This February

Hai, sudah lama tidak berjumpa ya?

Kurang lebih satu bulan lamanya aku absen dari postingan blog yang biasanya dipublikasikan minimal sebulan sekali. Kegiatan kampus akhir Januari cukup padat, penuh aktivitas akademik sejenis ujian akhir semester serta malam keakraban kelas yang dilaksanakan di Puncak Bintang, Bandung. Lagi-lagi kali ini aku mengingkari janjiku sendiri, sebuah resolusi yang ditulis di awal 2018 dengan niatan bisa lebih rajin berbagi rasa melalui postingan di blog secara rutin. Tapi apa daya, ternyata tingkat ‘kemageran’ jauh lebih baik menguasai diri sendiri dibandingkan niatan. Hehehe.

Bulan Januari lalu keseharianku dipenuhi belajar dan belajar. Penuh dengan perjuangan untuk melewati semester pertama di kampus tempatku belajar. Rasanya, kemarin adalah perjuangan hingga titik darah penghabisan demi mampu melanjutkan semester selanjutnya. Setelah perjuangan terselesaikan, eh belum juga, setelah perjuangan semester awal selesai, akhirnya  ada sedikit ruang di otakku untuk menyusun kata dan mengisi blog ini lagi seperti biasanya.

Meskipun libur satu bulan lamanya, aku bahkan tidak mampu menyempatkan diri untuk menulis blog karena terlalu asyik menghabiskan waktu untuk berlibur. Aku benar-benar beristirahat untuk beberapa saat demi kesiapan mental menghadapi semester kedua di bulan Maret mendatang. Liburan kali ini, cukup sederhana cara mendapatkan bahagianya. Aku menghabiskan waktu di rumah, di rumah nenek, di rumah sepupuku, di kos temanku, dan di kamar kesukaanku. Aku benar-benar menikmati waktuku untuk berada di sekeliling orang terdekatku. Aku tidak terlalu ingin bertemu dengan banyak teman lama, dikarenakan waktu  libur kami yang berbeda.


Menjadi mahasiswi di sekolah kedinasan berarti siap mengambil risiko bahwa waktu liburmu akan berbeda dengan teman-teman di universitas lainnya. Dan bukannya tidak ingin bertemu, aku memprioritaskan pulangku sepenuhnya untuk bersama keluarga. Entah karena aku memang hidup didominasi oleh keluarga terdekat atau memang rasa rinduku terlalu berlebihan pada mereka. Aku hanya berusaha memberikan waktu-waktu luangku untuk mereka. Karena kelak, kalian pun akan sadar bahwa satu-satunya hal yang tidak mampu dibeli adalah waktu. Termasuk waktu bersama keluargamu.

Sesuatu yang akan aku sesali suatu saat adalah, lebih memilih duniaku bersama teman-teman dibandingkan keluarga. Mungkin bagi beberapa orang, aku terlihat manja, anak mama, atau apalah. Tetapi bukankah setiap orang berbeda-beda? Aku sendiri tidak bisa menyamakan diriku dengan kalian. Aku tidak mampu memaksakan persepsiku dengan kalian. Aku hanya bisa berbagi, dan kalian juga bisa tidak setuju denganku karena memang kita berbeda. Dan kali ini, aku memang mengaku bahwa aku sedekat itu dengan keluargaku sampai-sampai aku akan terus merasa homesick bila jauh dari mereka.

Aku bisa hidup seorang diri, bersama orang-orang baru di tempat yang jauh dari rumah, tetapi aku akan selalu merasa bahwa hidupku seperti memiliki bagian yang kurang bila tidak ada ada keluarga yang menemaniku. Kini setelah delapan belas tahun aku hidup dan aku masih selalu merindukan kedua orangtuaku, lalu mungkin ada yang mengatakan bahwa aku terlalu manja, sebenarnya salah. Aku bukan manja, bukan tidak mandiri, tapi aku hidup dilatar belakangi oleh dukungan dan kehadiran mereka. Dan setelah belajar untuk jauh dari mereka, aku selalu merasa bahwa kehadiran mereka lebih indah dari apapun yang kudapat sebelumnya.

