Ruang Kedua

 



Menghadirkannya di hidupku adalah sebuah keajaiban yang luar biasa untuk saya—seorang gadis yang sibuk patah hati dua tahun lamanya. Bahkan menurut saya, takdir yang digariskan untuk kami sungguh sempurna. Lebih dari tiga ratus lembar hari yang kami lewati bersama, belum pernah saya merasa menyesal mengenalnya. Membawanya ke kehidupan, adalah sebuah cerita yang tidak akan pernah habis. Akan selalu ada, lagi dan lagi.

Setelah pernah menjadi gadis yang bertahun-tahun patah, tiba-tiba saja kehadirannya menguatkan di setiap langkah. Waktu pertama kali kami saling mengenal, jelas tidak ada apapun yang istimewa kecuali satu hal. Matanya. Teduh, tenang, temaram, ada sesuatu yang tidak pernah bisa saya ceritakan secara gamblang. Ada yang tertahan saat menatap dua binar yang membius. Kalau kata orang-orang, itu namanya jatuh cinta. Kalau sudah ada kupu-kupu di perutmu, kamu resmi menjadi orang yang tidak bisa tidur karena sibuk memikirkan harimu bersamanya.

Resmi sudah.

Satu persatu hal kecil membuat saya terus berandai waktu itu, soal kemungkinan kami bisa duduk bersama dan berbicara tanpa banyak gagu. Lalu kemudian, itu semua terwujud dengan mudah. Dia yang menurut saya lebih dingin dari es kepal milo, ternyata bisa sehangat wedang jahe. Menenangkan. Suaranya yang berat, membuat saya terbang karena sibuk berangan. Alih-alih banyak berusaha menunjukkan rasa suka, saya memilih menemaninya. Karena pada akhirnya, saya hanya ingin bisa melihatnya baik-baik saja. Tidak lebih.

Tidak peduli waktu itu ada banyak Wanita yang mengantri, mendaftarkan diri menjadi pendampingnya. Saya tidak maju, tidak juga mundur. Tidak ingin selalu memiliki, tapi berusaha selalu bisa ada dan menemani.

Kalian tahu, sebongkah es akan mencair bila dihangatkan. Begitu pula dia. Dan saya percaya itu.

Pria minim bicara itu kini menjadi super bawel, banyak maunya, dan kadang menyebalkan karena terlalu sering teriak atau tertawa. Tapi saya suka itu. Hal-hal baru yang menyebalkan adalah warna yang selalu ingin saya lihat setiap harinya. Tidak peduli itu mengganggu atau tidak, hari-hari saya lebih baik waktu melihatnya mempertontonkan sederet geligi yang meski tidak rapi, tapi membuat rupanya menjadi sangat manis. Bahkan, saat menulis ini saya bisa membayangkan tawanya, bisa mendengar suara yang selalu saya sukai.

Dengan perjalanan yang tidak mudah, menghadirkan dia yang sesungguhnya adalah sebuah pencapaian yang amat baik. Katanya, hidup dengan banyak mendengar tidak seberapa baik karena mulutmu akan dibiarkan membungkam dan nyalimu dibiarkan menciut. Hidup akan mengenal kata mengalah dan membisu. Tidak pernah bisa bersuara karena sibuk takut tidak akan punya jawaban yang sesuai harapan. Aih, hidupnya penuh dengan ketakutan sebelumnya. Dia hanya menunjukkan sisinya pada orang-orang tertentu yang ia percaya. Dan saya adalah salah satunya.

Sebenarnya tidak ada yang berjalan dengan cepat, semua proses akan dibiarkan mengalir dan kesusahan. Tapi bukankah disitu kenangan akan tercipta? Pada suatu malam yang temaram, saya berusaha menjadi orang yang hadir menenangkan segala pikiran buruknya. Ketimbang mengucap, “sabar yaa, semangat!” saya memilih menemaninya makan malam. Membiarkan dia terdiam sejenak, kemudian pelan pelan berbicara.

Kadang, menjadi manusia itu perlu, kalau sedih luapkanlah. Kalau ingin, lakukanlah. Kamu boleh merasa kecewa pada cerita di hidupmu, tapi selalu ada aku.

Malam itu adalah hal yang sulit untuk saya yang dua tahun patah hati, menutup diri untuk dekat dengan laki-laki manapun karena takut sakit hati. Entah, tapi sepertinya mala mini saya harus mengambil langkah, membiarkan rasa sakit itu lepas ke langit dan menenangkan laki-laki yang baru saya kenal sekitar tiga bulan terakhir. Saya harus bisa menemani kapanpun, karena dia membutuhkan itu. Kalau perlu seumur hidup, saya akan menemaninya selama itu.

Mungkin kesadaran saya hanya setengah, dasar bodoh. Teman biasa tidak akan perlu menemani seumur hidup selain menua berdua. Tapi, perasaan yang dibiarkan tumbuh itu ternyata adalah benih yang tidak sengaja saya tanam pada hubungan dua manusia yang sama-sama kehilangan arah dan hanya termangu di jalan yang sama. Lama kelamaan, taman bunga tumbuh di perjalanan kami, saling melengkapi, dan menginginkannya hadir setiap hari.

Perasaan yang sama-sama berbunga ini ternyata bukan milik saya sendirian, dia juga. Hari-hari kami saat berjauhan, dipenuhi dengan ritual bercerita tiap malam. Kadang saya begadang, kadang terlelap baru beberapa menit berbicara. Hari itu, saya juga resmi mencintai diri sendiri. Selain belajar mencintainya, saya Kembali menemukan bahwa diri ini layak dicintai sepenuhnya. Saya bukan orang yang intoleran, tidak peduli, dan jahat. Tidak ada yang salah soal mencintai diri ini. Dan saya belajar dari dia.

Luar biasa kalau melihat takdir membawanya dengan jalan cerita yang tidak pernah disangka. Sudah saatnya saya terbangun dari jurang yang dalam, sudah saatnya saya mulai kembali ke permukaan. Tidak lagi ada alasan untuk tidak menyukai diri ini, karena dia saja menyukainya. Tidak ada yang perlu ditakutkan soal segala kekurangan, karena orang yang tepat akan selalu bisa melihat kelebihan dari kekurangan yang kita sembunyikan.

Dia benar-benar tidak akan habis diceritakan dalam kisah panjang ini. Tidak pernah ada titik yang benar-benar titik, tentang dia. Bunga itu akan terus bermekaran, kisah kami akan terus berjalan, dan dia akan selalu menjadi pemeran yang mengisi penuh hati saya.

Comments

Popular Posts