Kata Mereka


Kata mereka, hidup enak karena uang banyak dan bisa pergi kemana saja.

Kata mereka, ibukota membuat mereka kehabisan banyak harta.

Kata mereka, kemilau lampu jalan membuat silau sampai bosan tak terkira.

Kata mereka, kemacetan adalah sahabat setia yang terkadang menyebalkan.


Kalau kataku, ibukota mengubah mereka menjadi pribadi lemah jiwa dan rasa.



Mereka berteriak minta uang karena ibukota mengosongkan dompet dan menguras uang makan. Mereka berteriak minta kita merasakan sesaknya berada di antara lautan manusia. Mereka berteriak kalau berada di ibukota sebuah kesakitan yang merusak jiwa muda.

Mereka lupa.

Lupa kalau kami yang berada di pulau seberang rela mengosongkan dompet demi bertemu keluarga. Lupa kalau kami punya ketakutan mendalam saat berada di jalanan yang selalu lengang. Lupa kalau rindu yang kami rasakan jauh lebih menyakitkan.

Mereka lupa kalau di dunia yang menderita bukan hanya mereka.


Mereka berkata semua teriakan itu hanya candaan. Tapi bagi kami, jiwa raga yang mengabdi ribuan kilometer dari rumah dan seisinya, itu tidak lucu sama sekali. Bagi kami, candaan macam apa yang menyakiti.

Mereka lupa.


Mereka punya banyak kesempatan untuk sering menengok rumah. Mereka punya banyak kelebihan ibukota yang tidak kami punya. Mereka punya kota nomor satu di negeri ini. Mereka benar-benar lupa, seolah harta adalah segalanya.

Mereka lupa kalau kami yang kerap menelan pahitnya rindu jauh lebih sering menerima daripada menggerutu.


Entahlah.

Dulu aku mengenal mereka yang tidak seperti hari ini. Entah bagaimana waktu dan pekerjaan tidak membuat mereka makin dewasa, tapi justru makin gila akan dunia.

Aku ingin bertanya, untuk kalian yang mengabdi di ibukota.

Apa kalian sudi bertukar tempat dengan kami, orang-orang yang mengabdi hingga ke ujung negeri, hanya demi uang dan waktu libur panjang?


Comments

Popular Posts