Menjadi mahasiswi sekolah kedinasan membuatku harus siap untuk berada jauh dari rumah sejak aku menandatangani surat kontrak kepada negara. Aku yang bersekolah dengan dibiayai beasiswa oleh negara, diharuskan mengabdi selama beberapa tahun dan siap ditempatkan di seluruh penjuru Indonesia. Sontak hal ini membuatku makin membuka mata bahwa aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk selalu hadir di tengah-tengah keluargaku. Aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk selalu menjadi teman curhat mama, menjadi motivator untuk adikku sendiri, atau bahkan teman berbagi pemikiran dengan papa. Aku juga kehilangan banyak waktu untuk menemani nenekku memasak ataupun sekadar duduk di sofa bersama kakek menikmati sore hari yang teduh.

Aku akan banyak kehilangan waktu yang mungkin di mata beberapa orang tidak nampak berharga, tetapi bagiku, seorang anak yang diharuskan dan disiapkan untuk jauh dari rumah, waktu-waktu itu lebih dari sekadar anugerah. Mampu memberi hadir pada tiap menit mereka, memberi senyum dan tawa pada hari-hari mereka, memberi cerita pada waktu-waktu senggang mereka, itu semua lebih dari indah. Itu semua sebuah rejeki yang bahkan akan terus aku semogakan tetap ada di tahun-tahun mendatang. Itu semua mungkin biasa saja bagi beberapa orang, tetapi sangat istimewa bagi orang-orang yang selalu ada di hidupku.

Sekarang, saat berada di tanah rantau, satu-satunya yang mampu kuberi selain doa yaitu, perjuangan. Aku tidak akan pernah lelah untuk berjuang menyelesaikan jalan yang sudah kupilih. Aku tidak akan pernah lelah untuk mendapatkan apa yang harus kudapatkan. Aku tidak akan pernah lupa bahwa rindu mereka harus kubalas dengan sebuah kabar bahagia. Aku tidak akan pernah lupa bahwa suatu saat, senyum dan tawa mereka adalah tanggung jawabku. Dan semoga, dari mata mereka akan berlinang airmata haru bahagia atas apa yang mampu kuberikan suatu saat nanti.

Untuk kalian yang berada di tanah rantau, jangan pernah lelah untuk berjuang untuk menyelesaikan jalan yang kaupilih. Jangan pernah lupa bahwa karena keluargamulah, kamu bisa berada hingga titik ini. Jangan pernah membuat mereka menangis kecewa, buatlah mereka menangis bahagia. Tidak apa rindu rumah, tidak apa bila belum merindukannya karena belum sempat merasa jauh darinya. Tetapi, mulai dari sekarang luangkanlah waktumu untuk sekadar memastikan bahwa mereka dalam keadaan baik-baik saja. Suatu saat, suara mereka, pesan mereka, senyum mereka, pelukan mereka, atau bahkan amarah mereka akan selalu menjadi manis untukmu.

Untuk kalian yang belum sempat merasakan rindu, karena belum sempat memiliki waktu untuk jauh dari rumah, manfaatkan waktu sebaik mungkin. Berikan kehadiran sebanyak yang kalian bisa, berikan pelukan juga ciuman sebanyak mereka memberikannya padamu. Cobalah mendengarkan keluhan mereka, tersenyum untuk setiap hari-hari mereka. Karena akan tiba saatnya, kedua kaki ini harus beranjak jauh dari rumah, meninggalkan semua kenang yang indah pada tiap sudutnya, dan menjauh dari dekapan orangtua. Kamu tidak akan lemah, kamu hanya akan merasa banyak merindukan rumah dan seisinya.

Kalian tidak pernah terlalu lemah, terlalu tua, terlalu hebat untuk terus merindukan ‘rumah’.


Karena terkadang, rumah bukan sekadar bangunan, tapi seseorang.

Comments

Popular Posts