Untuk Hati yang Patah
Semua hal yang
hadir dalam hidup kita sebenarnya bukan tanpa disengaja. Tuhan pasti sudah
menggariskan apa yang seharusnya ada dalam hidup kita. Memang benar bila nasib
adalah perkara pilihan hidup seseorang, tetapi sebenarnya di antara
pilihan-pilihan yang ada maka Tuhan sudah menggariskan apa yang seharusnya
milik kita dan apa yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Sejauh kaki
melangkah dan mengambil banyak pilihan, sebenarnya yang benar-benar menjadi
pilihan adalah seberapa kuat dan sanggup diri kita melawan hawa nafsu yang
menggoda untuk mengambil pilihan yang mampu menjerumuskan.
Semua
sebenarnya perkara pribadi masing-masing. Menjadi taat dan sukses meraih
kebahagiaan dunia maupun akhirat adalah perkara pribadi masing-masing.
Bagaimana diri kita mempertahankan apa yang seharusnya dipertahankan, dan
bagaimana diri kita mampu menolak yang tidak seharusnya dijadikan sebuah
pilihan. Banyak pilihan datang dan silih berganti, bentuknya berbeda-beda dan
makin hari makin banyak rupa. Termasuk perihal cinta.
Perlu
diketahui, setiap orang yang hadir dalam hidup kita adalah sebuah takdir yang
telah digariskan. Orang-orang yang datang ataupun pergi adalah pemeran
dalam sebuah jalan cerita yang sudah
diskenariokan Tuhan. Orang-orang yang hadir lantas tinggal terkadang
benar-benar datang sebagai pembawa kebaikan dan bisa juga berbalik untuk hanya
sekadar pemberi pelajaran. Banyak hal yang kita rasa sebagai sebuah sakit dan
patah adalah sebuah takdir yang miris dan membuat kita menderita. Sebenarnya,
patah adalah sebuah takdir dan menderita adalah sebuah pilihan.
Seberapa kita
mampu menguatkan hati kita untuk kemudian bangkit dan beranjak adalah sebuah
pilihan terbaik daripada terus menerus jatuh dalam kubangan dalam bernama
kenangan. Bukan hal mudah memang untuk melupakan, karena terkadang beberapa
orang memberi sebuah manis yang sangat sulit dilupakan. Dan terkadang di antara
mereka juga membawa pahit yang membuat kecewa. Tetapi, pada akhirnya hati akan
sembuh oleh waktu. Hati akan kembali baik meski dengan luka-luka yang belum
sepenuhnya mengering sempurna. Lagi-lagi semua tergantung pribadi kita apakah
akan lebih mendekatkan diri pada Tuhan atau justru pergi dari jalan yang sudah
seharusnya diluruskan.
Banyak
kejadian, kehadiran, maupun kepergian dipandang sebagai sesuatu yang tidak
disengaja. Padahal, dalam jalan kehidupan kita sebenarnya Tuhan sudah
menggariskan tentang sebuah pertemuan dan sebuah perpisahan. Satu hal yang
layak ditakuti saat hati ini senang bertemu seseorang yang sesuai dengan hati,
adalah perpisahan. Karena kelak cepat atau lambat pun, orang-orang yang kita
cintai akan pergi satu persatu, siap tidak siap. Terlalu banyak ketakutan yang
seharusnya tidak dipikirkan, tetapi ketakutan-ketakutan itulah yang seharusnya
membuat kita belajar menghargai sebuah kehadiran.
Karena pada
akhirnya, akan ada waktu dimana mereka yang peduli bisa saja tidak mau
mengerti. Mereka yang biasanya sabar, bisa saja lelah dan enggan bertahan.
Mereka yang biasanya percaya bisa saja menolak mendengarkan penjelasan. Dan
suatu saat nanti, ketika kita sudah terlambat mengerti apa arti menghargai
kehadiran mereka dalam hidup kita, maka kita akan menemukan sesuatu yang hilang
dan tidak akan lagi ditemukan. Seseorang yang biasany selalu menerima apa
adanya, seseorang yang selalu membuka hatinya, merelakan waktunya, mendengarkan
cerita demi cerita bisa jadi memilih pergi dan tidak lagi kembali.
Ketika sebuah
kehadiran tidak lagi dihargai, akan ada saatnya seseorang yang pergi akan
dirindukan dan sulit ditemukan. Akan ada penyesalan-penyesalan yang timbul
belakangan. Ketika raga mungkin sudah bertemu dengan hati yang lainnya, maka
nyatanya jiwa masih berkutat pada satu hati yang sama. Hati mungkin saja masih
akan selalu lebih bahagia dengan masa lalu yang memilih menghindar dari hidupmu.
Hati mungkin saja akan terus baik-baik saja dengan hadirnya dia yang dulu
sempat tidak dihargai hadirnya hanya perkara alasan “ada yang jauh lebih
menarik”.
Kelak, perkara
takdir berupa pertemuan membuatmu sadar bahwa siapa saja bisa pergi secepat
itu. Siapa saja yang hadir bisa saja terbaik bagimu, tetapi memilih hilang
karena tidak lagi adanya sebuah rasa yang dirawat seperti dia merawat rasanya.
Karma akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Yang memilih pergi dan
menghilang juga suatu saat akan menemukan yang jauh lebih baik dalam hal
merawat hatinya. Dia akan menemukan yang lebih baik dalam hal menyembuhkan
luka.
Karena
menghargai sebenarnya bukan sekadar tentang kasta, tetapi tentang hati yang
selalu dijaga, tentang cerita yang selalu didengarkan, tentang kurang yang
selalu digenapkan, dan tentang janji yang selalu dipercaya. Sayangnya,
lagi-lagi tidak semua orang mampu melihat sebuah kebaikan dari kehadiran. Tidak
semua orang mampu melihat kecukupan dari seseorang yang memilih tinggal dan merawatmu
dengan lukanya. Hingga mungkin, suatu saat nanti akan ada yang menyesal telah
menyia-nyiakan dan menyesal telah mengabaikan.
Untuk kalian
yang akhirnya lelah dan memilih pergi, berbahagialah nanti. Suatu saat kalian
akan sadar bahwa mungkin itu cara Tuhan menunjukkan siapa yang benar-benar
pantas diperjuangkan. Untuk hati yang akhirnya dibuang, kalian akan menyadari
bahwa kalian terlalu manis untuk disia-siakan. Kelak, kalian akan menemukan
seseorang yang mampu menjaga sepenuhnya lebih dari yang kalian harapkan.
Untuk hati
yang sering patah, sembuhlah!
Comments
Post a Comment