Yang Fana Adalah Kita
Dalam duniaku, yang fana
adalah kita.
Adalah kamu dan aku.
Adalah perasaan yang pernah tumbuh bersama.
Adalah cerita yang pernah ditulis berdua.
Sore melambat, waktu
seperti berhenti setiap kali kamu datang dari kejauhan. Melihatmu saja aku
sudah seperti tercekat angin malam. Rasanya selalu sama. Selalu dingin, selalu sakit.
Dari jarak beberapa meter, sebelum suaramu masuk ke ruang dengarku, aromamu
sudah lebih dulu memasuki napasku. Aku tahu betul itu kamu.
Americano yang diseduh sudah mulai
dingin perlahan. Kepul uapnya tidak lagi menggulung-gulung di udara. Isi
cangkirnya sudah tinggal setengah karena dihabiskan seraya menunggu kamu yang
cukup lama. Hampir satu jam aku duduk di bangku kesukaan kita, di sudut ruangan
yang berhadapan langsung dengan jalanan. Dengan kaca yang besar, kita bisa
sesekali bercengkrama memperhatikan keadaan dunia luar.
Dulu, yang memilih
tempat ini adalah kamu. Adalah kamu yang mempersiapkannya saat kejutan ulang
tahunku empat tahun lalu. Adalah kamu yang membuatku selalu jatuh cinta dengan
tempat ini. Adalah kamu yang berhasil membuatku menyelesaikan sesapan americano yang tidak aku suka. Sekarang,
semua yang karena kamu ini adalah kesukaanku. Adalah pelarian paling tepat
setelah dikejar deadline pekerjaan dan permasalahan dunia.
Kata kamu waktu itu, kadang kita butuh waktu untuk diri sendiri.
Menghilanglah sejenak.
Aku percaya kamu yang
berkata itu. Membuat kalimat-kalimatnya tertancap jelas di benakku.
Menjadikanku selalu berusaha memahami setiap rasa yang mengusikmu kadang kala.
Berusaha mengerti kalau mungkin saja memang benar, kamu hanya butuh ruang.
Bukan pelarian.
Empat tahun sudah. Sudah
sangat lama untukku. Aku menghabiskan malam-malamku dua tahun yang lalu dengan
airmata. Seringkali menangis menganak sungai, seringkali bermimpi buruk tentang
kamu yang memilih pergi di saat aku mulai memahami cara untuk tetap tinggal.
Banyak hari kulewati dengan penuh kesibukan, dengan penuh kesedihan. Tapi
banyak hari pula kulewati dengan penuh bahagia kemudian, setelah belajar
meyakinkan diri sendiri bahwa kamu bukan takdir yang terbaik dari Tuhan.
Perpisahan di malam itu,
malam yang pekat dan deras oleh hujan.
London musim dingin,
salju turun dua malam tidak berhenti. Sedangkan katamu, negeri ini sibuk dijatuhi
air dari langit.
Yang fana adalah kita.
Adalah kamu dan aku. Adalah perasaan yang pernah tumbuh
bersama.
Heran. Untukmu waktu
itu, Indonesia masih pagi. Masih terlalu pagi untuk mengucapkan salam
perpisahan, menyelesaikan sebuah hubungan. Seperti tidak ada beberapa jam
lainnya. Dengan jelas, jernih, dan datar, kamu bilang sudah lelah terpaut jarak
hampir satu tahun. Yang awalnya biasa saja, tidak apa-apa, bahagia-bahagia
saja, tiba-tiba kamu lelah. Kamu bosan
menunggu aku pulang, katamu.
Rasanya malam itu, di
tengah malam yang dingin karena salju tidak berhenti jatuh dari langit, makin
mencekik. Aku ingin menangis, ingin berteriak marah, ingin melakukan semua yang
dapat kulakukan untuk meluapkan kehancuran. Tapi, kalian tahu aku bisa apa?
Hanya mematung, berhenti menahan kantuk karena tiba-tiba diserang insomnia
hingga sebulan ke depan, dengan bodohnya berkata iya. Mengiyakan sesuatu yang jelas-jelas aku tidak suka. Tapi, demi
kamu, aku belajar menjadi baik-baik saja.
Dan sore ini, setelah
pertemuan yang hampir tidak pernah terjadi, karena kepulanganku selalu bukan
tentangmu, kita kembali bertemu. Berhadapan di satu meja yang menjadi penengah
percakapan yang hampir hening. Mendadak kamu tidak ingin kalah dengan dua
tahunku yang berusaha belajar menerima. Seolah kamu tidak ingin kalah dengan
kemampuanku baik-baik saja tanpa ada kata ‘kita’ dalam percakapan yang
tercipta.
“Rindu. Boleh?” Katamu
saat berusaha menjawab pertanyaanku.
“Apa yang dirindukan?”
“Kita.”
Kamu terlalu dan selalu
ingin menang dalam apapun. Termasuk dalam hal menyakiti perasaanku. Rasanya,
entah berapa kali kamu pikir hatiku hanya tempat bermain. Sudah bukan waktunya
lagi berdiri dan berjalan bersamamu. Baik kamu dan masa lalu itu, aku sudah
sama-sama lupa soal merasa.
Aku menggeleng,
membuatmu sibuk heran dan tidak menerima jawaban. Apa boleh buat, perasaanku
sudah lama pergi dari tempatnya. Kamu sudah lama pergi dari sana. Sudah bukan
saatnya berkata kalau masih cinta.
“Kamu tahu, sudah tidak
ada kita dalam kamusku. Tidak dua tahun lalu, tidak hari ini.”
Aku hanya ingin kamu
belajar berdamai, sama sepertiku. Belajar sama-sama menerima kalau aku dan kamu
tidak bisa lagi menjadi satu. Cukup dua dan jalan sendiri-sendiri. Jadilah apa
yang kamu mau, berkencan dengan gadis manapun yang kamu inginkan, pergi dan
pulang sesukamu. Tapi tidak bersamaku.
Bisakah kamu belajar
paham kalau aku sudah baik-baik saja tanpa ada kata ‘kita’ untuk waktu-waktu
yang menunggu di depan?
“Ah sudahlah, hidup
bukan melulu tentang cinta. Kita sudahi, sama-sama jalan sendiri. “
Percakapan ditutup.
Seribu alasan tidak akan membuat aku mengubah perasaan secepat itu. Sore makin
larut menginjak petang. Beberapa hal memang harus diselesaikan dengan cara
menyakitkan, agar kamu mengerti kalau hati perempuan bukan hanya sebuah mainan.
Comments
Post a Comment