Where is your money?
Haloo teman-teman pembaca!
Di postingan kali ini, kita akan bahas
seputar uang. Memang berbeda dari postingan biasanya, tapi ayo kita sedikit
bahas lebih jauh seputar “Kemana uang kita pergi?”
Sebenarnya topik kali ini random,
sangat-sangat random. Iya seperti yang kalian tahu aku lebih sering bahas
seputar society, lifestyle, atau permasalahan hati lainnya. Tapi kali ini aku
akan bahas tentang uang yang kita simpan. Aku sendiri berharap sedikit ceritaku
akan membuat kalian menerapkan satu hal ini ke dalam gaya hidup kalian. Apa
itu?
Sedekah.
Yup. Sedekah bukan perihal yang mudah untuk
banyak orang. Terdengar sepele memang. Tapi apa pernah kalian benar-benar
menyisihkan sebagian uang kalian secara ‘rutin’ untuk orang-orang yang
membutuhkan?
Benar adanya sedekah adalah perkara kecil.
Adalah sesuatu yang mungkin juga tidak sulit untuk beberapa orang. Lantas, apa
yang harus dipermasalahkan? Kesadaran dan keikhlasan. Dua hal ini menjadi dasar
perasaan kita untuk melakukan amalan-Nya. Kalau-kalau kita selalu sadar dan
ikhlas, pasti niscaya kita selalu bisa dengan mudah menyisihkan rejeki kita
untuk kebahagiaan orang-orang yang membutuhkan.
Jadi, mari kita mulai cerita.
Aku bukan pribadi yang tergolong sering
bersedekah, menurutku. Aku nggak tahu juga berapa banyak amalan yang malaikat
tulis seputar kegiatan sedekah yang aku lakukan. Mari kita abaikan hal ini.
Yang aku tahu, aku memiliki kebiasaan ‘saving’ atau ya kita kenal dengan
menabung. Aku sangat-sangat suka menabung dan menyisihkan uang sakuku. Karena
bukan berasal dari keluarga yang berada, aku harus pandai-pandai menggunakan
uang demi memenuhi beberapa kebutuhan yang tidak mungkin kutagihkan pada kedua
orangtuaku. Ya intinya aku menabung untuk menuruti semua hawa nafsuku terhadap
‘belanja dan travelling’ hehehe.
Bukan berarti pelit, aku terbiasa
mengendapkan uangku di rekening. Aku punya prinsip, aku tidak boleh sepenuhnya
menghabiskan uangku di sana. Aku harus menyimpan setidaknya ‘sekian juta’
sebagai aset. Bahkan menurutku, meskipun uangku tidak benar-benar habis, kadang
aku menilai uangku habis. Ya karena aku memiliki prinsip tersebut sehingga jika
jumlah uangku kurang dari nominal yang kutetapkan, maka kuanggap habis. Oleh
karena itu, rekeningku selalu dan selalu terisi lebih dari wajarnya mahasiswa
seusiaku karena aku hidup dengan prinsip tersebut.
Lambat laun, tabunganku memang menumpuk. Aku
bisa membeli berbagai hal yang aku inginkan hingga akhirnya muncul kebiasaan
seperti, “Ih udah lama nggak beli ini, itu, blablabla.” Kebiasaan buruk sih
menurutku karena aku akhirnya hidup dengan penuh pertimbangan materi. Sampai
suatu ketika, suatu sore semua berubah sekejap mata. Aku benar-benar seperti
terpukul oleh kenyataan.
Sore itu, entah darimana asalnya tiba-tiba
hatiku seolah gelisah. Aku sibuk memikirkan bagaimana derita saudara-saudara
yang ada di Sulteng dengan keterbatasan yang ada. Aku beberapa kali teringat
bagaimana tsunami memporak-porandakan harta dan hati mereka. Dan aku menemukan
ketidak bahagiaan di tengah rasa bahagiaku lainnya. Ada banyak suara dari
hatiku dan hingga detik ini saat aku menulis cerita, suara itu masih sering
menggema.
“Kalau uangmu banyak, tabungan penuh, mau diapain? Kemana uang-uang itu akan pergi?”
Aku awalnya tertegun. Aku benar-benar seperti
orang linglung.
Benar.
Kemana uang-uangku akan pergi apabila aku terus mengendapkannya di rekening pribadi? Sampai kapan aku terus menerus melakukan ini? Mengendapkan sebagian uang dan bahagiakah aku melihat jumlah rekeningku selalu penuh?
Rupanya tidak.
Aku tidak pernah sebahagia itu saat
menghabiskan uangku untuk sesuatu yang kadang tidak begitu penting untukku. Aku
tidak pernah sebahagia itu saat melihat nominal tabunganku cukup besar. Aku
tidak pernah benar-benar bahagia.
Dan aku menemukan jawabannya.
Ya, memang lebih baik mengutamakan uang-uang
kita untuk meringankan beban orang lain. Sudah seharusnya kita benar-benar
menjadi manusia.
Aku sekarang mengerti betul. Sedekah adalah
gaya hidup. Terbiasa membuat bahagia orang lain rupanya sangat menyenangkan.
Hidup akan selalu berjalan maju, berpindah ke sumbu yang lain, dan hati kita
juga harus tumbuh dengan penuh kebaikan. Sudah saatnya kita selalu membantu
orang lain untuk meringankan bebannya. Sudah saatnya kita menjadi orang baik.
Atau tepatnya, lebih baik lagi.
Mulai sekarang, kamu bisa donasi dengan mudah
lewat berbagai media yang tengah viral seperti kitabisa.com atau Aksi Cepat
Tanggap demi membantu saudara kita yang kesulitan. Sungguh, semua bukan perkara
jumlah tetapi perkara ikhlas.
Sudahkah kamu?
Comments
Post a Comment