Please, Open Your Eyes


Beberapa waktu lalu dunia hiburan Korea sempat dihebohkan dengan berita kematian Kim Jong Hyun –salah satu personil boygroup Shinee. Kim Jog Hyun atau idol yang akrab dipanggil Jong Hyun ini adalah salah satu idol yang sudah cukup lama berkarya di jagad dunia musik Korea Selatan. Namanya masuk dalam jajaran personil boygroup yang cukup terkenal di bawah naungan agensi SM Entertainment. Kepergiannya sontak mengagetkan para penggemar Kpop yang selama ini mengetahui Jong Hyun dalam keadaan baik-baik saja.

Rupanya usut punya usut, Jong Hyun memilih mengakhiri hidupnya dengan membakar briket batubara di kamar apartemennya yang tertutup saat itu. Bukan tanpa sebab, Jong Hyun dikabarkan menderita depresi yang cukup berat sehingga lebih memilih mengakhiri hidupnya di usia yang masih tergolong muda. Terlepas dari seberapa besar keyakinannya pada Tuhan sehingga dia memilih bunuh diri untuk mengakhiri permasalahannya, Jong Hyun hanyalah satu dari sekian orang yang berakhir pasrah akan berbagai tekanan hidup yang ia miliki.

Beberapa orang mengatakan, penggemar Kpop terlalu membesarkan kasus ini hingga melupakan betapa kejamnya penderitaan yang dialami warga Palestina saat ini. Di antara perdebatan yang terjadi, seharusnya kita sadar bahwa kasus kematian Jong Hyun dan perang yang terjadi di Palestina adalah dua kasus kemanusiaan dengan latar belakang yang berbeda. Kasus kematian Jong Hyun seharusnya menyadarkan kita bahwa di luar sana masih banyak perasaan orang yang harus kita jaga dan kita bantu untuk melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.

Tidak seharusnya kita mengesampingkan permasalahan kesehatan mental seseorang. Bukan untuk membela kematian Jong Hyun daripada kasus peperangan di Palestina, tetapi untuk menyadarkan kita agar kita lebih mengerti bahwa banyak jiwa yang sebenarnya lelah dan memilih mengakhiri hidupnya selain Jong Hyun. Kasus depresi yang Jong Hyun alami adalah sebuah tamparan bagi orang lain agar kita sadar bahwa kita tidak dapat dengan mudah menganggap semua orang memiliki kelapangan hati yang sama dengan kita.

Setiap pribadi memiliki kesabaran dan kekuatan yang berbeda-beda. Terlepas dari kuatnya iman, dalam pribadi seseorang dipastikan memiliki jiwa yang tidak sama baiknya dengan orang lain. Seharusnya, kasus bunuh diri yang terjadi bisa dihindari dengan adanya dukungan dari lingkungan sekitar. Depresi bukanlah hal yang mudah untuk diabaikan, bukanlah hal yang tepat untuk dipandang sebelah mata. Sejauh ini, kita hanya melihat cerita demi cerita seseorang adalah sebuah candaan untuk didengar. Tidak semua cerita dianggap sebagai sebuah serius, padahal terkadang beberapa darinya adalah sebuah kisah yang menyakitkan.

Banyak orang yang menganggap patah adalah sebuah hal yang biasa dalam hidup. Patah, apapun itu adalah sebuah sakit yang dipelihara oleh waktu. Kita tidak mampu sekadar mengesampingkan cerita sendu teman-teman kita karena nyatanya mereka bukanlah kita dalam berbagai sisi. Sekali lagi, kita tidak mampu menyamakan kemampuan kita dengan orang lain. Ketika kita mendengar curhatan teman kita tentang beban hidupnya, coba sedikit belajar menjadi dirinya. Coba bayangkan bila itu adalah kalian yang menerima permasalahan demi permasalahan. Apakah kalian masih sanggup dalam melewatinya sendirian?

Memang sebenarnya kita tidak sepenuhnya sendirian, kita selalu bersama Tuhan yang memberikan jalan atas segala permasalahan. Tetapi, yang harus kita pahami terkadang seseorang membutuhkan pendengar dan perespon atas segala beban yang ia ceritakan. Tuhan memang Dzat yang akan selalu menemani kapanpun, dimanapun, tetapi ketika kita cerita kepada Tuhan tentang segala beban, Tuhan belum memberi respon secara langsung di depan matamu. Dan mungkin itu pun terjadi, hanya kepada beberapa orang pilihan Tuhan saja. Oleh karena itu, kita membutuhkan teman sebagai pendengar atas segala hal yang ingin diluapkan.

Lalu, sebenarnya apa yang harus kita lakukan bila kita yang justru mengalami depresi itu? 

Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan saat kita mengalami depresi atau beban berat dalam hidup :


1.       Carilah teman bercerita


Tidak semua orang merasa cukup mampu meluapkan emosinya dengan dirinya sendiri. Tidak semua orang pula mampu merasa puas bercerita pada Tuhan. Terkadang ada beberapa jiwa yang masih membutuhkan seorang teman untuk bercerita. Bila itu yang kalian butuhkan, bila itu yang kalian inginkan, lakukan! 

Carilah teman terdekat, pendengar terbaik, dan seseorang yang mampu memberikan pelukan atas lelahmu. Carilah mereka bila itu mampu membuat diri kita menjadi lebih baik, perasaan menjadi lebih lega. Mengapa tidak?

Bukankah hanya kita yang tahu apa yang kita inginkan dan butuhkan?


