Surat Terbuka Untukmu, Masa Laluku
Tahap tertinggi dari mencintai
adalah merelakan. Sesakit apapun yang sebenarnya dirasakan, merelakan adalah
sebuah bentuk nyata arti cinta. Merelakan dia tersenyum meski bukan lagi aku
sebagai alasannya, adalah kesakitan tetapi lama-kelamaan juga ternyata membuatku
turut tersenyum melihatnya bahagia. Aku tidak peduli pada akhirnya bila aku
yang dibuang. Aku tidak apa, asalkan itu membuatnya bahagia. Bukankah hidup
adalah perkara pilihan? Dipilih atau memilih?
Aku memilih melepaskan, kembali
berdiri setelah lama terpuruk dalam sepi yang membuatku kalut beberapa waktu
lamanya. Tapi, bukankah cinta adalah ketika kita senang melihatnya bahagia?
Walaupun, nyatanya mana ada yang baik-baik saja ketika menyadari bahwa tidak
mampu memiliki. Namun, apa artinya ada tetapi hanya menjadi angin dan
penghalang untuk hidupnya. Mungkin alasan demi alasan banyak yang membuatku
bertahan kemarin, mungkin juga banyak bahagia yang ia tinggalkan dalam buku
kenangan di benakku, tetapi apa artinya bila nyatanya usahamu tidak pernah
menjadi berarti dan selalu dipandang sebelah mata hanya karena ragamu tidak
mampu memberi hadir pada setiap waktu?
Bila ditanya, mencintai atau
tidak, jelas aku mengangguk pertanda mengiyakan. Justru karena aku mencintai,
aku memilih meninggalkan. Aku harus menelan rindu-rindu keparat itu sendirian.
Aku harus memilih berjalan di jalan yang sudah aku tentukan. Tidak lagi aku
memintamu menggenapkan jemari tanganku, tidak lagi. Karena aku sudah lama
belajar memahamimu sangat dalam, semakin dalam semakin aku harus tenggelam pada
kenyataan bahwa kamu tidak lagi menginginkanku. Mungkin pahit, tetapi apa sih
yang tidak aku lakukan untuk membuatmu bahagia?
Bukankah sebelumnya dalam setiap
perdebatan kita, aku selalu mengalah untuk membuatmu tetap berada di sisiku?
Seharusnya aku menyadari mulai saat itu juga aku sudah mulai belajar mengalah
dan menyimpan egoku hanya untuk membuatmu tersenyum. Dan kini, aku memilih
mengalah untuk membuatmu mendapat bahagia yang sebelumnya mungkin belum kamu
dapatkan. Hadirnya orang-orang baru akan selalu menarik untukmu bukan? Jauh lebih
menarik daripada layar ponsel yang kamu tatap setiap malam saat membalas pesan
dariku.
Aku tahu aku membosankan, aku
tahu aku juga tidak menyenangkan. Aku tahu aku sulit untuk diajak pergi
keluar, aku tahu kamu terkadang ingin marah dan berontak atas semua perlakuanku
padamu kala itu. Aku tahu karena memang sudah sejauh itu aku mengerti tentang
kamu. Aku tahu bahwa aku bukanlah wanita yang kau harapkan ada di sampingmu
setiap waktu. Bahkan, pada akhirnya setelah kamu menemukan dia. Meskipun saat
itu masih ada aku, aku memilih diam. Aku hanya ingin melihat seberapa kuat kamu
menahan dirimu untuk berada bersamaku melewati sulit demi sulit tiap waktu.
Aku bukan hanya menyerah dan
lelah atas kamu, tapi lagi-lagi aku memilih mengalah. Aku merasa, dua tahun
adalah waktu yang cukup lama untuk menyelami dirimu. Aku merasa, mungkin sudah
seharusnya aku membiarkanmu lepas dan tidak lagi terikat denganku. Mungkin kamu
jenuh, apalagi dia lebih menarik
hadirnya daripada aku –orang lama untukmu. Aku membiarkan bunga-bunga di hatimu
untuknya berkembang dengan elok. Aku membiarkan, karena aku sadar setiap orang
yang hadir dalam hidup pasti membawa peranan penting lebih dari yang kita tahu.
Bahkan bila aku bisa memutar waktu, aku ingin meminta pada Tuhan agar aku tidak
dipertemukan olehmu. Sehingga aku tidak merasa sakit atas pergimu,
sehingga aku tidak merasa sedih saat aku merindu kamu, sehingga aku benar-benar
tidak pernah merasakan pahit atas kenangan-kenangan buruk yang pernah ada
dengan hadirmu. Tetapi, bukankah nyatanya Tuhan mengirimmu untuk membuatku belajar? Ya, Tuhan mengirimmu untuk membuatku mengerti dan memahami insan lain
yang bertolak belakang dengan sifatku. Aku belajar bagaimana harus ikhlas
ketika memilih melepas.
