Ini Ramadhanku, Mana Ramadhanmu?



Ramadhan kali ini terik mencekik. Bukan hanya karena cuaca memang sedang panas-panasnya, tetapi karena rindu yang terhimpit waktu. Bahkan selama beberapa bulan terakhir ini, jarak mempersulit temu untuk bersatu. Mata yang saling bertatap, cerita-cerita yang saling terlontar, gurauan yang menimbulkan gelak tawa, semua yang dulunya amat biasa, kini menjadi sesuatu yang amat mahal harganya.

Sungguh, teriknya Jakarta tidak ada apa-apanya dengan tercekiknya leherku oleh pekat rinduku. Bangun sahurku, hanya ada tembok yang berhadapan, seolah menjadi saksi bisu saat aku terjaga dalam malam yang terasa amat panjang. Putih tulang tanpa suara itu mengenyam sendiri bagaimana isak tangisku saat membuka mata, dan hanya kutemui aku dan diriku di sana.

Aku, hanya mampu memberikan diriku. Sejauh mata memandang masa depan, sepanjang pikiran berangan-angan, selelah apapun kaki ini berlari mengejar impian, aku hanya akan mampu memberi diriku. Seutuh-utuhnya, sebaik-baiknya, seluruhnya. Bukan harta, bukan emas, atau permata. Bukan pakaian mahal, bukan makanan enak, bukan fasilitas lengkap. Sebagai anak, sekarang aku hanya mampu memberikan diriku.


Delapan belas tahun lebih beberapa hari aku hidup bergantung pada kuatnya kemampuan orangtuaku untuk menopangku, nyatanya aku baru sadar bahwa tidak ada hal yang lain yang mampu membahagiakan, selain kehadiran. Detik demi detik terasa bertahun-tahun, jemari selalu mengulang untuk menghitung hari, semakin cepat waktu bergulir, semakin cepat pula temu mampu menyembuhkan rindu. Entah, bagaimana seharusnya aku mengutarakan rasa rinduku, yang jelas aku sangat menginginkan mereka ---kedua orangtuaku.

Ramadhanku memang tidak terlalu istimewa, hanya sederhana dan jauh dari yang kalian kira. Tapi rasa-rasanya setiap hariku pada Ramadhan tahun ini memperbaiki jiwaku lebih dari Ramadhan-ramadhan sebelumnya. Entah bagaimana cara Allah membuatku semakin kuat pada Ramadhan kali ini, yang jelas meski jauh dari kata sempurna, nyatanya Ramadhanku tetap memberi kesan tersendiri di bilik kenangan dalam benakku.

Aku melewati hari demi hari dengan penuh penantian akan datangnya hari kemenangan, menjalani rutinitas yang selalu sama dan berulang setiap harinya tanpa bosan. Sangat jauh berbeda dengan Ramadhan yang biasanya ditemani makanan buatan mama, kali ini masakanku selalu menghiasi meja tempatku makan. Dengan menu kurma menjadi takjil favoritku, aku bahkan memilih untuk sama sekali tidak menyantap es buah atau goreng-gorengan. Dari segi kesehatan, Ramadhanku tahun ini dipenuhi menu yang menyehatkan.

Sungguh, yang istimewa dari Ramadhan kali ini adalah sebuah perubahan dalam diriku. Banyak yang berubah, lebih dari yang aku kira. Aku yang merangkak menjadi pribadi yang baru semenjak aku kuliah, Ramadhan kali ini aku bukan sekadar merangkak, aku mulai belajar berjalan. Tertatih-tatih awalnya, namun lama-kelamaan mulai terbiasa. Aku sangat menikmati Ramadhan tahun ini, sangat-sangat bahagia menjalani setiap harinya.

Bukan hanya itu, Ramadhan kali ini aku untuk pertama kalinya merasakan apa yang namanya ‘mudik’.

Lucu memang mengingat aku tidak pernah merasakan hal itu. Bagaimana lagi, ayah dan ibuku adalah tetangga semasa muda sehingga rumah kakek dan nenekku serta sanak saudaraku kebetulan berada di satu lingkungan yang sama. Ini unik. Untuk penantian yang panjang, belasan tahun, akhirnya aku menikmati apa arti ‘mudik’ yang sebenarnya. Ternyata teman-teman, mudik itu nikmat.

Sekarang, Ramadhan tak terasa akan segera berakhir. Kita sudah memasuki episode terakhir buka bersama dan sahur. Aku sungguh sedih, teramat sanagt sedih. Lebih dari kesedihanku pada Ramadhan sebelumnya, kali ini aku bahkan sesekali menitikkan airmata mengingat Ramadhan akan segera usai. Aku belum benar-benar baik dalam hal memperbaiki diriku tahun ini, aku sungguh menyesal. Aku masih sangat menikmati Ramadhan, aku sangat menyayangkan bahwa rupanya Ramadhan harus pergi.

Aku akan sangat merindukan Ramadhan, aku berharap masih diberi kesempatan untuk dipertemukan dengan Ramadhan selanjutnya karena aku masih terus ingin memperbaiki Ramadhan-ramadhanku. Satu hal yang sangat membekas di benakku, bahwa memang seharusnya kita tidak perlu menanti Ramadhan untuk memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan. Pun juga tidak harus menunggu Idul Fitri untuk meminta maaf atas segala kesalahan.


Comments

Popular Posts