Kamu dan Sebagian Lukaku (Dua)


BAGIAN DUA


Aku menyeruput kopiku lagi. Kali ini yang keempat. Isinya tinggal setengah.

Lalu aku mengamati detak jam di tanganku. Jarumnya menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit. Aku tersenyum tipis, kemudian ingatanku membuatku terlempar kembali pada tahun-tahun bahagia bersamamu. Kamu selalu terlambat menjemputku, tanpa terkecuali. Dan begitu pula hari ini.

Aku merogoh ponsel yang kusimpan di saku jaketku. Tampak namamu tertera di layar depan ponselku dengan pesan singkat yang selalu berisi pesan yang sama.

“Kayaknya aku telat, maaf ya.” Aku tersenyum kecil. Sudah kuduga.

Kumasukkan ponselku ke dalam saku jaketku lagi. Lalu kukeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasku. Ku pandangi warnanya yang sudah usang karena disimpan bertahun-tahun lamanya. Di dalamnya ada kertas-kertas yang jauh lebih usang dengan tinta biru yang mulai membekas pada lembar-lembar lainnya.


Ponselku berdering, kali ini ada nama yang berbeda. Nama yang selalu tertera di ponselku beberapa tahun terakhir. Seseorang yang berhasil membuatku sembuh atas sebagian lukaku karena kamu. Saat aku mengangkat teleponnya, terdengar suara berat yang sangat kukenal.

“Waalaikumsalam, adek udah keluar kantor kok ini. Nanti habis maghrib, Abang jadi ke rumah?” Jawabku pada suara di seberang sana. Suara beratnya membuatku tersenyum saat membayangkan kerutan di dahinya bila tahu aku belum sampai di rumah sesore ini.

“Jadi, Abang bawa oleh-oleh dari Aceh. Pasti kamu suka, Abang jamin.”

“Kalau Adek enggak suka? Abang mau apa?” Aku tersenyum lagi. Suaranya selalu menjadi hal yang kurindukan karena jarak harus membuat kami jarang berjumpa.

“Kalau Adek enggak suka, Adek boleh minta traktir apa saja kesukaan Adek.”

Aku terkekeh. Suaraku terdengar kegirangan mendengar jawaban darinya. “Abang datang saja Adek sudah senang.” Jawabku lagi.

“Nanti, kita makan di luar ya Dek. Abang lagi pengen ayam bakar lamongan di alun-alun kota nih.” Pintanya. Suaranya yang berat terdengar mengalun manja. Bagaimana aku bisa menolak? Membayangkan dia ada di depanku saja, aku sudah cukup bahagia hari ini.

“Abang yang ijin ke ayah kan nanti?” Tanyaku memastikan.

“Jangankan hanya untuk ngajakin adek makan di luar, ngajakin Adek hidup bareng nemenin Abang selamanya aja udah berani Abang lakuin. Masih harus dipertanyakan nggak nih kemampuan Abang buat ngeyakinin ayah Adek kalau anak perempuannya yang manis ini akan selalu Abang jaga baik-baik?” Dia selalu begitu. Selalu pandai membuatku tersenyum dengan segala perkataannya. Dia adalah orang yang selalu aku impi-impikan kehadiran, seseorang yang mampu menjagaku dengan sangat amat baik melebihi kemampuanmu.

“Adek percaya kok kalau Abang selalu dan selalu pandai merayu ayah, juga merayu Adek.” Dia tertawa, kemudian mengucap salam dan memilih mengakhiri percakapan kami.

Sekarang, jam di tanganku menunjukkan pukul setengah enam sore dan kamu belum kunjung datang sedangkan aku harus segera pulang ke rumah untuk memenuhi janjiku yang lainnya. Aku menggerutu pelan. Kamu selalu begitu.

Aku mengeluarkan ponselku dan menuliskan pesan singkat untukmu :

“Meja nomor sembilan belas”

Bersamaan saat aku akan beranjak dari mejaku, aku melihat seseorang dari kejauhan yang baru saja turun dari mobilnya. Postur tubuhnya tegap, tinggi, dengan kulit terang yang sudah tidak asing untukku. Aku terpaku, laki-laki itu benar-benar datang rupanya. Ia berhenti sejenak mengecek pesan di ponselnya. Pesanku sudah ia baca, dan itu artinya aku harus segera meninggalkan kafe sebelum terjebak macet selama perjalanan pulang.

Kuletakkan amplop coklat itu dan sebuah undangan yang tertulis namamu pada halaman depannya. Alih-alih menunggunya, aku lagi-lagi lebih memilih menghindar karena waktu yang terus mengejarku. Untuk kali ini, aku akan lebih memilih orang lain dibandingkan kamu. Aku menitipkan pesan pada salah seorang pelayan agar tidak membersihkan mejaku sebelum kamu datang.

Aku berjalan meninggalkan meja tempatku menghabiskan senja, lalu perlahan mengamatimu datang dari kejauhan. Kamu tampak keheranan melihat dua amplop yang tergeletak di meja, dan mungkin kamu akan segera menemukan jawabannya setelah ini. Aku masuk ke dalam mobil dan segera mengendarainya agar membawaku pulang menuju ke rumah. Aku menarik napas dengan cukup berat, kali ini lebih berat dari biasanya.

Ponselku berdering, namamu berada di leyar depannya.

“Maaf, aku selalu terlambat.” Tulismu. 

Aku tersenyum membaca isi pesanmu. Kemudian kamu menuliskan satu pesan lagi untukku.

“Maaf, kali ini aku benar-benar menyesal.”

Aku tidak mempedulikan pesan darimu, tidak hingga aku sampai di rumah.

Kamu selalu begitu. Selalu meminta maaf pada segala perbuatanmu, dan kamu selalu terlambat dalam melakukan hal itu. Bahkan setelah aku pergi, belum ada kata maaf hingga aku meminta maaf terlebih dahulu atas ketidak sempurnaanku. Atas segala ketidak nyamananmu denganku pada akhirnya, aku memohon maaf karena aku selalu menjadi sia-sia untuk alasanmu membuang waktu. Aku selalu tidak sempurna di matamu, meski itu tidak berlaku atas kamu di kehidupanku.

Dulu, aku selalu melihat kamu sebagai sesuatu yang melengkapiku. Melihat kamu sebagai seseorang yang bisa menjadi bagian dari masa depanku, bukan bagian dari segala lukaku. Walaupun sekarang, kamu selalu menjadi bagian dari luka masa lalu, selalu menjadi alasan di balik tangisku pada malam itu, selalu menjadi orang yang ingin kutanyai tentang seberapa tidak sempurnanya aku hingga akhirnya kamu memilih dia sebagai pelengkap hidupmu.

Saat mobilku memasuki halaman rumah, tampak laki-laki yang tidak asing untukku. Ia mengenakan kemeja berwarna gelap dan duduk di teras rumahku. Tampak ia sedang bercakap-cakap dengan Ayah selagi menunggu aku sampai di rumah. Aku memarkirkan mobilku dengan sempurna, kemudian memilih membalas pesanmu terlebih dahulu sebelum turun dan menemui mereka.

“Bukankah aku selalu memaafkanmu sebelum kamu melakukan segala hal yang mengecewakanku?”



Comments

  1. Uwow, tertampar pasti itu mas nya yg dapet undangan 😂😂

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts