Don't Give Up!
Beberapa hari lalu adalah hari dimana pengumuman
kelulusan program studi di kampusku.
Dan untuk pertama kalinya aku menangis.
Haha, lucu memang. Kira-kira begini
ceritanya.
Aku mahasiswi yang tidak terlalu menonjol di
kelasku. Aku mahasiswi yang cenderung lebih santai dibanding teman-temanku yang
lain. Sudah cukup untukku dua belas tahun bersekolah terlalu gigih. Walaupun
tidak seharusnya berpikir begitu. Jangan ditiru!
Program studi yang kuambil hanya memiliki dua
semester, dimana tahun kedua kami sudah harus siap bekerja di tempat yang sudah
ditentukan sesuai perjanjian yang telah kami tanda tangani di awal pendaftaran.
Aku sangat memahami segala risiko atas perilaku maupun prestasiku di kampus.
Tapi, ya entah mengapa rasanya logika dan hatiku tidak bisa bekerja sama untuk
mewujudkan nilai-nilai yang enak dipandang.
Semester awal adalah masa adaptasi. Beberapa
bulan pertama adalah masa dimana aku benar-benar merasakan apa itu berjuang
sendirian. Entahlah, rasanya beban yang kami tanggung sebagai mahasiswa kedinasan
terasa lebih berat. Selain karena kami harus jauh dari orangtua, kami juga
dituntut bekerja keras untuk hasil yang maksimal. Juga kami selalu
dibayang-bayangi ‘drop out’ apabila kami melanggar peraturan terkait nilai dan
integritas. Aku sempat berada di masa depresi, stres, dan belum mampu
beradaptasi dengan banyak orang. Mungkin banyak yang merasakan hal ini. Dan
lemahnya, aku tidak mampu mengatasinya secara cepat.
Jika mungkin teman-temanku sudah bisa
beradaptasi dengan baik setelah satu minggu kuliah, aku baru bisa setelah
kurang lebih tiga bulan kuliah. Ada beberapa hal yang tidak bisa kuceritakan
yang membuat aku tidak bisa dengan cepat beradaptasi. Nilaiku sempat anjlok di
semester ganjil ini. Aku sendiri tidak menyangka aku mendapat nilai yang tidak
seperti harapanku. Karena setelah sekian lama sekolah, jujur saja aku selalu
mendapat hasil akhir yang sesuai dengan harapanku. Mungkin, saat itu aku tidak
berusaha dengan baik sehingga akhirnya juga tidak mendapatkan hasil yang baik
juga. Aku memahami itu.
Apakah aku menyesal?
Awalnya, iya. Kemudian, tidak ada waktu untu
menyesali perbuatanku. Toh, selama aku belajar beradaptasi aku juga mendapat
hal yang aku harapkan. Aku mendapat pengalaman dan pelajaran yang sangat
berharga. Aku juga tidak begitu mempedulikan kota mana yang nantinya akan
menjadi tempatku bekerja. Lagipula, Allah sudah mengatur jalan rezeki sudah
sejak ruh ditiupkan ke ragaku. Aku tidak begitu mempermasalahkannya.
Kenapa sesantai itu?
Aku percaya Allah dan segala rahasia-Nya.
Mungkin itu sudah cukup menjelaskan mengapa aku sangat tidak mempermasalahkan
dimana saja nantinya aku ditempatkan.
Dan hari ini, nilai semester genapku keluar.
Setelah sempat jatuh di semester awal, aku berhasil memperbaikinya. Aku
berhasil terbangn dan melihat kegagalan adalah sebuah pelajaran yang berarti.
Nilaiku terhitung memuaskan. Aku menangis seketika. Sangat tidak percaya dengan
pencapaianku hari ini. Aku sangat menghargai segala usahaku kemarin. Meskipun
ada banyak teman yang mungkin jauh lebih pandai dan nilainya lebih baik, aku
tidak peduli. Ini bukan saatnya membandingkan diri kita dengan orang lain.
Ayolah, kita sudah cukup dewasa untuk tidak
iri dengan pencapaian orang lain.
Aku tidak menghiraukan bukan karena aku tidak
bersimpati. Aku hanya sedang berusaha membuat hatiku selalu berlapang dada dan
mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Setelah apa yang aku dapatkan di
semester sebelumnya, aku sangat bahagia dengan apa yang aku peroleh setelah
berusaha berjuang lebih keras lagi. Ini seperti hadiah untuk diriku sendiri,
untuk jerih payah, untuk segala pengorbanan yang kulakukan sepanjang semester
genap.
Hari ini, aku tidak mengharapkan banyak hal
dari hasil yang kuterima. Aku hanya mengharapkan kelapangan hatiku untuk selalu
siap menerima pengalaman lain di hari-hari yang akan datang. Dari pengalamanku yang lalu, aku mendapat
satu pelajaran penting yang benar-benar menancap di benakku.
“Ini bukan seberapa sering kau terjatuh. Ini adalah tentang seberapa kuat kau berdiri lagi setelah jatuh berulang kali. “
Tidak ada bahagia tanpa pengorbanan. Kita
tidak diciptakan untuk bahagia, kita diciptakan untuk berjuang. Jangan terlalu nyaman, jangan terlalu sering
memupuk rasa bahagia yang melenakan. Bekerja keras dan berjuanglah karena tidak
ada hasil yang maksimal tanpa jerih payah yang melelahkan.
Comments
Post a Comment