Berdamai
Kali ini
saya akan cerita sisi lain dari diri saya.
Mungkin
bahasan kali ini agak sedikit privasi, tapi gapapa. Bukan tujuan saya menyebar
privasi, memaksa banyak orang mau mengerti. Saya hanya mencoba membuat beberapa
dari kalian yang ‘mungkin’ punya problematika sama, agar bisa menyudahi. Sama
seperti saya.
Saya bukan
pribadi yang selalu baik-baik saja. Namanya hidup, pasti ada naik turunnya.
Saya nggak bilang kalau saya kuat, tapi saya sejauh ini sedang berusaha untuk
terus berdiri setelah jatuh berulang kali. Mungkin, di luar sana ada banyak
orang yang masalahnya lebih besar, mentalnya lebih kuat, hatinya lebih baja.
Mungkin ada banyak orang juga yang mengesampingkan problematika orang lain.
Dengan
mudahnya bilang, “halah gitu doang.”
Saya belum
pernah mendapatkan perlakuan seburuk itu, belum pernah dipaksa diam oleh banyak
orang terdekat saya. Ya, karena saya juga belum pernah berusaha
membicarakannya, apalagi melepasnya ke media. Menurut saya, apa yang harus saya
tunjukkan ke khalayak umum adalah bagaimana saya bahagia. Bukan bagaimana
kesedihan yang saya alami.
Media
sosial, umumnya memang mengungkap tawa. Masa iya saya mau bikin snapgram nangis
sedih. Enggak kan? Saya pribadi sih malu. Malu dipandang lemah. Saya benci itu.
Saya sudah melewati banyak hal yang mungkin tidak orang lain sangka, dan saya
nggak suka kalau orang tahu banyak kelemahan saya. Saya nggak mau mereka
memandang sebelah mata.
Itu kenapa,
saat saya punya masalah saya memilih diam. Dan terlihat baik-baik saja.
Menurut
saya, salah satu indikator dewasa adalah saat kita bisa memisahkan mana hal
yang harus dijaga sendiri, mana hal yang harus memiliki publikasi. Dan saya
paham betul perbedaannya. Saya nggak bisa percaya dengan banyak orang, saya
nggak bisa berharap dan memaksa semua manusia punya frekuensi yang sama. Saya
nggak bisa membuat mereka harus dan mau memahami saya bagaimanapun caranya.
Saya nggak setega itu.
Saya paham,
dua kepala aja punya pikiran yang berbeda. Apalagi banyak kepala. Itu juga
kenapa kadang saya memilih diam dan berhenti mencari tahu masalah orang lain
kalau mereka juga melakukan hal yang sama. Bagi saya, tiap orang punya hak
untuk menyimpan semua pikiran rapat-rapat. Bukan sebagai alibi atas ketidak
pedulian saya, bukan. Satu hal yang juga harus kita pahami saat beranjak
dewasa.
" Hanya ingin tahu dan benar-benar peduli itu beda tipis. "
Kamu pasti
juga paham mana sikap yang disebut ‘kepo’ mana sikap yang benar-benar berusaha
memahami. Sayangnya, makin kesini saya makin mengerti bahwa sebagian orang
kadang hanya ingin tahu tanpa berusaha membantu. Mereka kadang hanya ingin
menyimpan informasi yang mereka punya guna memiliki titik terlemah kita. Dan
kita harus pandai-pandai membagikannya.
Saya punya
sikap tertutup. Semi-intorvert.
Tampak depan saya mungkin extrovert.
Tapi semua hanya di permukaan. Mana tahu orang arus deras yang ada di dalam
kepala saya.
Saya sama
seperti kebanyakan orang. Sama-sama berusaha tampak bahagia.
Saya menelan
sendiri pahit hingga ke dada. Tapi saya lebih banyak diamnya. Lebih banyak
bersembunyinya.
Dulu, saya
pernah berada di fase depresi. Saya pernah kehilangan banyak berat badan,
kehilangan keberanian, kehilangan banyak helai rambut karena rontok, kehilangan
konsentrasi, dan sebagainya. Saya juga pernah kehilangan kepercayaan, pada
siapa saja. Siapapun yang ada di hidup saya.
Semua tampak
mengecewakan waktu itu.
Saya sempat
denial ke diri saya sendiri. Saya sempat kecewa dengan semua manusia di sekitar
saya. Mereka tampak tidak peduli, tampak berjalan dengan tatapan memaki. Saya
benci itu. Tapi, di situ saya pelan-pelan menyadari. Bukan semua tidak peduli,
semua hanya diam karena saya juga diam. Saya tidak memberi ruang untuk siapapun
masuk ke kehidupan saya untuk mendengar semua pergolakan logika dan rasa. Saya
yang menjaga jarak, mengambil tindakan untuk menghindar.
Saya yang
lupa kalau saya tinggal dengan banyak orang.
Sifat buruk
saya yang lain adalah gampang panik. Saya juga tidak suka itu, tapi saya tidak
bisa. Benar-benar sulit untuk saya berhenti dari sifat ‘parno’ yang sudah
mendarah daging. Saya perlu dikontrol, perlu diingatkan, perlu orang lain yang
mengerti kekurangan saya dan berkata, “Udahlah gapapa”. Waktu itu saya punya. Waktu itu. Tapi akhirnya
waktu itu juga saya dipaksa bisa sendiri, karena saya sadar saya tidak pernah
bisa mengharapkan siapapun untuk tinggal.
Saya tidak
pernah bahagia dengan berharap pada manusia.
Saya harus
mengubah jalan pikiran saya waktu itu.
Dan saat
itu, saya sadar bahwa yang bisa saya lakukan adalah berharap hanya pada Allah.
Bukan hamba-Nya.
--
Latar
belakang masa lalu saya membuat saya banyak membungkam akhirnya. Membuat saya
banyak diam dan terbiasa menyimpan sendirian. Semua berhasil membuat saya
selalu terlihat baik-baik saja dan bahagia. Mungkin banyak orang yang melihat
tidak ada yang kurang di hidup saya. Saya punya semuanya yang banyak orang
harapkan. Saya punya kebahagiaan yang banyak orang impikan.
Tapi, hidup
tidak berjalan semudah itu. Saya pernah melewati hari-hari yang berat. Sangat
sering.
Saya juga
tidak jarang uring-uringan, panik ini dan itu, cenderung sulit bersikap santai
terhadap apapun yang terjadi. Sampai lambat laun saya akhirnya sadar. Saya
tidak bisa hanya begini. Saya mungkin akan tetap diam. Saya akan tetap
menyembunyikan banyak cerita. Tapi saya tidak seharusnya terus menerus marah ke
diri saya sendiri. Saya harus bisa menguatkan diri sendiri. Saya harus bisa
bangkit, harus bisa menerima.
Dari situlah
saya belajar satu hal, berdamai dengan kenyataan.
Apapun yang
terjadi, apapun yang ada di depan, satu-satunya cara menerima adalah berdamai.
Saya harus bisa membiarkan semua berjalan begitu saja. Saya tidak boleh
menghindar, saya tidak boleh menjauhi semua permasalahan yang ada. Saya harus
berdiri di titik yang sama. Saya harus belajar benar-benar baik-baik saja
dengan apapun.
Kalau
kemarin saya pernah berdoa untuk selalu beruntung di berbagai kesempatan,
sekarang saya lebih memilih berdoa agar dikuatkan di setiap keadaan.
Badai akan
selalu datang dan kita tidak bisa menghindari.
Tapi, kita
bisa belajar mengarungi.
Comments
Post a Comment