Bertemu kamu, lagi.


Ehem.

     Selamat …


Oh oke, bukan.

     Hai…

Terdengar kaku bukan?


Hehe, rasanya sudah lama sekali aku tidak mampir. Sudah sangat lama semenjak, entah terakhir kapan aku meluangkan waktuku untuk menuangkan isi otakku ke dalam bentuk tulisan di blog ini. Dan, ya, sekarang aku menemukan sedikit waktu untuk menghidupkan kembali yang pernah mati. 

Oh, tidak, bukan mati. Hanya pingsan sebentar, atau bisa kita anggap istirahat.

Bagaimana?

Iya, kabarmu.

Apa di sana sudah mulai menikmati hari-hari di dalam ruangan? Sudah biasa menahan rindu karena sulit bertemu orang-orang kesayangan?

Ehm, sejujurnya aku juga.

Juga rindu. Rindu kamu, rindu isi rumahku, rindu teman-temanku, rindu keramaian di gelap malam, rindu semesta yang pandai diajak bekerja sama.

Tapi bagaimana lagi, isi bumi dan isi hati sedang tidak bisa disamakan kali ini.
Ya, karena siapa yang tidak mau. Siapa yang tidak mau bermain, berbagi cerita, atau sekadar bertemu. Aku bahkan sangat mau.

Rasanya, argh. Seperti terjebak di tengah pulau tak berpenghuni bersama beberapa orang temanmu. Sibuk mencari akal agar selalu sehat dan tetap aman. Sibuk mencari cara agar tidak gila pelan-pelan. Rindu keluarga, jelas iya. Terbang ke tanah Jawa, jelas ingin. Tapi mengedepankan ego, tentu tidak jadi solusi atas segala permasalahan ini.

Bumi sedang sakit semenjak akhir tahun lalu. Membuat manusia satu persatu mulai menyadari, bahwa siapa yang sedang menjaga siapa?

Kemarin sempat mendengar, bahwa ini cara bumi menjaga dirinya. Banyak orang mengeluarkan kalimat prihatinnya, menyemogakan doa yang sedang dengan kompak diagungkan seisi dunia.

Katanya, “cepat pulih bumiku.”

Tapi, yang tidak mereka tahu. Yang tidak kita tahu.

Mungkin bumi sedang tersenyum, atau mungkin menangis.

Haru biru sedang mewarnai awal tahun kabisat ini. Cara bumi menyembuhkan diri mungkin seperti ini.
Menjaga saja jarang-jarang. Berteriak cepat sembuh di saat bumi menunjukkan caranya menyayangi dirinya sendiri.
Tidak bilang kalau kamu merusak. Tapi, semuanya pasti sama.

Naik kendaraan pribadi kesana kemari. Menggunakan plastik sekali pakai dan dibuang entah kemana. Bisa hanya menuju ke selokan, atau terbawa arus hingga ke muara. Membiarkan paus dan penyu memakan sisa-sisa yang sia-sia.

Lupa cara hidup selayaknya manusia, yang turut menjaga bumi dan isinya.

Banyak yang kurang. Banyak yang salah.

Aku bukan menunjuk kamu.

Aku cuma mau mengajakmu berdiri berdampingan, dan melihat kaca yang lebar di depan mata.

Oh ada aku dan kamu. Ada kita.

Yang lupa, kalau bumi punya caranya.

Comments

Popular Posts