dua puluh.
Dua puluh.
Seminggu lalu saya menginjak angka itu, menggenapi usia
dengan puluhan kedua.
Kalau kata orang, saya sudah ‘kepala dua’. Meskipun nyatanya
hanya satu.
Mungkin disini, kepala dua yang dimaksud karena saya jadi
berpikir dua kali untuk semua keputusan yang saya ambil di dalam hidup saya. Saya
hanya agak ragu, apakah saya benar-benar sebijak itu nantinya?
Bulan kelima, hari kedua puluh empat. Tepat pukul tujuh
lewat tiga puluh menit, kue ulang tahun diberikan oleh teman-teman. Sorak
sorai, teriakan, sambutan, semua memenuhi isi kepala saya. Tatap bahagia,
tangan yang dipenuhi roti dengan hiasan, serta lilin yang menyala, sudah siap
menyambut saya yang kali ini mulai masuk ke usia dewasa. Haha, apakah memang
usia mengartikan tingkat kematangan pemikiran?
Harapan saya tidak banyak, hanya ingin diberi umur yang
membawa berkah, diberi kelancaran dalam urusan dunia maupun akhirat, dalam
urusan antarmanusia atau bersama Tuhan dan semesta. Hanya-hanya yang lain, yang
terdengar sederhana dan monoton.
Hanya ingin menjadi orang yang benar-benar berguna.
Dua puluh.
Puluhan kedua dalam hidup saya. Meninggalkan belasan yang usang
di belakang.
Belasan yang usang itu sudah berdebu, mungkin.
Sudah menjadi abu sebagian, sudah hilang beberapa
diantaranya.
Pencapaian-pencapaian di usia yang mulai disebut dewasa ini
tidak banyak.
Merantau hingga ke pulau seberang, contohnya.
Membuka hati yang baru, bisa juga.
Menerima segala kenyataan, salah satunya.
Dan segala hal yang menurut saya bahkan hampir tidak mungkin
dirasa.
Sungguh, dua puluh yang luar biasa. Saya suka. Sekaligus saya
takut.
Takut kalau tentang cerita dan mimpi tidak berjalan dengan
sebagaimana mestinya.
Takut kalau tentang hati saya ragu.
Takut kalau tentang hidup saya mudah terbawa arus.
Takut kalau saya tidak bisa sebaik belasan sebelumnya.
Dua puluh.
Saya berusaha sebaik-baiknya, semoga.
Comments
Post a Comment