Perempuan yang Tak Pantas Kau Sakiti


Kau pernah berkaca? Pernahkah kau menilai seberapa tampan wajahmu? Lalu seberapa tampan menurutmu? Pernah merasa bahwa kau adalah laki-laki paling tampan di dunia? Pernahkah kau merasa bahwa kau pantas mendapat perempuan seperti dia karena ketampananmu? Bahkan sebenarnya bila dia bisa memilih laki-laki lain yang jauh lebih tampan darimu, mungkin dia bisa memilih lelaki lain. Tapi kau tahu apakah dia melakukan itu? Tidak.

Dia tidak pernah menilai fisikmu meski dia mengetahui segala kurangnya dari fisikmu. Dia tidak pernah membencimu hanya karena rambutmu mulai memanjang dan dia tidak menyukai itu, dia tidak pernah meninggalkanmu hanya karena pakaianmu tidak pernah rapi saat menemuinya, dia tidak pernah membencimu meski penampilanmu mungkin tidak sesuai ekspektasinya. Dia hanya menegurmu, membantumu memperbaiki kekuranganmu, membuatmu terlihat lebih baik di depan orang lain.

Katanya,

“Tidak apa-apa kamu terlihat buruk di depanku, tapi terlihatlah baik di depan orang lain. “

Kau pernah menilai seberapa pandainya dirimu? Kau pernah menilai seberapa cerdasnya otakmu dalam hal akademik?  Pernah menilai seberapa pandainya dirimu dalam memperlakukannya sebagai seseorang yang istimewa? Apakah kau yakin bahwa penilaiannya terhadap dirimu setinggi kau menilai dirimu? Tetapi sadarkah kau bahwa dia tetap mencintaimu dengan segala kebodohan yang pernah kau lakukan. Pernahkah kau membayangkan seberapa besar hatinya karena tidak mempedulikan  bodohmu, tidak memperhatikan nilai – nilai akademikmu. Dia hanya menegurmu, membantumu memperbaiki sikapmu, mengingatkanmu akan keburukan yang harus kau perbaiki. 

Katanya,  


“Jangan berangkat terburu-buru, rajinlah belajar, perbaikilah dirimu, jagalah solatmu.”


Kau pernah melihat masa lalumu? Pernahkah kau menilai seberapa buruknya itu? Pernahkah kau menghitung berapa kali kau membuat dia menangis karenamu? Lalu apa yang dia lakukan sekarang? Tetap bertahan mencintaimu bukan? Dia tidak peduli apa yang telah kau lakukan hingga membuatnya menangis. Dia tidak mempedulikan seberapa dalam sakit yang kau berikan, dia tidak mempedulikan keburukanmu karena dia mencintaimu.

Pernahkah kau tanyakan pada dirimu sendiri,


“pantaskah dia kau sakiti?”


Pantaskah perempuan yang sering menyebutmu dalam bait doanya, perempuan yang sering menangis karena perlakuanmu, perempuan yang mencintaimu dengan utuhnya, kemudian kau sakiti lagi dan lagi?

Pantaskah dia yang melupakan kurangmu, dia yang percaya pada tiap perkataanmu, dia yang dengan rela menerima sakit darimu, lalu kini kau khianati untuk kesekian kalinya?

Bila dia bisa pergi, mungkin dia akan pergi sejak kemarin. Sejak ragamu sudah tak mampu berada di depan matanya, sejak hatimu sudah mulai melangkah meinggalkannya. Bila dia bisa pergi, dia memiliki banyak alasan untuk pergi. Dan sayangnya, perempuan selembut dia hanya mampu menangisi kebodohanmu. Bahkan dalam tangis yang mengalir di pipinya, dia masih saja terus memberimu pembelaan atas perilakumu.

Katanya, 

Dia hanya lupa pulang” 


Dia bahkan meyakini suatu saat kau akan kembali. Dia masih terus mengingat dan menggenggam janji yang kau ciptakan sendiri. Padahal dia tahu, dia kini tidak sebodoh beberapa waktu lalu saat dia sadar bahwa kau tidak akan menepati janjimu lagi. Karena kau pun sebelumnya tidak pernah menepati itu padanya.

