Kita yang Berjarak



Setelah sekitar tiga bulan tidak pulang, aku menemukan banyak beda yang membuat aku tersadar bahwa saat aku jauh, terkadang tidak semua cerita berjalan baik-baik saja.

Selamat Mudik!

Selamat melepas rindu yang akhirnya berujung dengan temu!

Terlebih dahulu aku ingin mengucapkan selamat pada kalian yang akhirnya kembali pulang setelah sekian lama jarak membuat berjauhan dan memisahkan raga yang saling merindukan. Libur hari raya Idul Fitri kali ini sepertinya cukup mengobati perasaan rindu yang menggebu ingin berakhir dengan temu. Semua rasa yang ditahan beberapa waktu lamanya, akhirnya perasaan rindu itu pun sedikit memudar dan usai setelah akhirnya disambut bahagia oleh 'rumah‘.

Tiga bulan sejak libur semester ganjil usai, aku tidak pulang ke rumah. Aku rindu, aku ingin bertemu, aku ingin kembali merasakan nyaman yang sudah sulit kurasakan di tanah rantau. Semenarik apapun Jakarta dan semua orang-orangnya, aku akan selalu rindu Semarang. Sampai kapanpun. Tanah kelahiranku itu menyimpan banyak kenangan, banyak cerita yang apabila kuputar ulang di ingatan akan membuatku tersenyum membayangkannya.


Aku sampai di rumah pada Selasa malam, sekitar pukul 23.00 WIB.

Pelukan erat orangtuaku seolah menjadi pertanda bahwa mereka jauh lebih rindu aku dari apapun. Aku paham bagaimana rasanya, meski sebagai seorang anak mungkin rinduku tidak pernah sebesar mereka. Setelah melewati malam yang panjang, akhirnya aku juga mampu berjumpa sanak saudaraku yang memang kebetulan tempat tinggalnya bersebelahan denganku. Dan ketika aku berkunjung, aku cukup dibuat tertegun selama beberapa menit pertama.

Rupanya, beberapa bagian rumahnya sudah berubah dan itu cukup asing untukku. Bahkan saat aku mengunjungi nenekku dan memijat kedua kakinya yang dikeluhkan sakit, aku kembali tertegun. Nenekku pun sekurus itu kini, tubuhnya makin tak berdaya seiring usianya yang menua. Aku kembali tertegun. Mama hanya menceritakan segala hal yang baik-baik saja selama ini, tidak menceritakan nenekku yang kian melemah, pun juga beberapa permasalahan yang kuketahui setelah pulang hari ini.

Aku lagi-lagi tertegun.

Aku tersadar.

Apa yang mamaku ceritakan selama ini hanya agar membuatku tidak khawatir, sebenarnya di sini terjadi banyak perubahan yang membuatku cukup kaget. Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri karena tidak menyadari bahwa keadaan nenekku tidak sebaik seperti apa yang diceritakan. Seharusnya aku sadar dari awal bahwa jarak memang mungkin tidak memisahkan hati, tetapi jelas raga yang berjauhan akan sulit mengerti bagaimana keadaan sebenar-benarnya yang terjadi.

Aku sangat menyayangkan perubahan-perubahan kecil itu. Meski sederhana, itu membuat aku seperti tertampar kenyataan karena harus menerima segala hal yang tidak biasa untukku. Dengan aku yang berada jauh dari mereka, tentu aku menjadi tidak terlalu paham betul dengan keadaan rumahku dan orang-orang yang berada di sana. Aku hanya mendengar segala kabar baik dan tidak diijinkan mendengarkan beberapa keburukan hanya agar tidak membuatku khawatir.

Mungkin awalnya terdengar cukup tega. Tetapi, aku mengerti bahwa orangtuaku melakukan itu untuk melindungiku dari rasa sedih. Mungkin aku akan semakin sedih, semakin kecewa dengan diriku sendiri karena tidak mampu meluangkan banyak waktu untuk pulang. Dan kedua orangtuaku akan selalu berusaha membuatku tetap bahagia meski raga mereka berjauhan denganku.  

Pikiranku terbang jauh, lalu apakah perpisahan jarak selanjutnya juga akan membuatku selalu pulang dengan tertegun?

Entahlah, kali ini hanya waktu yang mampu menjawabnya.


Comments

Popular Posts