Kamu dan Sebagian Lukaku
BAGIAN SATU
Aku sudah
selesai melewati malam-malam yang panjang dengan tangisan. Sudah selesai juga
melewati hari-hari yang berat dengan segala tekanan. Aku sudah berhasil berdiri
setelah lama terjatuh dan terpuruk sendirian, bersama kenangan.
Senja ini,
aku menikmati secangkir vanilla latte
di sebuah kafe dengan tema kuno di pinggiran kota. Aku sudah menyelesaikan
setumpuk laporan kantor yang membuatku harus berkutat di meja selama lebih dari
lima jam lamanya. Jemariku sepertinya mendapatkan waktu istirahatnya kembali,
begitu pula mataku yang akhirnya bisa berhenti memerhatikan angka demi angka
yang tertera di kertas laporan keuangan. Senjaku kali ini terasa lengkap dengan
hujan yang gerimis dan mungkin ini cukup romantis bagi beberapa pasangan yang
kulihat sedang asyik berteduh kedinginan di halte seberang jalan.
Air dalam
kubangan berkecipak saat sepasang kaki menginjaknya terburu-buru karena
tubuhnya telah basah kehujanan, diikuti langkah-langkah cepat oleh beberapa
pekerja yang berbaris terburu pulang di belakangnya. Langit tersenyum getir,
gelegar suaranya menjadi pertanda bahwa mungkin warnanya yang abu-abu akan
bertahan cukup lama atau bahkan akan berubah semakin gelap. Angin menyambangi
meja tempatku menyeduh kopi, membuatku mengeratkan jaket dan melipat tangan
untuk menyembunyikannya.
Aku menyeduh
cangkir kopiku, lagi. Ini yang kedua kalinya aku menyeruput kopi itu. Rasanya tidak
cukup manis, tetapi setidaknya ini tidak sepahit masa laluku. Tidak sepahit
beberapa kenangan tentangmu, dan segala luka yang pernah kau berikan. Benar
kata orang, terkadang hujan datang untuk mengingatkan.
Begitu pula
senja, yang ada agar rindu punya kawan bicara.
Bukan aku
rindu tentang kamu. Tidak sedikitpun aku merasakan itu. Bukan perihal kamu dan
segala manisnya bahagia bersamamu. Tetapi tentang masa dimana hari-hariku
selalu tumpah dengan airmata. Masa-masa dimana aku selalu menarik napas dengan
sangat berat karena mengingat tentang perasaanku. Masa-masa yang cukup berat
untukku, ketika harus bertahan untuk memperjuangkan sendirian.
Benar katamu
kala itu, mungkin kita tidak bertakdir
bersama. Untuk kemarin, hari ini, atau bahkan beribu-ribu hari yang akan
datang, sepertinya takdir kita tidak berada pada satu garis yang sejalan.
Buktinya, dengan cepat kamu menemukan penggantiku. Bermain dengan nama yang
baru, singgah di hati yang lain, dan sekarang mungkin bahagiamu sudah lebih
indah daripada saat bersamaku. Aku yakin, hari-harimu jauh lebih berwarna
dengan kisah cinta yang selalu seperti anak remaja, hari-harimu akan selalu
lebih baik dari milikku.
Aku
menyeruput cangkir kopiku, untuk yang ketiga kalinya. Kemudian tertegun
memandang air hujan yang turun mulai perlahan-lahan. Benakku masih berisi banyak
pertanyaan yang sebenarnya ingin aku tanyakan padamu setelah percakapan kita di
malam itu. Setelah pertemuan terakhir kita sebelum kepindahanku, aku sudah
tidak lagi melihatmu melintas di depan mataku. Benar adanya bukan kamu yang
memilih menjauhiku, tetapi aku yang memutuskan hilang darimu.
Bahkan empat
tahun sudah aku tidak pernah melihatmu lagi, sama sekali. Menghindari beberapa
pertemuan yang akan dihadiri olehmu adalah kebiasaanku. Bukan aku tidak sanggup
melihatmu dengan keadaan yang jauh lebih bahagia daripada dulu, tetapi aku
memang tidak ingin membuka lagi sebagian lukaku karena kamu. Meski bukan waktu
yang sebentar aku pergi dari hidupmu, rupanya luka-lukaku akan selalu ada di
tempatnya, di liku hati tertentu, bilik paling belakang dari masa laluku.
Beberapa
orang menilai mungkin aku begitu karena aku masih mencintaimu. Tetapi aku
selalu berusaha memberi penjelasan bahwa cinta di hatiku sudah hilang, lenyap,
dan tidak tersisa sejak kamu memilih untuk datang dan menjadi sakit.
Aku menghela
napas panjang, kali ini sedikit terasa berat, terasa sesak di hatiku. Lagi-lagi
karena aku mengingat kamu. Dari ruang yang hampa di benakku, kini terisi
kembali dengan beberapa kenangan yang terhitung pahit.
Aku pernah
patah, sepatah-patahnya karena kamu. Dan karena segala perkataanmu. Mungkin aku
sudah memaafkanmu, melupakan sebagian cerita tentang kamu. Tetapi, aku akan
selalu ingat bagaimana buruknya kamu memperlakukanku waktu itu. Tidak peduli
seberapa bahagia yang sebelumnya kamu suguhkan, aku akan jauh lebih pandai
dalam hal mengingat lukaku. Bukankah manusia akan selalu lebih mengingat pahit
daripada segala manis dan bahagia?
Sampai bertemu di bagian selanjutnya ~~
Omg omg
ReplyDelete