Dia masih saja menyebut namamu dalam bait doanya, menyemogakan kau berbahagia di sana, meski dia tahu raga dan hatimu bukan lagi miliknya. Dia hanya menganggapmu lalai, dan dia memang sebodoh itu dalam perihal mencintaimu. Bahkan pada dirinya sendiri, dia tidak mampu berjanji untuk melupakanmu sepenuhnya. Bagaimana pun, kau pernah mnejadi manis untuk pahit yang akhirnya kauberi. Dia tidak peduli seberapa jauh kau melangkah pergi darinya, dia tetap tinggal dan memilih mendoakan pulangmu di masa depan. Dia tetap mengharapkan kau bisa berbahagia, meski tidak bersamanya.

Dia adalah perempuan yang kau tinggalkan dengan sebegitu teganya. Dia perempuan yang mencintaimu apa adanya sejak lama. Mungkin bisa saja dia mencari-cari yang lebih darimu, yang bisa memperlakukannya sebaik yang dia inginkan, tetapi dia memilih sendiri. Dia memilih menutup hatinya, dia memlih menelan sakit itu seorang diri. Mungkin dia mendoakan karma untukmu, tapi dia selalu mendoakan agar itu bisa menjadi sebuah hadiah yang manis daripada pukulan yang sakit. Dia adalah perempuan yang sangat takut kau datang, dia adalah oerempuan yang sering terbangun tengah malam karena mimpinya berisi tentang kamu, dan menurutnya itu adalah mimpi terburuknya sejauh ini.

Dia sebelumnya adalah perempuan yang rela kau bodohi, perempuan yang percaya bahwa kau tidak akan mencari pengganti, dia adalah perempuan yang sebenarnya mengerti segalanya tentangmu waktu itu, dan ia tetap bertahan mencintaimu. Dia mencintaimu, membelaimu dalam doa demi doanya.

Jika kau menilai dia jahat, sekarang coba kutanyakan.


“Bila dia jahat, lalu kau apa?”


Lihatlah dia, perempuan yang selalu berusaha menguatkanmu, perempuan yang mengingatkanmu agar kau lebih baik dari itu, perempuan yang menginginkanmu dipertemukan dengannya di surga, perempuan yang dengan segala sabarnya selalu mengalah atas marahmu, perempuan yang dengan ikhlasnya selalu tersenyum meskipun sebenarnya dia hancur. Dialah perempuan yang pernah mencintaimu sebesar dan setulus itu. 


“Masih pantaskah kau mengkhianati? Masih pantaskah kau mengatakannya perempuan yang buruk untukmu?”



Seharusnya kau malu, seharusnya kau berkaca dan berusaha membahagiakannya. Seharusnya kau tidak setega itu padanya lagi dan lagi. Seharusnya kau sadar, bahwa perempuan pengganti dirinya belum tentu bertahan meskipun kau sakiti berulang kali. Dan tidak seharusnya kau mengatakan perempuan yang ada di pelukanmu saat ini jauh lebih baik dari dia. Seharusnya kau bungkam, kau menyesal sudah pernah menyia-nyiakan. Seharusnya kau memperbaiki dirimu untuk lebih baik dari dahulu, bukannya merusak citramu di hadapannya. Seharusnya kau juga malu, bahwa nyatanya dia mengetahui semua perilakumu di belakangnya, permainanmu dengan perempuan lainnya. Dia tahu semuanya. 

Dia tahu kau sejak lalu mengkhianatinya. Dia juga tahu bahwa kau pernah berkata, dia bukanlah satu-satunya. Seharusnya, kau belajar dewasa atas dia. Kau tahu, mungkin dia memang bodoh karena cintanya padamu. Tetapi kau lebih bodoh karena menyia-nyiakan perempuan sepertinya. Suatu saat kau akan menyesal, karena mungkin jika kau bertemu dengannya lagi, dia yang dulu telah pergi. Dia tidak lagi kembali, dia tidak akan sama seperti dulu lagi. Dan mungkin, dia tidak akan mau mengenalmu lagi.








Comments

  1. Ku tinggalkan jejakku disini, meskipun ini my 2nd acc wkwkwk.. selalu suka caramu memilih kata bby 💕

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts