Semoga, ya.

Langit di luar mendung.

Gelap sekali seperti hampir runtuh.

Di balik bukit yang tertutup awan pekat, ada secercah cahaya menerobos masuk menyinari bagian bukit yang lain.

 

Aku mengingat matamu.

Mata yang sayu itu pernah mendung dan sendu. Pernah tampak riuh dan ingin berteriak.

Tapi empunya hanya tersenyum kecil tidak berucap.

Lalu aku sedikit bercerita, sedikit berbagi isi kepala.

Di sana, si mendung yang gelap dan pekat tampak seperti bukit yang kini disiram cahaya. Iya, selalu ada harapan untuk binar itu kembali muncul. Selalu ada semoga untuk senyum yang kian melebar.

Semoga, ya.

Semoga, ada aku di balik alasanmu tidak pernah menyerah melewati harimu.


Comments

Popular Posts