Tentang Jogja
Orang bilang Jogja istimewa, katanya manis
romantis semua ada di sana.
Tapi setelah menghabiskan liburan satu minggu
di sana, rasanya Jogja sama seperti destinasi liburan lainnya. Tidak lebih.
Saya paham, mungkin beberapa dari kalian
tidak begitu setuju dengan pernyataan saya barusan. Kali ini, bolehkah saya
didengar argumennya? Bolehkah kalian juga berusaha memahami frekuensi yang
berbeda dari kepala manusia lainnya?
.
Bukan sebentar,
satu minggu waktu yang cukup lama untuk sekadar mengisi waktu luang di sana. Jogja
kota yang tepat untuk menyegarkan pikiran, sekaligus bertemu teman-teman.
Sejauh ini,
pendapat orang tentang manis romantisnya kota Jogja masih belum bisa saya
terima. Mungkin ‘manis’ sudah cukup
tepat menggambarkan bagaimana suasana Jogja beserta kenangannya. Di luar sana, sekelompok
manusia pasti sibuk berdebat bahwa Jogja membuat mereka jatuh cinta. Apalagi
tidak bisa dipungkiri, kotanya yang nyaman, banyak makanan dengan harga di bawah
standar kota besar, masyarakatnya yang ramah dan sopan, hingga berbagai tempat
istirahat yang menyegarkan pikiran jelas menjadi alasan utama Jogja membawa
bahagia.
Saya setuju
jika Jogja memang membahagiakan dan membawa banyak kenangan indah di benak
saya. Tapi, saya masih belum bisa mengiyakan apakah ‘manis romantis’ sangat benar adanya.
Sebagian
besar orang mendukung pendapat yang sejenis, memaksa beberapa orang mengerti
bagaimana istimewanya kota Jogja. Mereka lupa, bahwa kadang mereka merasa Jogja
benar-benar ‘manis romantis’ karena orang-orang di dalamnya. Dan saya,
hingga hari ini belum bisa menyetujui hal tersebut. Ya karena memang saya
mungkin jatuh cinta dengan Jogja, tapi bukan pula dengan orang-orang di
dalamnya.
Singkat saja,
orang-orang yang berkata Jogja ‘manis romantis’ adalah mereka yang jatuh cinta
di sana. Mereka yang mungkin patah hati di sana, bisa saja menyetujui pendapat
saya atau bahkan mereka memiliki pendapat tersendiri tentang Jogja.
“Jogja itu airmata.”
Ini bisa
saja terjadi, lantaran tidak semua orang menemukan cintanya di sana. Tidak semua
orang melewati masa-masa sulit atau
membahagiakan hingga semua menancap
jelas di benaknya. Untuk saya, Jogja adalah kenangan indah untuk sebagian besar
masa kecil yang tidak pernah absen mengunjunginya, karena kebetulan banyak
sanak saudara yang berada di sana.
Saya tidak
bisa memaksakan banyak orang setuju kalau Jogja tidak seindah yang orang lain
katakan. Saya juga tidak bisa dipaksa oleh banyak hati yang jatuh cinta dengan
Jogja untuk membenarkan pernyataan ‘Jogja
itu manis romantis’. Bagi saya, Semarang dan Jakarta adalah dua kota yang
detik ini benar-benar melekat di otak dan di hati. Bukan karena saya pernah
jatuh cinta di sana, tapi karena sudah banyak cerita yang benar-benar mengubah
saya.
Di luar
sana, banyak insan yang teguh pada pilihan bahwa Jogja adalah yang terbaik. Tidak
apa-apa. Mungkin bila bukan karena jatuh cinta, cerita-cerita kehidupan lainnya
mampu membuat mereka sulit melupakan Jogja. Saya tidak masalah.
Yang perlu
diketahui, sekali lagi. Setiap kota membawa manis romantisnya sendiri-sendiri. Setiap
kota membawa kenangan yang berbeda-beda. Tidak seharusnya kita memaksakan
seseorang jatuh cinta dengan kota A B C D. Sudah seharusnya kita menghargai
perbedaan irama dan selera. Mungkin yang harus kita lakukan perlahan, adalah
belajar memahami bahwa beberapa cerita bisa membuat jatuh cinta. Bukan sekadar
karena lawan jenis yang disuka, tapi beban hidup yang dipinggulnya bisa jadi
membawa kenangan tidak terlupa.
Terimakasih karena lagi-lagi sudah berusaha
memahami saya hari ini,
Semoga selalu bahagia dimanapun kalian
berada!
Comments
Post a Comment