Semesta Bercerita
Matahari merangkak, cahayanya
mulai redup sore ini. Sudah hampir gelap, sebentar lagi. Burung-burung tidak
tampak. Sejak aku beranjak dewasa, bertambah usia, burung-burung sudah jarang
beterbangan di lautan angkasa. Kupu-kupu jarang hinggap di bebungaan yang
merekah. Entah ke mana mereka perginya, yang jelas, bumi semakin tua.
Matahari merangkak, cahayanya
mulai redup sore ini.
Semesta, boleh aku sedikit
bercerita?
Angin berhembus, membelai
lembut kulit-kulitku. Dinginnya masuk hingga ke pori. Sepertinya, semesta
sedang berkata, iya.
“Semesta, akhir-akhir ini negeriku
dirundung duka. Kau tahu, ada banyak airmata yang banjir setelah kau murka.
Tidak sedikit semesta, tidak. Bencana di sana-sini, suara lolongan dan tangisan
kesana kemari. Derap-derap takut yang pasrah itu berlarian dengan harapan yang
mulai memudar. Kau tahu, duniaku juga turut menangis melihatnya.”
Angin berhembus lagi, kali ini
embusannya lebih halus. Seolah menjawab, aku
tahu.
“Semesta, sampai kapan negeriku
terus menerus dilanda bencana? Anak-anak kehilangan orangtua, masa depan, dan
harapan. Anak-anak hanya kausisakan kenangan pahit dan airmata. Sampai-sampai,
sepertinya mata mereka sudah tidak mampu menangis. Airmata mereka seperti
kering dan tidak sanggup lagi merengek. Sungguh, masa kecilku memang tidak
sempurna, tapi milik mereka jauh lebih sengsara. Kau tahu?”
Matahari sedikit demi sedikit
mulai tenggelam di kaki langit.
“Semesta, bukan hanya mereka,
malaikat-malaikat kecil yang berduka. Kau tahu, para orang tua, anak-anak muda,
dan banyak orang lainnya kehilangan kasih sayang keluarga karena kausempat
murka. Tidak tanggung-tanggung, murkamu terus menerus berdatangan. Kau seperti
raksasa yang terbangun setelah tidur panjang, mengetahui kalau bumimu sudah
mulai berantakan.”
Semburat jingga menghilang
perlahan, ada awan kelabu mulai datang. Angin berhembus pelan, dingin mulai
mencekat.
“Semesta, aku tahu para manusia
punya banyak dosa. Pun juga aku yang tidak sempurna. Aku tahu kau kecewa karena
perilaku kami yang seolah bukan manusia. Aku juga tahu kau hanya menjalankan
rencana Yang Mahakuasa. Aku tahu aku tidak pantas marah atas kuasa Tuhan. Aku
tahu,”
Angin kembali beringsut. Jingga
perlahan turun, abu-abu mulai hinggap di langit senja.
“Kami sedang berusaha menjadi
sebaik-baiknya manusia. Memeluk yang hampa, mengikat yang putus, mengeratkan
yang renggang, membersihkan yang kotor, menguatkan yang lemah. Kami sedang
berusaha, Semesta.”
Senja menjadi kelabu, gelegar
petir mulai terdengar.
“Ya sudah, aku masuk dulu. Aku
hanya ingin kita kembali bersahabat, seperti dulu kala.”
Angin berhembus, semesta
mungkin menjawab iya atau bisa jadi silahkan berusaha, manusia.
Comments
Post a Comment