Curahan Hati Seorang Pegawai Negeri
Jadi PNS nggak gampang.
Nggak sama sekali.
Hampir tiga tahun saya menetap di suatu
kota yang jauhnya ribuan kilometer dari rumah tempat ayah ibu saya tinggal. Hampir
tiga tahun itu juga saya selalu melawan rasa rindu dan hanya bisa menangis
kalau kalau malam hari bermimpi bisa memeluk ibu dengan mudah. Semua ini saya
jalani karena memang harus mengabdi. Orang bilang nggak seberapa, saya bilang
kadang lelahnya luar biasa.
Yang orang lihat, PNS itu hanya leha-leha
di balik meja kerja sambal main hp terus scroll video tiktok atau
youtube. Tapi oh tapi, kenyataannya saya bahkan sampai sakit pinggang dan
mendadak jompo di usia yang belum sampai dua puluh tiga karena sibuk menatap
layar komputer lebih dari lima jam sehari. Hehe, minus mata saya sudah menambah
satu dalam setahun terakhir. Sungguh bukan masa muda yang cukup indah.
Hidup memang pilihan. Dan saya
memilih jalan ini.
Ya gimana enggak, daripada saya
menambah beban yg berat di keluarga ya mendingan saya ikut kerja keras banting
tulang untuk mewujudkan impian. Hidup nggak mudah, nggak gratis juga.
Saya menukar waktu di masa muda saya dengan
tumpukan pekerjaan, kejompoan dini, dan mata minus yang tidak terhindarkan. Aih,
suka mengeluh! Wajar ya Saudara, saya juga hanya anak muda yang jadi korban
generasi roti lapis jadi harus bisa menjadi orang yang setidaknya meringankan
beban keluarga yang kalau dipikir-pikir berat banget ditanggung orangtua saya saja.
Sekolah di sebuah sekolah kedinasan membuat
saya yang tidak berminat jadi pegawai negeri, harus menjalaninya entah sampai
kapan. Meski semua pikiran anak muda jaman sekarang selalu bilang jadi pegawai
negeri tu nggak maju, nggak keren. Tapi daripada saya ikut menghakimi ya
mending saya coba dulu karena ya saya nggak punya banyak pilihan. Saya nggak
bisa punya modal usaha kalo nggak kerja, kalo enggan jadi pegawai terus uang jatuh
dari langit? Mana mungkin lah minta ke orangtua untuk hal-hal kaya gini. Mungkin
saya mikir seribu kali karena nggak semua orang bisa punya itu.
Yaudahlah, sederhananya memang saya memilih
jadi anak penurut dan ikut kemauan orangtua. Meskipun merasa salah jurusan,
tapi nggak ada yang nggak bisa dipelajari di dunia ini. Toh saya ternyata
mencintai pekerjaan saya hingga hari ini.
Sayangnya, pasti yang orang enggak lihat tuh banyak banget sampai-sampai saya pengen marah kalau pegawai negeri dikatain tukang malas - malasan. Selama ini yaudah saya nggak pernah protes, biarin mah orang lihat buruknya aja. Tapi di dunia nyata, dunia yang keras ini, saya jam tujuh pagi udah di kantor dan kadang jam tujuh malam baru pulang. Saya berangkat masih dingin soalnya matahari masih malu-malu, angin semilir khas pagi hari, pas pulang dingin juga soalnya udah nggak ada matahari.
Jadi ya gitu, saya suka
sebal kalau ada oknum yang seenaknya merusak citra pegawai negeri dengan menerima
suap, suka jalan-jalan di jam kerja. Hadeh.
Orang-orang kaya saya ini, yang lebih dari lima jam di depan komputer ngerjain laporan, lembur nggak dibayar, pulang masih bawa kerjaan, besok paginya jam tujuh udah kerjain berkas di kantor, jelas marah kalau dikata hanya bisa malas – malasan. Orang yang melakukan keseharian yang penuh dengan pekerjaan ini nggak sedikit, banyak banget. Tapi ya gitu, ketutup sama oknum yang nakal aja. Kebetulan aja yang orang lihat tuh PNS yang ke mall pakai seragam di tengah jam kerja. Ya soalnya yang rajin jelas di kantor, nggak ke mall. Dari jutaan PNS yang ada ya, ya nggak semuanya kaya gitu.
Ada ibu saya
yang sibuk membuat bahan presentasi untuk muridnya, pulang kerja masih
diusahakan mengoreksi soal ulangan, belum administrasi raport dan hal-hal lain.
Nggak semua guru tuh enak-enakan aja meskipun masa pandemi gini. Tapi selalu saja dipandang salah.
Ya gitu, yang orang lihat sebagian aja. Mana
bagiannya yang buruk lagi.
Jangankan korupsi deh, kalau kami pergi kunjungan
ke rumah client aja boro-boro nerima suap. Mau minum teh di cangkirnya
aja mikir-mikir. Nggak gampang buat kerja kaya gini. Orang bilang lahan semakin
basah semakin mudah. Yailah, basah iya tapi susah jalannya. Makin jalan makin
banyak rintangannya buat jatuh. Ya karena juga makin banyak alasan buat saling
menjatuhkan. Padahal kan kita bisa sama-sama jalan dan saling percaya.
