Istirahat dari Media Sosial
Jurnal yang akan aku tulis kali ini adalah tentang perasaan lelah dengan kehidupan era kekinian. Kehidupan yang menuntut dan membuat candu dalam mengikuti perkembangan kehidupan orang lain.
Beberapa hari terakhir, lelah rasanya terus menggeleluti kebiasaan baru yang disebut "scrolling" dan "stalking". Memang sebenarnya itu adalah sebuah pilihan yang bisa tidak dipilih. Mungkin itu adalah kegiatan tidak penting yang bisa dihindari. Tetapi, menghindari kegiatan tersebut adalah sebuah kesulitan yang sejauh ini belum berhasil aku lawan. Kembali ke kodrat wanita yang selalu ingin tahu, kebiasaan stalking menjadikanku terpaku pada media sosial yang sebenarnya tidak nyata. Kehidupan yang sebenarnya penuh rekayasa, dihadirkan dengan apiknya oleh berbagai media sosial yang mengisi sebagian besar memori di ponselku.
Memang salahku dari awal karena terlalu ingin tahu ataupun terlalu sulit mengontrol diri dari penggunaan media sosial. Tapi, sadari saja bila memang benar media sosial menyita banyak waktumu di dunia nyata. Dan saat aku menyadari itu, kemudian terlintas di pikiranku untuk beristirahat dari penggunaan beberapa media sosial yang kugandrungi.
Aku memilih rehat dari beberapa media sosial dan memilih untuk menggunakan seperlunya saja. Ternyata, sebuah perasaan lega muncul perlahan dan itu membuatku bahagia. Media sosial seperti Instagram, sudah kunon aktifkan untuk beberapa waktu. Alasannya sebenarnya sangat sederhana, karena aku butuh waktu untuk beristirahat. Dengan tidak lagi aktif di Instagram memberiku ruang dan waktu bercengkrama dengan dunia nyata. Dunia yang menungguku, dunia yang ada di depan mataku, bukanlah dunia yang ada di layar ponselku. Meskipun banyak fitur dan informasi global dapat masuk melalui Instagram, sepertinya semua orang juga akan setuju bila kejenuhan akan sosial media perlahan akan dirasakan.
Meski sebentar, sekitar beberapa bulan ke depan aku menghindar dari media sosial, tetapi itu cukup memberiku ruang beristirahat. Memberiku renggang untuk benar-benar berdamai dan berbahagia dengan kenyataan. Alhasil, sisi positifnya adalah aku bisa lebih menghabiskan waktu luangku untuk hal-hal yang bermanfaat dan meningkatkan frekuensi interaksi sosial yang aku lakukan. Sebenarnya juga bukan hanya Instagram, tetapi media sosialku seperti Line juga tidak begitu aktif. Aku memilih untuk menggunakannya dalam hal-hal penting seperti mengorek informasi dari teman atau keluarga.
Terkadang aku merasa hidupku seperti sepi dan hampa. Bagaimana tidak, chat Line juga paling mentok nih ya, orangtua atau grup kelas. Tapi, sepinya ponsel yang mirip kuburan tidak lantas membuat aku merasa kesepian. Aku tetap menjalani rutinitasku seperti mahasiswi lainnya, tetap pergi bermain bersama teman-teman, dan justru aku merasa aku lebih dekat dengan lingkungan sekitarku apabila begini. Bertukar pikiran dengan teman bisa aku lakukan secara langsung. Tidak perlu melalui tulisan dan dikirimkan melalui chat. Saat bertemu mereka, interaksi demi interaksi, serta obrolan demi obrolan yang lumayan berat bisa tercipta sendirinya.
Kalau dipikir-pikir itu mungkin karena aku tidak menciptakan intesitas chat yang tinggi dengan mereka sehingga aku lebih menghargai sebuah pertemuan yang akhirnya membuatku lebih terbuka secara langsung. Menyampaikan pendapat secara langsung, menjadi salah satu kebiasaan baru yang perlahan tercipta. Dan sejauh ini, aku bahagia dengan berbagai perubahan yang aku dapatkan. Entah kapan aku akan aktif kembali di beberapa media sosial yang kunon aktifkan. Mungkin beberapa saat lagi apabila lelahku sudah cukup terbayarkan.
Comments
Post a Comment