Alasan Mengapa Mundur dari Sosial Media Adalah Plihan Terbaik
Setelah beberapa bulan lalu sempat membuat
akun baru dengan nama yang lain sebagai kamuflase, nyatanya aku kembali
merasakan hal yang sama. Lagi-lagi suatu malam aku mendadak muak dengan
kehidupan di instagram yang kulihat di layar ponselku. Semenjak memutuskan
deactive beberapa waktu lalu, sekitar enam bulan lalu, aku akhirnya mulai
kembali aktif dengan akunku yang lain hanya untuk sekadar melihat-lihat keadaan
di dunia per-instagram-an. Mungkin aku sudah bisa mengontrol keinginanku yang
berlebih untuk melakukan kebiasaan yang kita sebut “stalking”.
Tapi, rupanya setelah sejenak bisa berhenti
dan tidak terlalu candu dengan aplikasi tersebut, akhirnya pun sama saja. Aku
belum bisa seutuhnya menghilangkan rasa keinginan tahuan terhadap hal-hal
tertentu atau orang-orang tertentu. Rasa ingin tahu masih saja muncul dan masih
saja ada. Seharusnya, tidak. Itu yang aku inginkan. Sulit untuk belajar tidak
peduli tentang bagaimana cara orang berbahagia di media sosialnya, tapi mau
tidak mau, ingin tidak ingin aku harus menghilang rasa itu.
Mengapa?
Sebagian orang mempertanyakan mengapa aku ingin merasa tidak peduli dengan cara orang bahagia, ya karena menurutku cara
sebagian orang terkadang menimbulkan sebuah mindset dipikiran kita. Sebuah mindset
yang begitu saja timbul, seperti berpikiran bahwa seseorang yang kita lihat di
instagram bahagia karena melakukan perjalanan ke luar negeri, makan makanan
mewah, berlibur dengan kapal pesiar, memakai pakaian bagus, dan sejenisnya.
Secara tidak langsung pikiran kita menilai
bahwa orang-orang yang seperti itu tentu bahagia, dan apabila kita berada di
posisi mereka tentu bahagia. Sebuah label yang sebenarnya salah kaprah, sebuah
mindset yang menggiring kita kepada sikap ‘selalu membandingkan diri dengan
orang lain’ dan kebiasaan ‘mengikuti cara bahagia orang lain’ yang pada
dasarnya salah. Cara bahagia orang berbeda-beda, begitulah yang harus kita
tanamkan.
Kita tidak harus menjadi kaya seperti mereka,
tidak harus berlibur dengan penuh kemewahan, tidak perlu memamerkan bagaimana
cara kita bahagia. Sebenarnya kebahagiaan adalah dari diri kita sendiri,
tentang bagaimana cara kita menjadi seperti apa yang kita inginkan, bagaimana
cara kita mencapai apa yang kita impikan, bagaimana cara kita mencintai diri
kita sendiri. Itu semua menjadi hal-hal yang kadang kita lupakan. Menjadi hal-hal
yang kadang kita abaikan karena kita terlalu sibuk melihat orang lain di sosial
media.
Kebiasaan buruk itulah yang membentuk pribadi
kita menjadi orang yang tidak pernah merasa cukup dengan diri kita sendiri,
tidak pernah melihat diri kita sebagai seseorang yang pantas dicintai, tidak
pernah merasa diri kita berharga. Kita sibuk membandingkan, sibuk memasang
standar-standar tertentu untuk dicintai dan diapresiasi. Seharusnya kita
menjadi pribadi yang peka pada lingkungan sekitar, memberikan aksi nyata untuk
perubahan, minimal kepada diri kita sendiri.
Setelah berbagai kelelahan yang aku rasakan,
aku sadar. Seberapa kuat aku mengontrol diriku untuk tidak membuka instagram,
tidak sibuk mencari tahu tentang seseorang, tidak berusaha ingin menjadi
seperti orang lain, toh akhirnya aku tetap lemah. Selama akun instagramku masih
berjalan, aplikasi tersebut masih ada di ponselku, maka keinginan itu akan
selalu ada, aku akan selalu terbiasa membuka instagram di waktu luangku.
Toh saat aku menonaktifkan instagramku untuk
beberapa waktu lamanya, tidak banyak yang menyadarinya. Itu tandanya,
orang-orang juga tidak akan peduli apakah aku memiliki sesuatu yang baru atau
tidak, ya karena aku bukan siapa-siapa dan kehidupanku bukan apa-apa. Rata-rata
orang terfokus pada dirinya sendiri di sosial media. Mereka terfokus tentang
bagaimana caranya memperbaiki citra, membuat orang lain kagum dengan
pencapaiannya, membuat orang lain sibuk berkomentar dan memberikan like sebagai
tanda bahwa mereka tertarik dengan kehidupan yang dipertontonkan, kebahagiaan
yang ditunjukkan.
