak sabar dan bahagia, raga kita kemudian pergi bersama. Media sosial yang akhirnya membawaku, kamu, dan khayalan yang kini mengudara, makin tinggi dan menari karena sibuk gembira melihat wajah yang baru dari kota kecil tempat aku dan kamu menetap sementara waktu.

Semilir angin menyambut aku dan kamu sejak pertama kali melewati ladang hijau yang luas tidak berbatas. Aku berulang kali kegirangan, kamu hanya tersenyum, sesekali tertawa cekikikan. Reaksiku benar-benar sempurna alaminya, benar-benar seperti bocah yang dibelikan gulali warna warni, benar-benar tidak menggambarkan usiaku yang mulai berkepala dua.

Ah, sudahlah, aku tidak peduli usia.

“Kayak di New Zealand, ada padang rumputnya” teriakku penuh semangat.

Suaraku yang sayup-sayup terdengar olehmu, membuat katup bibir itu tertawa kecil. Jelas, aku tahu bahwa kalimatku barusan terdengar konyol. Tapi, ayolah, siapa yang tidak senang melihat hamparan hijaunya rumput setelah sibuk berkutat di depan layar komputer setiap hari. Sudah bosan dan hafal melihat persegi empat dengan tulisan kecil-kecil dan rumit. Sudah raga lelah, jiwa juga tidak mau kalah. Setelah berhari-hari dipaksa tersenyum, bahagia, siap, cakap, meskipun ingin menangis karena lelah merindukan rumah.

“Tapi emang bagus, sih.”

Kamu tersenyum lagi. Mata yang pernah sendu dan sayu, hari ini berbinar penuh bahagia di dalamnya. Gelap yang pekat, pelan-pelan hilang dan tidak terlihat.

Hm, kalau boleh jujur, aku benar-benar bahagia menemukanmu. Menemukan orang baru, yang membuatku bahagia menjadi aku, membuatku baik-baik saja selalu mencintai diriku. Meski mungkin kalimat ini, rasa bahagia dan syukurku tidak akan terdengar olehmu. Entah sampai kapan.

Sepeda motormu masih melaju. Melewati jalanan yang berkelok, membawa aku dan kamu kemudian sampai di jalan yang lengang, dengan kanan kiri sawah terbentang. Bukit-bukit menghias kelilingnya, benar-benar mirip gambaran khas anak TK yang diajarkan ibu guru. Rupanya semua benar adanya. Bukan hanya di atas kertas saja. Pemandangan itu membuai mataku, dan juga matamu.

Udara sore ini menyejukkan. Dihirup dalam-dalam, menenangkan hati dan pikiran. Jarang-jarang aku dan kamu menghindari keramaian seperti ini. Membiarkan otak berhenti bekerja dengan sangat keras. Membiarkan mata beristirahat dari lelahnya cahaya yang dipancarkan layar komputer di kantor.

Ah, aku suka ini. Aku suka hadiahku kali ini.

Kamu kemudian memilih menghentikan sepeda motor. Memarkirkannya di sisi jalan, mengambil tempat untuk sekadar duduk dan menyilangkan kaki. Aku tahu, rasanya pasti lelah. Pasti ragamu ingin banyak-banyak telentang karena melakukan perjalanan panjang tiap minggunya. Pasti ada banyak riuh di kepala. Pasti ada banyak keluh yang tidak ingin kamu ungkap. Pasti ada banyak kecewa, ada banyak amarah, ada banyak hal yang memenuhi pikiranmu setiap hari.

Semuanya jelas, dari pandangmu.

Matamu kemudian memandang jauh, pelan-pelan tapi pasti, mulutmu mulai mengeluarkan kalimat-kalimat yang kupahami. Mulai menceritakan tentang dirimu, mulai membuat sore ini makin berwarna dengan kisahmu. Kubuka telingaku lebar-lebar, menangkap semua cerita yang kamu lontarkan.

Ah, sungguh. Entah mengapa, di hari ini aku menuliskan kisahku dan kamu, aku baru menyadari. Ternyata sejak hari itu, aku selalu ingin menjadi telinga yang baik untuk semua ceritamu.

Matahari mulai tenggelam di eloknya jingga. Kamu mengajakku kembali berkendara, mencari indah yang lain dari sore ini. Aku mengangguk setuju. Selalu dengan mudah mengikuti perkataanmu. Entah. Padahal di hari itu, aku dan kamu masih dua keterasingan, masih dua kesalahan yang dibiarkan pergi bersama. Masih menjadi bagian dari rencana Tuhan, masih menjadi tokoh cerita yang tidak bertuan.

“Mau kesana, dong!” Ucapku seraya menunjuk sebuah jalan di tepi sungai. Jingga tampak pekat, matahari mulai tidak terlihat jelas. Cahayanya membara, memerahkan angkasa. Kamu kembali menghentikan motormu. Membiarkanku bertingkah semauku, sesukaku, mengejar bahagiaku, dan kembali membuatmu tersenyum kecil.

Pelan-pelan aku berjalan, mengamati matahari yang menghilang di kaki langit. Membiarkan bahagiaku mengembangkan sayapnya. Berseru keras-keras di dalam hatiku. Sungguh, senja hari ini adalah hadiah terbaik usiaku yang baru.

Satu menit yang indah. Ditiup angin, ditemani kicau burung, gemericik air sungai, serta kamu. Rasaya benar-benar lengkap. Tuhan amat baik, mengijinkanku dibuai kagum atas karya-Nya. Tuhan sangat baik.

Aku menegakkan punggungku, mulai berdiri setelah duduk sebentar di pinggir sungai yang airnya hijau gelap itu.

“Udah?” aku mengangguk mantap. Beberapa detik terpaku oleh mata yang sekarang menatapku lekat-lekat. Kamu menjulurkan tanganmu, seolah aku tidak akan pernah menolaknya. Tapi, benar. Iya. Aku tidak berusaha menolaknya. Sama sekali.

“Oke, pulang?” Aku kembali tersenyum. Perjalanan panjang bukan akan diakhiri, ternyata semuanya baru saja dimulai.

Dan hari ini, di saat aku mengingat kembali, aku kembali tersadar.

Bahwa hadiah ulang tahun terbaikku bukan senja di sore itu.

Tapi, hadirmu.





Comments

Popular Posts