Tapi ya lagi-lagi, stigma PNS dirusak oknum
yang tidak bertanggung jawab. Tahu nggak sih, kami yang rajin kerja di kantor
capek banget tapi berusaha tutup telinga dan nggak lagi pakai hati kalau
ngurusin omongan orang. Ya karena nggak akan ada habisnya. Nggak akan habis kalau
urusan saling menghakimi. Karena sejujurnya, nggak ada pekerjaan yang buruk. Dan
menjatuhkan tidak serta merta membuat kita menjadi tinggi.
Jadi, apapun pekerjaan kita alangkah lebih
baiknya tidak berusaha saling merendahkan karena nggak ada peran yang nggak
penting dan nggak saling membutuhkan.
Kadang suka dikata, dibayar pakai uang
rakyat. Ya emang bener, pajak negara kita untuk kesejahteraan rakyat seperti
bayar gaji pegawai pemerintahan baik aparatur sipil negara ataupun pegawai
tidak tetap di kantor pemerintahan. Makanya saya juga sampai detik ini masih berusaha
selalu bisa menjaga amanah, dan begitu pula banyak teman-teman di instansi saya
yang mengusahakan hal yang sama. Percayalah, nggak sedikit orang yang masih
berhati murni.
Kalau orang lain bisa berprasangka buruk,
begitu pula saya. Tapi, sepertinya lebih baik kita sama-sama berjuang di jalan
masing-masing karena menjatuhkan tidak akan meninggikan kita sampai kapanpun.
btw salam kenal ya...
ReplyDeletemaaf ikut komen dilapaknya hehe...
cukup memahami apa yg dirasakan mbaknya, terutama bagi sesama kaum perantau. faktor jauh dr org tua itu bagai pedang bermata dua, mereka bisa menguatkanmu dgn doa mereka, namun melemahkanmu jika mendenger kabar kurang baik dr keduanya.
jika ditanyakan pada org disekeliling kamu, apa yg harus kita lakukan agar kuat ngejalaninya, pasti selalu ada yg bilang "kuncinya adalah sabar".
ketika mendengar jawaban itu, dalam hati selalu terucap "tapi kan sabar ada batasnya" 😊
jika memang menurut hati kamu demikian, gak ada salahnya kan utk coba ningkatin batas kesabarannya??
sering denger org lain nyinyirin profesi kamu?
atau denger nyinyiran org lain karena liat ada oknum yg merusak kehormatan pekerjaan kamu dgn tindakan korupsi?
klo org jawa bilang mah "sawang sinawang", mungkin yg nyinyir itu blm pernah berada di posisi kamu, blm pernah merasakan atau bahkan blm pernah terpikirkan bagaimana perjuanganmu sampai dgn berada di posisi kamu saat ini, dan yg pasti dunia dan pemikirannya sangat terbatas hehe. klo bisa diibaratkan mungkin penilaiannya hanya dengan melihat hitamnya ceceran minyak di pantai, namun melupakan luasnya laut yang biru.
tetap semangat mbak, stay positive!!!
intan dikubangan lumpur juga tetap intan kok...
terakhir...
bisa jadi menurut ahli harimau disebut binatang terkuat, atau adolf hitler mengklaim ras jerman sebagai ras terkuat di bumi. namun sejatinya tulang punggung terkuat, ialah tulang punggung perantau.
maaf, agak maksa mau puitis tapi gagal hehehe...
anw, terimakasih sdh berbagi sudut pandangnya hehe...
Salam kenal dari org yg sdh mencoba tes CPNS, namun gagal untuk kedua kalinya.... :)
Hai kamu dimanapun berada,
Deletemungkin sudah terlewat setengah tahun komentar ini dibalas, tapi percayalah bahwa di detik ini aku membacanya, rasanya ada banyak sekali syukur yang mungkin sempat lupa aku panjatkan. Salah satunya aku bersyukur bisa berbagi cerita walaupun secara tidak langsung dengan kamu.
Semoga, dimanapun kamu berada, Tuhan selalu memberikan kekuatan, kesehatan, dan kebahagiaan. Terima kasih untuk kata-kata manis yang membuat tulang punggung 'perantau' ini kembali kuat. Aku harap, tulang punggungmu juga tidak kalah kuat dan hatimu tidak kalah lapang.
Percayalah...
Menjadi pegawai negeri maupun tidak, kita tetap bisa sama-sama mengabdi dan berjuang untuk siapa saja. Jangan pernah berkecil hati karena bisa jadi Tuhan menutup satu pintu dan membuka seribu jendela lainnya.
Semangat yah! ayo mungkin lain kali kita bisa berbagi banyak cerita lainnya, jangan disimpan sendiri ya, karena rasanya akan sangat berat kalau dipendam seorang diri. <3