Pada akhirnya, orang akan sibuk membuat citra
yang baik tanpa merasakan bahagia yang sebenar-benarnya. Semisal dia ingin
pergi makan, maka dia akan sibuk memberikan informasi terbaru tentang apa yang
dia lakukan, seberapa bahagianya dia, seasik apa kehidupannya, dan lain
sebagainya tanpa menyadari bahwa saat itu dia tidak sedang benar-benar
menikmatinya. Mereka yang sibuk memberi tahukan seberapa bahagia mereka
terkadang bahkan lupa bahwa saat itu mereka tidak sedang bahagia dan tidak sempat
menikmati momen itu karena mereka sibuk bercerita di akun sosial media.
Lalu, sekarang apa yang dirasakan?
Aku merasa bebas, merasa bahagia dengan utuh,
merasa benar-benar lepas dari beban seperti “duh kok aku... kok dia...”. Aku
benar-benar merasa menjadi diriku seutuhnya, menikmati hari-hari tanpa perlu
memikirkan komentar orang, menghabiskan waktu-waktu yang luang untuk melakukan
banyak hal yang berguna dan bermanfaat. Menjadi pribadi yang memperbaiki diri
untuk diri sendiri dan keluargaku, bukan memperbaiki diri untuk selalu bercitra
baik di depan khalayak umum.
Aku adalah aku, adalah seperti apa adanya
aku. Aku ingin orang mengenal aku dari membaca tulisanku, bertukar cerita
denganku, saling membalas sapa, mengirimkan doa-doa, dan sejenisnya. Bukan mengenalku
dari fotoku, dari video kehidupan yang kuabadikan, dari keseharian yang
kupertontonkan, karena percayalah bahwa semua manusia kodratnya adalah
memamerkan bahagia dan menutup rapat air mata. Apa yang kalian lihat, apa yang
orang-orang lihat adalah tentang caraku bahagia, dan aku tidak mau.
Aku ingin kalian benar-benar menilaiku karena
kalian membaca ceritaku, bertemu denganku, bercakap-cakap, bertukar pikiran, bertukar
lagu-lagu terbaru, dan banyak hal lain yang dapat membuat kalian benar-benar
mengenalku. Aku lebih berharap kalian benar-benar paham dan mengerti seberapa
aku mampu membuat kalian menjadi lebih bersemangat, terinspirasi, merasa
dihibur, daripada kalian hanya sibuk membandingkan diriku dengan kalian ataukah
hal-hal lain yang sama sekali tidak membawa keuntungan.
Suatu saat, di saat yang tepat, aku mungkin
akan kembali ke dunia sosial media. Aku akan kembali berinteraksi, meski tidak
seintens sebelumnya, aku akan kembali memenuhi beranda kalian –oh tidak, aku
tidak akan memenuhi karena tidak akan sering membuat postingan. Aku akan
kembali di saat aku sudah menemukan alasan untuk benar-benar kembali. Bukan untuk
menunjukkan seberapa hebatnya aku nanti, tapi untuk membawa kebaikan bagi orang lain. Mungkin aku akan kembali di saat aku sudah benar-benar menemukan
cara menjadi bermanfaat di sosial media, saat aku sudah benar-benar mampu
berguna untuk orang lain dengan postinganku.
Beberapa orang sibuk menggunjingkanku, mungkin
karena patah hatilah aku mundur dari sosial media, mungkin karena tidak ingin
menengok ke masa lalulah makanya aku begini. Bukan. Tentunya bukan. Aku mundur
dari sosial media, menon-aktifkannya bukan karena aku takut kembali patah. Semua
memang diawali saat aku patah, tetapi aku belum ingin kembali karena aku belum
menemukan alasan yang tepat untuk kembali dan aku juga belum mampu menghasilkan
postingan yang sangat bermanfaat untuk orang lain.
Selama aku belum mampu menjadi orang yang
bermanfaat untuk orang di sekitarku, aku akan memilih bungkam dari sosial media
seperti instagram. Tetapi ketika aku sudah berhasil berguna setelah sibuk
berusaha memperbaiki diriku, saat itulah aku akan kembali menerbitkan postingan
di instagram, saat itulah aku akan kembali ke permukaan. Setelah aku menemukan
cara untuk mengontrol diriku, fokus pada lingkungan sekitarku, dan sibuk menjadi
yang terbaik untuk orang-orang sekitarku, saat itulah nantinya kalian akan
melihatku lagi di sana.
Sampai jumpa kembali, instagram....
Untuk yang merasa terbelenggu dengan
kehidupan penuh citra di sosial media,
Jangan lupa untuk selalu bahagia menjadi diri
kalian sendiri!
Nice
ReplyDeletethankyou kesaa
Delete