Bintaro adalah Rumah
Masih baru memang aku menjadi salah satu mahasiswi di sebuah sekolah tinggi yang terletak di Bintaro, tepatnya di sektor 5. Tetapi, sejak hari ini aku merasakan yang mereka sebut "Rumah".
Malam itu aku beradu mulut dengan seorang temanku yang menempuh pendidikan di sebuah kota nan nyaman di sekitar Jawa Tengah. Dia berhasil membuat emosiku membara dengan menyebut kota yang ia tinggali kini adalah rumah barunya, begitu juga dengan orang-orangnya (begitu katanya). Seolah lupa dengan kenyamanan yang Semarang berikan, ia terus mengatakan bahwa kotanya jauh lebih baik daripada Semarang--kota yang telah memberinya nyaman lebih dari tujuh belas tahun lamanya. Seperti kacang lupa kulit, Semarang tidak ada apa-apany dibandingkan kota yang ia tinggali sekarang. Dan aku tidak setuju dengan statement yang dia berikan. Sekarang atau selamanya, bahkan bagiku atau seluruh orang yang tumbuh besar di Semarang, Semarang akan terus menjadi rumah tempat kembali pulang.
Singkat cerita, aku yang tinggal di Bintaro bahkan selalu merasakan rumah adalah Semarang. Suasananya, orang-orangnya, atau bahkan hal lainnya membuatku akan terus jatuh hati dengan Semarang. Semarang memberiku banyak kenangan, sedih dan kecewa, serta canda dan tawa adalah hanya sebagian kecil dari Semarang. Berbeda dengan Bintaro, kota ini padat dan kriminalitas tinggi. Dikarenakan lokasinya yang berada dekat dengan ibukota, membuat kota ini menjadi salah satu kota metropolitan yang bahkan sebenarnya tidak kuingini. Jauh beda dengan Semarang, Bintaro menurutku tidak nyaman. Terlalu ramai, terlalu mahal, atau bahkan terlalu sesak. Aku tidak begitu menyukai Bintaro.
Atau mungkin aku hanya "belum" menyukainya.
Hingga akhirnya setelah dua bulan tinggal di kota ini, aku merasakan sesuatu yang berbeda yang seketika membuatku merasa bahwa Bintaro juga rumah kedua untukku.
Jauh banyak hal yang tak pernah kusadari, Bintaro adalah kota yang mengajarkanku dewasa. Dengan segala kepadatan, kriminalitas, atau bahkan dengan segala penat yang diberikan, Bintaro mengajarkanku untuk berdiri tegak saat aku sudah hampir menyerah. Bintaro mengajarkanku bagaimana harus tetap terbangun saat terjatuh meskipun sendirian. Bintaro membuat aku sadar, aku adalah pribadi yang kuat. Pribadi yang tegak dariku, senyum dan tawa yang membuatku bertahan, adalah sedikit hal yang baru diberikan Bintaro. Mungkin harga kafe di Bintaro tidak terlalu cocok untuk kantong mahasiswa yang notabenya anak kost yang irit. Tetapi, Bintaro tetap mampu membuatku bahagia. Bintaro mengajarkanku bahwa jarak memang berarti bagi seseorang yang ada di hati. Meskipun Bintaro juga mengajarkanku, bahwa hukum alam adalah benar, ketika yang jauh kalah dengan yang dekat. Namun, Bintaro tetap memberi kuat. Tetap memberi ruang untuk bahagiaku. Bintaro dengan teman-teman yang kumiliki sekarang adalah satu. Adalah alasan aku selalu bersemangat dan selalu jatuh cinta dengan kota ini.
Aku tidak peduli tentang bagaimana Bintaro dipandang buruk di mata mereka penikmat kota lainnya, karena memang kondisi kami berbeda. Mereka tinggal di kota mereka dan merasakan kenyamanan baru beserta orang-orang yang mulai menggantikan posisi banyak orang lama. Yang jelas, aku menyadari, Bintaro adalah rumahku juga. Bintaro adalah cinta. Bintaro adalah nyaman.
Dan Bintaro berhasil mengajarkan bahwa satu-satunya yang patut dipertanyakan dari jarak adalah,
rasa.
Comments
Post a Comment