Senja, Parepare, dan Sederet Mimpi



Katanya, jangan pernah bermain dengan omongan.

Jangan pernah juga main-main dalam menulis daftar mimpi.

Karena di sana, di langit, semua mimpi yang pernah menggema hingga ke angkasa, sedang diwujudkan Tuhan dalam bentuk yang sama atau digantikan dengan jalan cerita tak biasa.

2016, saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas, secara tidak sadar mengelu-elukan nama Sulawesi sebagai pulau yang sangat ingin kukunjungi suatu saat nanti. Menulis beberapa daerah yang akan kujadikan tujuan menghabiskan waktu liburku. Dan kini, Tuhan benar-benar memberi mimpi itu lewat cara yang luar biasa.

Tuhan memberiku tugas untuk mengabdi, di tanah yang bahkan aku tidak pernah aku bayangkan.



Parepare, 2019.

Aku belum pernah senasionalis ini,

Rela menyeberang dan menciptakan jarak yang jauh dari kenangan

Rela menukar masa mudaku dengan tugas yang sudah kusetujui sejak awal

Semua dilakukan demi sebuah kata sederhana,

Pengabdian.

Tabu rasanya mengucapkan kata yang aku bahkan belum pernah sampai memikirkan, aku bahkan tidak pernah membayangkan ke pelosok negeri mana aku akan menginjakkan kaki. Tapi ternyata Tuhan memberi jawaban secepat itu, di saat aku hampir terlelap dalam tidur malamku. Di saat purnama sedang bersinar sangat terang, di saat angin malam di luar rumah lebih menggigit daripada kenangan buruk yang sulit dilupakan.

Malam itu, malam yang ingin kuhentikan, malam yang bahkan tidak ingin kulewati sama sekali.

Malam dimana namaku ada di deretan mahasiswa yang bertugas dinas di Indonesia timur, tempat yang tidak pernah kusemogakan untuk melakukan pengabdian.

Kalau boleh sedikit berlebihan, kala itu, aku menangis hampir semalaman. Rasanya hancur, harus rela melepas dekat untuk waktu yang entah sampai kapan. Meski pulau kami hanya berjarak belasan sentimeter di peta, nyatanya ada jarak sekitar 1300 km yang membuat aku harus sulit bertemu ibu. Setelah bermanja manja ria, menghabiskan liburanku yang sebagian besar di rumah saja, aku rasa pergi merantau ‘lagi’ adalah sebuah tamparan yang menyakitkan. Sebuah kenyataan yang hari itu tidak pernah bisa kuterima. Sebuah ketakutan yang tidak pernah aku bayangkan.

Rasanya, kali ini aku pergi untuk menetap.

Untuk tinggal.


Dengan waktu yang secepat itu, dengan semua yang datang tiba-tiba, seminggu sejak pengumuman, aku sudah menginjakkan kaki di tanah Sulawesi. Makassar jadi kota pertama yang aku kelilingi, menghabiskan seharian dengan ibu yang dengan senang hati mengantarku. Aku tahu, liburan adalah alasan lain setelah melepas rindu. Ibu yang katanya ingin pergi berlibur, sepertinya punya rasa berat hati melepasku yang akan berjauhan darinya, untuk waktu yang terhitung lama.

Aku menikmati hariku di Makassar, setelah dua jam berada di atas pesawat dengan penerbangan malam. Menyukai bagaimana tiap lekuk kotanya yang tidak seburuk yang kubayangkan. Meski perbedaan mendasar ada di adat istiadat dan budaya, tapi Makassar kurasa masih bisa kucintai meski tidak sama besarnya dengan tanah Jawa.

Pergi ke Fort Rotterdam, benteng yang pernah aku elu-elukan dulu. Aneh, sejak tiga tahun lalu ingin pergi kesana, hanya sekadar datang dan melihat bangunan. Tidak ada yang aku inginkan dari Rotterdam selain nilai sejarahnya yang luar biasa. Dan kali ini, lagi-lagi, Tuhan membantu mewujudkan mimpi-mimpi itu menjadi cerita nyata.

Belum sempat jatuh cinta teramat dalam dengan Rotterdam, aku harus melanjutkan perjalanan ke kota yang akan menjadi saksi hidupku sampai beberapa waktu yang akan datang.

Kita mengenalnya, Parepare.

Sebuah kota dengan kosa kata berulang yang katanya paling mengasyikkan dibandingkan kota dengan kata berulang lainnya. Letaknya tidak terlalu jauh, dengan perjalanan yang ditempuh kurang lebih dua hingga empat jam tergantung kondisi jalanannya. Selama perjalanan panjang, Tuhan menyuguhkan pemandangan yang tidak dimiliki Semarang. Kanan kiri bukit yang menawan, sawah terhampar, bahkan hingga laut yang gemerlap terkena sinar matahari senja saat aku melewatinya.

Pemandangan sangat menawan, yang kulihat hingga kaki ini menginjak tanah Parepare. Kota kecil yang terdiri dari bukit dan pantai. Dengan pusat pemerintahan di daerah bukit, dan pusat kota yang ada di sepanjang pesisir pantai. Suasananya damai, jalannya lengang, makanan dengan citarasa pedas dan porsi besar, udara yang cukup terik, dan desir ombak yang memenuhi ruang dengarmu bila pergi makan ke kedai-kedai dekat pantai.

Aku suka semuanya.

Hampir detail-detail bagian Parepare ternyata tidak mengecewakan sedikitpun.

Aku suka semuanya,

Terutama tentang senja.






Hampir tiap hari, sepulang berkegiatan di kantor, senja mampu membuai mata dan jiwa. Semburat merah yang mengangkasa terlalu elok sampai tidak bisa kuucapkan dengan kata-kata. Sepertinya, meski kota ini tidak memiliki bioskop atau mall sekalipun, orang-orangnya akan tetap bahagia dengan semua indah yang Tuhan berikan. Senja sudah sangat cukup untuk membersihkan pikiran dari kesibukan harian, senja adalah hiburan yang menenangkan, senja adalah banyak hal dari bahagia.  

Berjajar kendaraan bermotor yang memang sengaja menghabiskan senja di dekat pantai ataupun di pinggir laut. Aku sendiri sudah beberapa kali mengagumi mentari yang tenggelam di kaki cakrawala.

Dalam setiap hariku, bahkan aku sangat tidak apa-apa kalau semisal sulit pergi menonton film atau pergi ke mall.

Aku lebih menyukai bagaimana aroma laut yang menyeruak, menyukai alunan musik yang diciptakan ombak dan diskusi ringan burung yang beterbangan.

Aku suka bagaimana senja menutup hari dengan bahagia, melepas pagi dengan manja, mengajarkan kalau perpisahan terkadang sebegitu eloknya.


Tuhan, maaf kalau aku pernah menangisi hidupku.

Sungguh, aku menyesal pernah tidak menyukai kota tempat kini aku mengabdi.

Besok, kelak, mungkin aku akan sama jatuh cintanya dengan Semarang.

Besok, kelak, kota kecil ini mungkin akan lebih mengesankan dari Jogjakarta.

Besok, kelak, apabila aku benar harus menetap di kota ini, dengan jarak ribuan kilometer dari rumah, aku akan menerima dengan bahagia.

Karena mungkin, memang banyak hal yang harus disyukuri, banyak hal yang akan membuatku jatuh cinta, di sini.

Meski tidak hari ini.


Februari, 2019.


Comments

Popular Posts