 2.       Menangislah!


Jangan terlalu takut dikatakan cengeng dan sejenisnya. Terkadang airmata adalah bentuk kata yang  tidak sempat diucapkan oleh bibir. Terkadang menangis sama saja melepas semua beban yang selama ini membuat dadamu sesak olehnya. 

Tidak perlu merasa lemah, bukankah setelah airmata tumpah maka ada kuat di kemudian hari?


 3.       Sempatkan diri untuk berbahagia


Lakukan apa yang kamu suka, lakukan selama itu adalah hal positif yang membuatmu bahagia. Jangan berpikir mengakhiri hidup sama saja mengakhiri permasalahanmu, tentu tidak. Mengakhiri hidupmu dengan segala beban yang ada, hanya akan membawa masalah baru bagi orang-orang yang menyayangimu. Ingatlah, bahwa banyak orang yang mengharapkanmu selalu bersinar, banyak orang yang menunggumu bahagia bersamanya. Kita tidak hidup sendirian, ada banyak orang juga yang akan terus berada di jalan yang sama denganmu untuk sekadar membuatmu kuat beridri lagi.
Banyak hal indah di dunia, banyak hal yang mengasyikkan yang bisa kamu lakukan untuk membuat harimu lebih indah. Bila kamu suka bernyanyi, lakukan! Bila kamu suka travelling, lakukan! Bila kamu suka menari, lakukan! 

Lakukanlah segala hal positif untuk membuatmu bangun dari segala masalah yang memberatkan.


 4.       Jangan pikirkan bahwa bebanmu adalah yang terberat


Di luar sana masih ada banyak cerita yang lebih berat, banyak cerita yang jauh lebih menyiksa dari yang kamu rasakan. Berhentilah merasa bahwa hanya kamulah orang yang menderita. Percayalah bahwa Tuhan akan selalu adil atas semua sedih yang kini terjadi padamu. Percayalah bahwa Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan akan selalu memberi pelangi atas segala badai yang umat-Nya terima. Bukan kamu yang paling menderita, sayang.


 5.       Dekatkan diri dengan Tuhan


Apapun agamamu, pasti tetap ada cara mendekatkan diri pada Tuhan. Tuhan akan selalu hadir di dalam hidup kita, akan selalu hidup di hati kita, akan selalu ada dimanapun kita berada. Tuhan tidak akan tinggal diam dengan memberi hujan tanpa pelangi setelahnya. Tuhan akan selalu memberi manis atas pahit yang membawa tangis. Tuhan tidak akan pernah lupa pada hamba-Nya yang menangis memohon pada-Nya.

Ingatlah, kamu tidak pernah cukup berdosa untuk meminta maaf atas semua masa lalumu di dunia. Pun juga Tuhan tidak pernah lelah mendengar tangismu. Tuhan akan selalu bersenang mendengar kamu bercerita dan Tuhan akan selalu membalas segala susah dengan bahagia. Kamu hanya perlu lebih dekat pada-Nya kemudian percaya bahwa Tuhan bisa melakukan apa saja hanya untuk membuatmu bahagia di kemudian hari.


Selain lima hal di atas, kita juga harus bersikap baik dalam menanggapi segala hal yang terjadi pada orang lain. Kita bukanlah mereka yang menderita sakit, sehingga kita harus berhenti memaksa mereka bahagia dan baik-baik saja dengan cara kita. Kita mungkin bisa memberi saran untuk mereka berbahagia, tetapi ingatlah sekali lagi bahwa mereka bukanlah diri kita. Berhentilah menganggap ‘alay’ seseorang yang meluapkan sedihnya melalui media sosial. Karena sebenarnya merekalah yang membutuhkan pengakuan dari dunia maya. Merekalah yang merasa kesepian, yang membutuhkan perhatian demi perhatian meskipun kecil.

Di dunia, ada dua jenis orang yang memilih jalan bahagia dengan caranya. Ada orang yang memilih mundur dari sosial medianya, menikmati bahagia demi bahagia yang dirasa lebih nyata. Membuka matanya untuk merasakan segala kehadiran orang-orang yang lebih peduli di lingkungan sekitarnya. Dan ada pula pribadi yang justru memilih membuka dirinya di sosial media. Mereka memilih meluapkan segala gundah melalui instagram, twitter, facebook, atau bahkan video youtube. Mereka membiarkan cerita mereka menjadi konsumsi publik, atasu mereka sekadar membagikan quotes-quotes yang menguatkan.

Keduanya adalah bentuk bahagia yang ditempuh dengan cara yang berbeda. Tidak ada yang salah, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kebahagiaan seseorang berbeda-beda, kita tidak bisa menyamakan diri kita dengan orang lainnya. Kita tidak bisa memaksa orang terus menjadi sama seperti masa lalunya, kita tidak bisa memaksa seseorang tetap baik-baik saja dengan keadaannya, kita tidak bisa mengatakan seseorang lemah dengan perasaannya. Justru mereka yang lemahlah perasaannya adalah orang yang kuat dalam menghadapi permasalahan hidupnya.

Ingatlah bahwa kita tidak mampu menyamakan diri kita dengan orang lain karena kita dan mereka adalah berbeda, adalah dua raga yang dihuni dua jiwa yang berbeda.

Please, open your eyes!

Tetaplah menjadi pendengar yang baik, tetaplah menjadi orang dengan senyuman yang hangat, dan pelukan yang orang teruntuk mereka yang membutuhkan dukungan dari kita.


Satu hal lagi, jangan lupa bahagia! 

Comments

Popular Posts