Pulang
Apa arti pulang, detik ini?
Beberapa tahun terakhir, pulang untukku adalah sesuatu yang
abstrak.
Dua ribu tujuh belas dan delapan belas, pulang adalah
kembali ke Semarang, Bintaro, dan Cibubur.
Dua ribu Sembilan belas, pulang adalah Semarang dan
Parepare.
“Pulang kapan?”
“Pulang kemana dulu nih?”
“Emang pulang bisa kemana aja deh?”
“…”
Aneh, memang.
Pulang sudah punya dua arti untukku. Pulang dari tanah
perantauan, atau pulang ke tanah perantauan.
Apalagi sekarang, rasanya pulang ke rumah orangtua dan
pulang ke tanah seberang adalah dua hal yang punya komposisi sama. Sama-sama
memiliki tanggung jawab dan keluarga di sana. Antara bertanggung jawab menjadi
anak yang berbakti dan bertanggung jawab mengabdi untuk negeri. Mungkin
terdengar berat dan klise, tapi arti pulang untukku akan selalu abstrak sejak
aku mengambil keputusan untuk mengabdi hingga ke ujung negeri.
Jadi, apakah tahun-tahun yang akan datang pulang akan
semakin tidak memiliki arti yang pasti untukku?
Entahlah, mari kita lihat saja.
Comments
Post a Comment