Menua
Semua orang pasti akan, suatu
saat.
Meski ada yang lebih dulu
pulang dan belum sempat.
Menua.
Saya belajar konsep ini dari
kakek dan nenek yang kebetulan tinggal di satu rukun warga yang sama dengan kami.
Setiap hari, kalau saya tidak sedang berada di luar kota, suara mereka akan
mengisi. Rambut mereka masih cukup hitam untuk orang tua dengan usia lebih dari
enam puluh lima tahun. Ada lah satu-dua uban yang kerap kali minta dicabut
karena katanya “Rak elok nek bar keramas
ora dikebyake” .
(nggak
baik kalau selesai keramas nggak dibuka rambutnya)
Biasanya saya hanya mengangguk,
menuruti permintaan sederhana yang dulu dianggap membosankan. Sekarang, setelah
usia makin dewasa, rasanya akan ada banyak pemakluman yang mengisi hari-hari
saat bersama mereka. Apalagi, kesehatan mereka yang sudah menurun, meski raga
tampak kuat dan bisa wara-wiri pergi ke pasar sesekali. Tapi, tubuh yang senja
itu tentu rapuh bila melewatkan waktu makan, melupakan obat-obatan, atau tidak
cukup tidur malam.
Seringkali Ibuk (panggilan
untuk eyang putri) bertekanan darah tinggi, asam lambung bermasalah, atau eyang
yang lain keluar masuk rumah sakit karena diabetes yang berkawan dengannya
delapan tahun belakangan. Saat tubuh mereka tidak berdaya, kadang anak-anak
muda inilah yang diandalkan, dijadikan sumber kebahagiaan karena hadir saja
sudah lebih dari cukup baginya. Mungkin senyum kami, cucunya, lebih mujarab
dibanding segala obat-obatan di dunia.
Saya paham konsep menua karena kerap
menetap bersama mereka. Menemani tidur malam, memasak di dapur, atau
sebagainya. Seringkali terbangun dini hari karena eyang sedang berdoa cukup
keras di sepertiga malam yang pekat. Dari doa-doa yang dipanjatkan, pekerjaan
mereka selalu tentang berharap pada Tuhan. Alih-alih kita, anak muda yang lebih
gemar mengejar dunia, eyang sudah sibuk mencari bekal untuk bisa setidaknya
berada di pintu Surga.
Tidak pernah absen satupun dari
doanya, anak, cucu, buyut, suami, adik, kakak, dan sanak saudara lainnya. Bagai
rutinitas, nama-nama yang kukenal ada di sana. Ada di dalam doa yang penuh
semoga. Ada di balik permohonan yang kuat serta harapan hebat pada Pemilik alam
semesta.
Saya paham konsep menua dari
kerutan di wajah mereka. Dari garis tipis yang menyuarakan usia, dari
pembicaraan yang sudah terlampau jauh. Konsep menua ada di sana, ada di saat
kematian rasanya sebuah jalan pulang. Ada di saat berkawan dengan perpisahan.
Rasanya pahit, melihat kadang orang terdekat mereka harus kembali lebih dulu,
melihat kadang sanak saudara mereka jatuh sakit atau bahkan dipanggil oleh Sang
Pencipta.
Rasanya, bagi mereka, perpisahan
karena kembali pada Tuhan adalah hal biasa. Mereka seperti menunggu giliran,
semua manusia memang menunggu giliran. Tapi mereka, cara mereka menunggu raga
dan nyawa berpisah adalah dengan mencari bekal sebanyak-banyaknya. Kalau
sedikit kasarnya, mereka tahu diri akan usia yang sudah tidak muda.
Sekali lagi, saya belajar
konsep menua dari mereka.
Dari tangan-tangan rapuh dan
keriput yang tetap membelai penuh cinta.
Dari perhatian yang ditunjukkan
dengan kemarahan atau manja saat sakit menyerang.
Dari rasa tabah dan sabar yang
selalu hadir menyelip di seluruh peristiwa.
Dari rindu yang kadang tidak
berani mereka ucapkan karena takut mengganggu.
Dari sunyi rumah yang kadang
membuat semua sakit terasa lebih pahit.
Dari kecewa pada harap karena
tidak ada kawan bicara.
Dari perhatian yang tidak
pernah putus meski jarak membuat dua raga tidak lagi di atap yang sama.
Dari doa-doa yang tidak
berhenti setiap hari, tentang kebahagiaan bagi anak, cucu, dan sanak saudara.
Dari ikhlas yang menerima
tentang usia.
Dari mereka, aku belajar bahwa
“menua” lebih dari sekadar bertambah usia.
Menua adalah mereka, adalah
saat hati sudah terbiasa menghadapi sepi.
Comments
Post a Comment