Menjadi Pengguna Sosial Media yang Bijak (Bagian Dua)
Aku sudah
kembali menginjakkan kakiku di Bintaro sejak beberapa minggu lalu untuk
melanjutkan kegiatan perkuliahan. Dan dengan dimulainya kembali kegiatan
perkuliahanku, membuatku kembali lagi-lagi melepaskan sosial mediaku.
Menurutku
sendiri, sosial media bukan sesuatu yang teramat penting. Entah mengapa, aku
menjadikan sosial media sebagai sebuah pelarian atas semua rasa bosanku.
“Ya kalo
bosen, buka instagram.”
“Ya gabut
makanya main twitter”
“Ya ngelihat
timeline line aja kalo lagi butuh hiburan.”
Bagiku
sendiri, sosial media adalah sebuah sarana hiburan. Semuanya menghibur, mulai
dari kontennya hingga kolom komentarnya.
Aku sendiri
bukan salah satu penikmat aktif sosial media. Satu-satunya sosial media yang
sangat sering kugunakan adalah whatsapp dan line, dimana intensitas penggunaan
kedua tidak begitu dominan di hidupku. Whatsapp atau line hanya kubuka saat aku
ingin menghubungi seseorang, ataupun sedang dihubungi seseorang. Aku tidak
begitu aktif untuk memantau timeline, story, dan hal-hal lainnya. Orang berpikir
mungkin aku cukup kudet, tapi apakah tingkat pengetahuan informasi hanya diukur
oleh tingkat keaktifan kita di sosial media?
Aku bukan
penggila sosmed. Aku pernah, tetapi dulu. Saat dimana aku belum menemukan
sepenuhnya apa yang aku inginkan, saat dimana aku masih menjadi aku yang
melihat orang lain secara terus menerus.
Setelah kembali
ke Bintaro, aku kembali tidak terlalu aktif menggunakan instagram. Mungkin aku
tidak menon-aktifkan instagram (karena ada seorang dosenku yang memberi tugas
untuk mengupload sebuah video di instagram), tetapi intensitas penggunaannya
teramat sangat jarang. Aku yang sekarang sudah mampu mengendalikan diri untuk
tidak melakukan apa yang menurutku tidak terlalu penting. Aku bukan influencer,
bukan selebgram, bukan orang yang memilliki kewajiban aktif di sana, dan aku
menikmati itu.
Mungkin semua
akan beda cerita apabila aku seorang influencer atau sejenisnya, dimana aku
memiliki kewajiban tertentu atas proyek kerja sama atau yang biasa disebut
endorsement. Tapi, aku siapa? Kehidupanku juga tidak terlalu penting untuk
diketahui banyak orang. Sekarang aku cenderung melupakan instagramku, lupa
membagikan hal-hal menarik yang kulakukan, lupa menceritakan banyak hal yang
kualami, dan bahkan cenderung malas. Aku lebih asyik menikmati hal-hal nyata
yang ada di depan mataku, lebih seru menurutku jalan-jalan tanpa perlu sibuk
membagikan semua rangkaian cerita, lebih nikmat memang makan dan bercengkrama
tanpa perlu para pengikutku tahu apa yang kulakukan saat itu.
Aku sangat
sangat menikmati setiap waktuku.
Lagipula,
apa yang kita bagikan sebagai konsumsi publik nantinya akan membangun citra
yang berbeda-beda di pandangan banyak orang. Contoh, apabila aku pergi ke mall.
Si A, “wah enak banget sih jalan-jalan mulu”Si B, “baru sempet jalan ya? Sibuk banget pasti kuliahnya”Si C, “gila lu hedon banget jadi orang”Si D, “ngapain juga update orang cuman ngemall”
See?
Tidak semua
orang berpikiran sama, tidak semua orang juga memiliki prasangka yang baik ke
diri kita. Aku sudah pernah melewati asam garam pahitnya dicaci maki, dibully,
dan sejenisnya sehingga sudah cukup untukku belajar dari semua yang pernah
terjadi. Kemudian aku tumbuh menjadi pribadi yang selalu bersikap, “BODO AMAT”.
Sebuah pemikiran yang kadang perlu kita tanamkan agar hidup kita berjalan
seolah baik-baik saja.
Pemikiran “bodo
amat” ini mungkin tidak kutanamkan untuk beberapa hal, aku hanya menerapkan
untuk hal-hal yang menurutku tidak begitu penting di hidupku, seperti komentar
buruk orang. Semua orang akan berkomentar sesuka mereka, menciptakan mindset
yang berbeda-beda, memberi label seenak mereka, semua orang akan melakukan itu.
Sebenarnya
ini sudah larut malam. Malam ini aku lelah dengan segudang aktivitas tetapi
belum ingin segera tidur, hingga akhirnya memaksakan diri menulis postingan
ini.
Mungkin akan
kulanjut besok, lusa, atau entah kapan.
Selamat
malam, maaf bila mungkin topiknya banyak melebar ke banyak hal.
Semoga kalian
selalu bahagia, sampai bertemu di postingan selanjutnya!
Comments
Post a Comment