Stalker


Haloooo!

Kayanya nih ya kalau bahas sosial media nggak akan pernah ada habisnya. Ibarat kehidupan nyata, dunia maya ini bumi dan sosial media itu sebuah distrik atau daerah yang punya cakupan wilayah tertentu dengan warga yang punya sejuta perbedaan pemikiran, sifat, dan karakteristik. Dan hari ini aku akan bahas tentang stalker yang bisa diibaratkan tetangga yang suka gosip. Hahaha agak geli sendiri sih ngebayanginnya.

Kata stalker sendiri berasal dari Bahasa Inggris yang artinya penguntit, pemburu, mengamati seseorang. Stalker sendiri biasanya ditujukan untuk orang-orang yang kepo atau memiliki rasa ingin tahu lebih terhadap kehidupan pribadi seseorang. Meski terdengar menyeramkan, stalking (pekerjaan stalker) merupakan hal yang biasa kita lakukan tapi jarang kita sadari. Kebiasaan kita untuk terus memantau kehidupan orang lain, mengulik berbagai fakta tentang seseorang, atau hal-hal sejenisnya adalah sesuatu yang kita pandang sepele.

Nah, kini banyak orang yang dengan mudah memberi cap orang lain dengan julukan stalker hanya karena orang lain melihat isi akun sosial media mereka. Sekarang pertanyaannya adalah,

“Mengapa orang-orang tetap membiarkan orang lain melihat isi akun sosial media mereka kalau mereka tidak suka?”


Beberapa orang cenderung menginginkan tingkat popularitas yang tinggi, dipandang populer oleh orang lain adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Sayangnya, sedikit dari kita yang menyadari bahwa menjadi populer tidak sepenuhnya menguntungkan. Kehidupan yang dilihat khalayak umum, privasi yang disebar luaskan, keseharian yang dipertontonkan akan memiliki dampak seperti ‘memiliki stalker’. Orang makin lama makin penasaran, makin ingin tahu, ingin melihat banyak hal, lalu tidak sedikit yang menggunjingkan.

Lantas kita berhak marah? Mungkin. Tapi tidak sepenuhnya karena kita yang menjadi awal timbulnya masalah tersebut.

Kita sebagai pemilik akun ibarat pemilik sebuah rumah. Tentu untuk menjaga keamanan, menjaga batas-batas wilayah kita, maka kita membuat pagar, pintu, jendela, atau bahkan ruangan tersembunyi. Semua hanya demi menjaga beberapa hal yang tidak seharusnya dikonsumsi oleh khalayak umum. Sama seperti itu, akun sosial media kita juga bisa dilengkapi berbagai fitur bantuan untuk melindungi dari orang-orang yang tidak berkepentingan.

Contohnya (dalam hal ini Instagram) :

  1. Kalau kita tidak menyukai postingan orang, kita bisa memilih tidak mengikuti orang tersebut (Apabila dia teman kita, kita bisa mute story mereka/postingan mereka).
  2. Kalau kita tidak suka beberapa orang melihat story kita,  kita bisa menyembunyikan story kita dari mereka.
  3. Kalau kita tidak suka beberapa orang melihat postingan kita, kita bisa memblokir mereka.
  4. Kalau kita tidak suka orang menulis komentar terhadap postingan kita, kita bisa menon aktifkan kolom komentar.
  5. Kalau kita tidak ingin difollow orang sembarangan, kita bisa mengunci akun kita atau menghilangkan mereka dari daftar follower.

Hal-hal tersebut adalah hal yang kita bisa lakukan untuk melindungi privasi kita. Aku memilih Instagram sebagai contoh karena kini sosial media tersebut telah dilengkapi berbagai fitur untuk melindungi privasi pemiliknya, juga aplikasi tersebut menjadi aplikasi yang paling sering disalah gunakan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengulik informasi pribadi orang lain.

Sayangnya, tidak semua orang sadar bahwa mereka memiliki hak untuk melindungi privasi mereka. Mereka cenderung ingin populer tetapi enggan memiliki penguntit. Terkadang beberapa orang mempersilakan orang lain mengikuti akun mereka tetapi dengan mudah mengecap beberapa follower yang melihat storynya sebagai stalker. Pribadi yang seperti inilah yang sebenarnya belum siap hidup di dunia maya. Mereka adalah orang-orang yang tidak menyadari bahwa mereka hidup berdampingan dengan banyak orang sehingga hal yang wajar bila orang lain ingin tahu kehidupan mereka.

Sekarang dengan difasilitasi berbagai fitur pendukung, kita bisa melindungi akun sosial media kita. Kita bisa memberi batasan tertentu untuk beberapa orang yang kita nilai belum pantas melihat kehidupan kita. Atau juga kita mungkin sudah tidak seharusnya terlalu mempublikasikan beberapa hal dalam kehidupan kita. Kita sendiri yang harus pandai-pandai menyortir hal-hal apa saja yang pantas menjadi konsumsi publik, hal apa saja yang tidak perlu kita publikasi.

Semoga postingan kali ini dapat membantu dan menyadarkan kita bahwa kita harus mengelola sosial media dengan baik serta melindungi privasi-privasi kita agar tidak disalah gunakan oleh orang-orang tertentu.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya!



Comments

Popular Posts