Kaki-kakiku memang kini mampu
berdiri dengan segala daya yang aku punya, senyumku melihatmu bahagia juga
pertanda bahwa aku sudah bisa melihatmu tersenyum bersamanya, dan tiap-tiap
kata yang tertulis menjadi bukti bahwa dulu aku pernah mencintaimu sedalam ini.
Menjadi saksi, bahwa ada perempuan yang pernah mencintaimu setulus itu, dan dia adalah aku.
Aku adalah perempuan yang mungkin pernah
menyakitimu, mungkin juga pernah memberi kenangan yang sedikit namun tidak akan
pernah kamu lupakan. Awalnya sulit, apalagi ketika aku berusaha baik-baik saja
dengan langkah yang kuambil menjauh darimu, menghilang dalam kelam, tenggelam
dalam laut yang bernama luka. Mungkin luka yang kemarin masih ada dan
perih rasanya, tetapi bisa jadi luka itu sekarang kering oleh waktu. Aku tidak peduli
seberapa jauh aku pergi, tetapi selama itu membuatmu mampu menikmati hidupmu
dengan bahagia-bahagia yang tidak mampu aku beri, mengapa tidak?
Aku pernah mencintaimu sejauh
itu, hingga aku selalu menerimamu saat kembali lagi padaku. Berulang kali. Dan aku
selalu membuka hatiku, melebarkan dua tanganku untuk memelukmu, menyiapkan
telingaku mendengar semua cerita yang kamu bawa pulang padaku. Aku selalu
menerima, meski akhirnya aku yang sakit juga. Tak apa. Bila orang berkata aku
sebodoh itu mau menerimamu lagi dan lagi. Tapi, bukankah cinta memang berbeda
tipis dengan bodoh yang ada saat selalu menerima? Bukankah cinta sebenarnya tidak
pernah hilang, namun ia hanya istirahat saat mengerti bahwa usahanya selalu tidak berarti?
Dan sekarang, mungkin bila aku
mau, aku bisa merebutmu dari dia. Membiarkanmu kembali pulang padaku dengan
segenap luka yang sebelumnya kau
biarkan menganga. Tapi sungguh, aku tidak mau. Mana tega aku membiarkan perempuan
lain menangis karena hadirku? Mana tega aku membiarkan senyum manisnya berubah
sendu saat tahu kekasihnya lebih memilih aku? Jelas tidak. Aku bukan perempuan
sejahat itu, aku bukan perempuan yang tega merenggut kebahagiaan orang lain
dengan segala kemampuanku. Biar aku yang menelan sakit itu, biar aku yang
menangis saat melihatmu lebih mengejar dia daripada aku. Tidak apa-apa.
Aku tidak berdusta. Tetapi aku
tidak pernah tega membiarkan senyumannya berubah air mata hanya karena aku. Aku
menutup hatiku rapat-rapat. Membiarkanmu tidak lagi datang kembali, membiarkan
kekasihmu belajar memahami lebih baik daripada aku, memberi celah agar
bahagiamu utuh tanpa ada aku. Aku memilih menghilang dari hidupmu, bukan karena
aku tidak sanggup melihatmu bahagia tanpa aku, tapi karena aku ingin membantumu
melupakan aku. Aku tahu, aku akan selalu menjadi orang yang membayangi dalam
masa lalumu dan aku tahu bahwa bila hadirku mampu membuatmu kehilangan separuh
kebahagiaanmu.
Aku sadar bila teman-temanmu
melarangmu untuk menghubungiku lagi dan lagi. Aku tahu semuanya. Dan oleh
karena itu, aku memilih hilang agar kamu sadar bahwa tanpa aku pun ternyata
hidupmu mampu bejalan sebegitu baiknya.
Karena ikhlas sebenarnya adalah
ketika aku memahami bahwa siapa saja yang kita cintai mampu pergi dan tidak
lagi kembali. Dan apabila suatu saat kamu bertemu denganku, aku bukan lagi
menjadi orang yang sama dengan masa lalumu. Kamu akan mengenalku sebagai
seseorang yang baru, seseorang yang hampir tidak kamu kenal. Tapi tenang saja,
aku akan selalu mengenalmu secara berlebihan. Tentu bukan karena aku masih
menyimpan rasa yang sama seperti kemarin, tapi karena aku selalu menyimpan
cinta padamu sebagai seorang teman lamaku.
Dan satu hal yang perlu kamu tahu. Bahwa aku selalu memaafkanmu dengan segala tulusku sejak sebelum kamu melakukan kesalahanmu. Karena mencintai berarti juga siap menerima segala kurang dan salahmu. Atas kecewaku padamu, itu di luar kemampuanku. Mungkin memang aku selalu menerimamu kembali, tetapi bukankah kepercayaan yang hilang tidak akan pernah lagi utuh dan sama lagi?
Untuk seseorang yang menjadi alasanku menulis ini,
aku selalu bahagia atas kamu dan aku selalu memaafkanmu!
aku selalu bahagia atas kamu dan aku selalu memaafkanmu!
Comments
Post a Comment