Menjadi Pengguna Sosial Media yang Bijak (Bagian Satu)



Akhir-akhir ini seperti yang kita ketahui, Instagram menyediakan fitur terbarunya  berjudul “Ask me question” dimana fitur ini sedang diperdebatkan oleh banyak orang dikarenakan penggunaannya yang tidak sesuai harapan. Fitur terbaru Instagram ini menuai pro kontra terkait fungsinya yang dinilai tidak digunakan secara benar oleh para penggunanya. Perdebatan ini menimbulkan dua kubu pengguna, yaitu kubu mereka yang mendukung penggunaan sesuai pengetahuan mereka dan mereka yang tidak menyukai penggunaan yang tentunya tidak sesuai.
Aku di sini berada di kubu netral, karena aku sendiri tidak terlalu excited dengan fitur baru ini. Aku bukan pengguna Instagram yang bersifat adiktif dan cenderung menjadi orang yang terkesan ‘bodo amat’ dengan beberapa fitur kekinian yang digilai para remaja pada umumnya. Aku berdiri di tengah-tengah, tidak membela salah satu maupun keduanya. Aku juga terhitung hampir tidak menggunakan beberapa fitur Instagram terbaru.

Perdebatan ini dimulai dari beberapa hari yang lalu dimana Instagram mengeluarkan fitur terbarunya itu. Para pengguna yang sudah memperbarui aplikasi ini berbondong-bondong mencoba fitur yang sangat ramai diperbincangkan. Dengan menginput fitur ini di story Instagram mereka kemudian menguploadnya, maka para pengikut mendapat kebebasan untuk melontarkan pertanyaan yang nantinya akan masuk ke notifikasi akun kita. Banyak orang sibuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan, banyak orang pula sibuk bertanya kepada beberapa orang yang diikutinya.


Awalnya aku mulai curiga, “ Apabila fitur ini dipergunakan untuk mengirim pertanyaan, lalu apa bedanya dengan direct-message. Lalu apabila memang benar untuk bertanya kepada seseorang, bukankah dengan menunjukkan username-nya maka tidak akan membuat orang leluasa untuk bertanya? Bukankah kebanyakan orang pasti ingin bertanya tetapi malu dengan identitasnya? Lalu dimana letak istimewanya fitur ini?”

Belum sempat rasa curigaku terjawab, salah seorang temanku menceritakan apa fungsi sebenarnya dari fitur ini. Rupanya fitur ini merupakan pengembangan fitur polling yang disediakan Instagram, dimana kita dapat meminta pendapat para pengikut kita terkait hal yang meragukan untuk kita. Pada fitur sebelumnya (polling) kita hanya mampu memberi jawaban YES / NO. Sedangkan fitur terbaru ini mampu memberi kebebasan para pengikut untuk menambahkan komentarnya.

Sontak beberapa pengguna yang merasa tidak setuju dengan ‘salah’nya penggunaan fitur ini, menghujat habis-habisan pengguna yang sudah terlanjur mencobanya. Meski tidak semua pengguna menghujatnya, tapi ada saja satu/dua pengguna yang melontarkan kata-kata yang tidak pantas. Di sini kekesalanku muncul. Hal pertama yang terlintas di benakku adalah “Apakah kesalahan penggunaan fitur tersebut merugikan mereka? Mengapa mereka menghujat terlalu berlebihan?” Beberapa di antara mereka bahkan aku nilai terlalu menghakimi melebihi batas wajarnya, mengatakan kata-kata yang tidak sepantasnya. Bukankah kesalah adalah sebuah kewajaran? Dan bukankah hal ini tidak merugikan untuk siapapun?

Baik pihak Instagram maupun para pengguna tentu tidak ada yang dirugikan dengan salahnya penggunaan fitur ini. Bukankah kita juga mempunyai hak untuk menyembunyikan story Instagram teman kita bila kita tidak menyukainya? Lalu mengapa harus menghujatnya habis-habisan. Bukankah masih banyak kata-kata yang baik, sopan, dan santun untuk memberikan edukasi pada orang lain?

Kita sebagai manusia cenderung bangga melihat orang lain jatuh. Entah mengapa, beberapa sikap netizen tidak pernah terlihat bahagia melihat orang lain bahagia? Aku tidak tahu mengapa begitu sulit untuk beberapa orang mengubah pola pikirnya agar tidak berlebihan menilai keburukan seseorang. Bukan berarti juga satu kesalahan yang dilakukan seseorang mencerminkan seluruh isi otaknya. Bukankah kata-kata yang kita keluarkanlah yang mencerminkan apa yang ada di otak kita?

Mungkin memberi informasi boleh, sangat disarankan bahkan. Tapi, alangkah baiknya kita menyampaikan hal-hal tersebut dengan baik agar tidak melukai perasaan orang lain? Bukankah kita juga diajarkan cara bertutur kata halus dan etika yang baik selama kita menempuh pendidikan?  

Selain itu sebagai generasi muda, pengguna sosial media yang bersifat dominan, mungkin kita tidak terlalu bijak menjadi pengguna sosial media. Alangkah baiknya kita menjadi pengguna yang baik, menjadi generasi penerus yang membawa pengaruh positif, serta berguna bagi nusa, bangsa, dan negara. Bukankah kita harus lebih bijak menggunakan sosial media sebagai media edukasi dan komunikasi?  Bukan hanya mengejar popularitas atau cap ‘kekinian’, bukankah kita harus terlebih dahulu mempelajari sesuatu, mencari banyak informasi, memastikan apa yang kita lakukan benar sesuai peraturan penggunaannya?

Jangan menjadi generasi yang selalu ingin dipandang kekinian, karena kekinian tidak menentukan masa depanmu. Menjadi orang yang banyak tahu hal baru itu boleh, tapi jangan asal ikut-ikutan. Kita haruslah bijak menggunakan sesuatu, apalagi sesuatu yang benar-benar baru. Kita juga harus mengesampingkan keinginan kita melakukan apa yang dilakukan orang lain. 

Bukankah menjadi bijak dalam menggunakan sesuatu bukan berarti menjadi yang terbelakang?



Comments

Popular Posts