Menua


Semua orang pasti akan, suatu saat.

Meski ada yang lebih dulu pulang dan belum sempat.

Menua.
 ***

Saya belajar konsep ini dari kakek dan nenek yang kebetulan tinggal di satu rukun warga yang sama dengan kami. Setiap hari, kalau saya tidak sedang berada di luar kota, suara mereka akan mengisi. Rambut mereka masih cukup hitam untuk orang tua dengan usia lebih dari enam puluh lima tahun. Ada lah satu-dua uban yang kerap kali minta dicabut karena katanya “Rak elok nek bar keramas ora dikebyake”  .

(nggak baik kalau selesai keramas nggak dibuka rambutnya)


Biasanya saya hanya mengangguk, menuruti permintaan sederhana yang dulu dianggap membosankan. Sekarang, setelah usia makin dewasa, rasanya akan ada banyak pemakluman yang mengisi hari-hari saat bersama mereka. Apalagi, kesehatan mereka yang sudah menurun, meski raga tampak kuat dan bisa wara-wiri pergi ke pasar sesekali. Tapi, tubuh yang senja itu tentu rapuh bila melewatkan waktu makan, melupakan obat-obatan, atau tidak cukup tidur malam.

Seringkali Ibuk (panggilan untuk eyang putri) bertekanan darah tinggi, asam lambung bermasalah, atau eyang yang lain keluar masuk rumah sakit karena diabetes yang berkawan dengannya delapan tahun belakangan. Saat tubuh mereka tidak berdaya, kadang anak-anak muda inilah yang diandalkan, dijadikan sumber kebahagiaan karena hadir saja sudah lebih dari cukup baginya. Mungkin senyum kami, cucunya, lebih mujarab dibanding segala obat-obatan di dunia.


Saya paham konsep menua karena kerap menetap bersama mereka. Menemani tidur malam, memasak di dapur, atau sebagainya. Seringkali terbangun dini hari karena eyang sedang berdoa cukup keras di sepertiga malam yang pekat. Dari doa-doa yang dipanjatkan, pekerjaan mereka selalu tentang berharap pada Tuhan. Alih-alih kita, anak muda yang lebih gemar mengejar dunia, eyang sudah sibuk mencari bekal untuk bisa setidaknya berada di pintu Surga.

Tidak pernah absen satupun dari doanya, anak, cucu, buyut, suami, adik, kakak, dan sanak saudara lainnya. Bagai rutinitas, nama-nama yang kukenal ada di sana. Ada di dalam doa yang penuh semoga. Ada di balik permohonan yang kuat serta harapan hebat pada Pemilik alam semesta.


Saya paham konsep menua dari kerutan di wajah mereka. Dari garis tipis yang menyuarakan usia, dari pembicaraan yang sudah terlampau jauh. Konsep menua ada di sana, ada di saat kematian rasanya sebuah jalan pulang. Ada di saat berkawan dengan perpisahan. Rasanya pahit, melihat kadang orang terdekat mereka harus kembali lebih dulu, melihat kadang sanak saudara mereka jatuh sakit atau bahkan dipanggil oleh Sang Pencipta.

Rasanya, bagi mereka, perpisahan karena kembali pada Tuhan adalah hal biasa. Mereka seperti menunggu giliran, semua manusia memang menunggu giliran. Tapi mereka, cara mereka menunggu raga dan nyawa berpisah adalah dengan mencari bekal sebanyak-banyaknya. Kalau sedikit kasarnya, mereka tahu diri akan usia yang sudah tidak muda.


Sekali lagi, saya belajar konsep menua dari mereka.

Dari tangan-tangan rapuh dan keriput yang tetap membelai penuh cinta.

Dari perhatian yang ditunjukkan dengan kemarahan atau manja saat sakit menyerang.

Dari rasa tabah dan sabar yang selalu hadir menyelip di seluruh peristiwa.

Dari rindu yang kadang tidak berani mereka ucapkan karena takut mengganggu.

Dari sunyi rumah yang kadang membuat semua sakit terasa lebih pahit.

Dari kecewa pada harap karena tidak ada kawan bicara.

Dari perhatian yang tidak pernah putus meski jarak membuat dua raga tidak lagi di atap yang sama.

Dari doa-doa yang tidak berhenti setiap hari, tentang kebahagiaan bagi anak, cucu, dan sanak saudara.


Dari ikhlas yang menerima tentang usia.
Dari mereka, aku belajar bahwa “menua” lebih dari sekadar bertambah usia.

Menua adalah mereka, adalah saat hati sudah terbiasa menghadapi sepi.


Comments

Popular Posts