Self-love is Self-acceptance
Beberapa
waktu lalu saya melakukan sebuah survei kecil di akun kedua saya. Fyi, saya
memiliki dua akun instagram dengan tujuan yang berbeda. Sedangkan akun kedua
saya hanya diperuntukkan bagi kaum hawa saja. Saya rasa waktu itu, sangat cocok
jika saya membuat sebuah survei kecil untuk saling menguatkan sesama wanita
agar mencintai diri sendiri. Dengan segala kurang dan lebih, kita memang sudah
seharusnya bisa menerima apa yang Tuhan berikan terhadap diri kita.
Semua
orang pasti pernah berada di titik terendah karena tindakan orang lain yang
bernama ‘bullying dan judging’.
Secara nggak langsung bahkan mungkin kita pernah melakukan hal tersebut dalam
bentuk ‘body shaming’. Beberapa waktu
terakhir, body shaming bukan hal
asing. Bahkan dari seluruh pengguna sosial media, sebagian besar dari mereka
melakukan body shaming secara tidang disengaja. Menurut saya sendiri, itu salah
satu kata-kata jahat yang mampu mengubah hidup seseorang. Entah lebih buruk
atau lebih baik.
Masalahnya,
body shaming cenderung membawa dampak
buruk bagi psikologi sebagian besar orang yang mengalaminya. Padahal, banyak
yang harus kita sadari lebih lagi. Kita semua ini cuman MANUSIA BIASA. Wajar kalau
kadang enak dipandang, kadang nggak. Wajar kalau kita kadang kurusan, kadang
nggak. Wajar kalau kita kadang baik-baik aja, kadang nggak juga. Maunya juga
semua baik-baik aja, saya tahu. Tapi, apa yang kita mau kadang nggak seperti
apa yang terjadi kan?
Apalagi
semenjak maraknya penggunaan sosial media, judging
jadi hal yang biasa. Terlebih di instagram, rasanya menghakimi fisik atau hal-hal
tertentu dari seseorang jadi sesuatu yang ‘baik-baik saja’ padahal tidak.
Tentunya kalian sering membaca komentar netizen yang rata-rata justru berasal
dari kalangan teman atau keluarga sendiri, seperti :
“Kok
tirusan, oplas ya?”
“Gendutan, diet deh mendingan.”
“Kakinya
gede bgt kalo pake celana, mending pake rok aja deh.”
“Sok banget
sih pake kerudung panjang, udah tobat?”
“Mending
gendutan dikit deh biar seger.”
“Eh jangan
posting ini deh, jelek.”
"Tinggi dikit mesti lu bagus deh di foto."
"Makan mulu, nggak takut gendut?"
Dan lain sebagainya.
Apa
kalian tahu satu hal? Akun sosial media seseorang berisi apapun yang ia
kehendaki. Lebih baik, sebagai pengikut yang bijak kita berhenti mengomentari
dalam bentuk ‘nyinyir’. Inget, memberi saran dan mengatur itu beda tipis. Hal ini
aku sadari dari postingan story salah satu influencer yang aku ikuti
(@depepedia) dimana dalam akunnya pun dia tidak begitu mempedulikan saran yang
mengandung unsur ‘mengatur’. Apapun yang kita sukai, lakukan. Selama itu masih
ada di jalan kebaikan.
Lagipula,
apa yang salah bila kadang fisik kita tidak sesuai standar mereka? Mau sampai
kapan kita terus-terusan mengikuti standarisasi ‘normal’ yang mereka buat? Mau
sampai kapan kita memaksakan kehendak orang lain agar kita bisa dipandang
baik-baik saja oleh mereka? Kita nggak harus sempurna, kita nggak harus jadi
seperti apa yang mereka minta. Toh kita bahagia-bahagia saja tanpa mereka.
Sama-sama
pernah mengalami rasanya di-judge, saya sendiri memilih bodo amat kadang. Kalau nggak suka, ya nggak perlu di-follow.
Ini sebuah solusi untuk banyak pasang mata yang sibuk melihat seseorang dari
fisik atau luarnya saja. Kalau kita sendiri terus-terusan melihat seseorang
dari fisik, orang juga akan menilai kita dari fisik. Ketika kita melihat
seseorang dari hal-hal lain yang benar-benar baik untuk diteladani, mereka juga
melihat kita dengan cara pandang yang sama.
Sekarang,
saya cenderung memilih untuk jadi diri sendiri. Saya ya begini, kalau orang
nggak suka ya saya nggak peduli. Memang kita hidup dengan banyak manusia, sudah
seharusnya memikirkan letak kita di hati mereka. Tapi, selama apa yang menurut
saya adalah ajaran kebaikan, mampu berguna bagi banyak orang, mengapa harus
diredam? Saya paham frekuensi setiap kepala beda-beda, tapi saya juga paham
kalau saya nggak harus bisa menyamakan mereka, menjadi seperti yang mereka
pinta terutama dalam hal fisik yang menurut standar mereka ‘normal’.
Dulu
saya sering capek, sering marah dalam hati. Saya juga ingin putih, saya juga ingin kakinya panjang, saya juga ingin menjadi seperti orang-orang katakan. Tapi,
Tuhan memberi saya seperti ini. Saya hanya melanjutkan tugas saya untuk menjaga
dan merawat ciptaan-Nya. Saya bisa apa selain usaha? Selebihnya Tuhan kan yang
menentukan. Ya saya kalau begini dan orang nggak suka, yaudah. Toh masih banyak
populasi orang yang bisa menerima saya apa adanya.
Akhirnya,
daripada sibuk memikirkan komentar orang lain pun saya memilih menjadi diri
saya sendiri. Saya lebih memilih mencintai apa adanya saya seperti yang Tuhan
berikan dan rencanakan sejak saya belum diciptakan. Saya memakai apa yang saya
mau dan baik menurut keyakinan yang saya anut. Saya memakan apa yang saya
inginkan dan halal menurut keyakinan yang saya anut. Saya berteman dengan
orang-orang yang saya percaya dan membawa dampak positif untuk diri saya. Saya berhenti peduli kalau
orang menilai saya ini dan itu. Selama itu baik menurut pandangan saya dan
agama saya, ya saya lakukan.
Saya
capek, kamu pasti juga. Udah saatnya kita pakai kedua tangan buat nutup telinga
sendiri, bukan buat nutup mulut banyak orang.
Inget,
seseorang nggak dinilai dari jumlah followers, likes, fisik yang baik, atau
bahkan popularitas. Tapi ini tentang siapa mereka sebenarnya.

Yaa I like this!!
ReplyDelete